Perkembangan Budaya Sunda di Pulau Bali

  • 14 Agt 2024 01:35 WIB
  •  Jakarta

KBRN, Jakarta : Gamelan Sunda terkenal sebagai musik terapi penenang jiwa. Lembut, halus dan mendayu, sangat pas disajikan dalam bentuk audio. Gamelan Bali tersohor akan ritmenya yang sangat cepat dan keras, selalu di sajikan dalam bentuk pergelaran, karena cara memainkanya juga mengekspor gerakan untuk penanda tempo dan volume.

Beda penyajian bahkan beda cara menikmatinya, tetapi keduanya berkumpul menjadi satu pertunjukan, baik di Jawa Barat maupun di Bali, tempat kedua gamelan itu berasal. Selasa, 13 Maret 2024, dari Studio Pro 4 Gedung Depan LPP RRI Jakarta, pukul 20.15 WIB, Apdaur, Apresiasi Budaya Sunda menghadirkan narasumber Dr. Hendra Santosa, S.S. Kar., M.Hum., Lektor Kepala Institut Seni Indonesia Denpasar untuk membahas dari sisi Perkembangan Budaya Sunda di Pulau Bali.

Bajidor Kahot, sebuah sajian tari pengembangan dari ragam tari Bajidoran dari Karawang dengan bentuk iringan karya Wawan Hendrawan atau yang dikenal dengan Abah Awan Metro, memadukan Gamelan Sunda dan Gamelan Bali. Tari Bajidor Kahot sangat terkenal sejak tahun 2002 sampai sekarang ini. Begitu juga keberadaan Kendhang Jaipong sangat terkenal di seantero Indonesia. Salah satunya di Bali sebagai alat musik baru untuk mengiringi Tari Bungbung. “Kendhang Sunda mempunyai pola yang berbeda, sedangkan Kendhang Bali mengikuti melodi gamelannya, maka saya bebaskan mereka menggunakan instingnya sendiri dalam menggunakan Kendhang Sunda dalam pola Gamelan Bali.” kata pengajar Mata Kuliah Musik Nusantara Gamelan Sunda, menyikapi harmoni Gamelan Sunda dan Gamelan Bali.

Harmoni yang sama juga ditunjukkan dalam bentuk pertunjukan Joget Bungbung dengan Tari Jaipong. Joged Bungbung pada awalnya adalah tarian pergaulan yang diciptakan oleh rakyat untuk menghibur dikala isturahat. Sedangkan Tari Jaipong juga muncul dari gabungan beberapa tarian rakyat, yang fungsinya juga untuk menghibur. Dalam perkembanganya, baik Joged Bungbung maupun Tari Jaipong sama-sama menerima tanda kasih dari penontonnya, yang sekarang dikenal dengan saweran.

Menyamakan, membuat harmoni sebuah unsur budaya yang dulu dari warisan yang sama. “Aya gerak-gerak namina Bale ganjur eta aya pola jaipongan. Urang teh dibali sama sunda seer sami pisan. Gunung Salak, aya Pure Gunung Salak, ternyata tina kecap sareng Salakanagara. Sanes gunung buah Salak.” tutup bapak Lektor Kepala ISI Denpasar menegaskan unsur kesamaan dua wilayah budaya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....