Nonton Bareng (NoBar) Online Film Laut Bercerita

  • 26 Jan 2024 10:36 WIB
  •  Surabaya

KBRN, Surabaya: Kegiatan nonton bareng (nobar) online baru pertama kali dilaksanakan pada Selasa, 23 Januari 2024 pukul 19.00 WIB via ZOOM yang berdurasi 30 menit.

Kegiatan nobar online ini dilaksanakan setelah adanya nobar offline yang sudah dilakukan selama 10 kali pada lokasi seperti di berbagai Universitas ternama yang ada di Indonesia, Gedung Kompas Gramedia, Balai Purnomo Prawiro, dan berbagai Kota-Kota lain (Jakarta, Bali, Yogyakarta). Kegiatan ini diselenggarakan oleh Penerbit KPG (@penerbitkpg).

Kali ini Penerbit KPG tidak hanya mengundang Ibu Leila Chudori selaku Penulis Novel dan Skenario, dan Ibu Pritagita Arianegara beserta Ibu Gita Fara selaku Produser, namun juga mengundang Bapak Usman Hamid selaku Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia. Jalannya acara nobar online tersebut dipimpin oleh Bapak Rane Hafied selaku Moderator & Podcaster.

Deretan nama yang dikenal atau sosok dibalik Film Laut Bercerita ini yakni ada Dian Sastrowardoyo (@therealdisastr), Christina M. Udiani (@cinedipune), dan Wisnu Darmawan (@wisnu_darmawan). Ibu Leila Chudori mengungkapkan rasa terima kasih nya lewat keterangan (caption) di postingan feed Instagram (@leilachudori) “Terima kasih paling mendalam untuk mereka yang bersedia ikut war-ticket dan mengikuti seluruh acara hingga selesai.”

Ibu Leila Chudori membagikan postingannya (flyer) “NOBAR ONLINE #1 LAUT BERCERITA” pertama kali pada tanggal 16 Januari 2024 Ia mengumumkan untuk segera bersiap-siap mendaftar yang akan dibuka pada Kamis, 18 Januari 2024 pukul 10.00 WIB di laman web Loket.com, dan diminta untuk memantau terus karena tautan pendaftaran akan diinformasikan pada hari H di akun Instagram @penerbitkpg, @leilachudori, dan @chudoricorner.

Besarnya antusias peserta maupun penggemar Film Laut Bercerita, tidak sampai sehari tiket nobar online tersebut sudah habis (sold out). Diperkirakan 2600 an peserta hadir menyaksikan film pendek arahan sutradara Prita Arianegara yang diproduksi Yayasan Dian Sastrowardoyo dan Cineria Films yang tayang pertama kali pada tanggal 12 Desember 2017 dengan menemani peluncuran novel ini. Peserta maupun penggemar Laut Bercerita pastinya sangat antusias karena nobar ini diadakan secara online dan bukan offline, karena bisa diikuti dari mana saja.

Berikut ungkapan dari netizen-netizen yang mengikuti nobar online Film Laut Bercerita. Instagram (@yenyputric) mengatakan “Saya terbantu tercerahkan dengan buku ini untuk tidak memilih yang tidak layak untuk dipilih. Sampai-sampai ketika itu saya menyuarakan fakta Sejarah peristiwa 98 di Instagram, saya kerap medapat replay pesan melalui DM dan dikata-katai ‘sok elitis’ ‘sumbu pendek’ ‘black campaign’ dan semacamnya.” (@hanifaah2) mengatakan “Satu hal yang saya tangkap dari perkataan mbak Leila Chudori terkait maraknya pesta pemilu saat ini, kalau anak muda harus sangat bijak dalam memilih, dibaca-baca lagi rekam jejak paslonnya, apa yang sudah mereka perbuat, bagaimana mereka merespon kebutuhan masyarakatnya, bagaimana mereka merespon isu-isu sosial, dan lain-lain.”

“Meski novel Laut Bercerita dan film pendek “Laut Bercerita adalah kisah fiksi” tetapi pengalaman penculikan para aktivis serta aktivitas Aksi Kamisan serta rasa kehilangan keluarga atas anak-anak mereka yang belum Kembali adalah “hal yang nyata” yang setiap hari didengungkan dan bukan isu 5 tahun sekali. Sebagai salah satu anggota Kontras (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan) dan kini Direktur Amnesty International Indonesia, Usman dengan lancar menjelaskan secara lengkap dengan tanggal, tahun, dan nomor keputusan juga UU serta Konvensi – keputusan pemerintah terhadap mereka yang menculik (pemecatan dan seterusnya), dan seberapa jauh pemerintah Indonesia telah melaksanakan rekomendasi dari Tim Pencari Fakta.

Dengan mendengarkan penjelasan Usman, para penonton/pembaca mengaku terbuka matanya dan paham mengapa ini adalah “bagian dari Sejarah Indonesia yang belum selesai,” ungkap sang penulis lewat keterangan (caption) Instagramnya (@leilachudori).

Menurutnya, yang utama adalah visi harus sama antara kami, tim laut, dan juga produser. Jangan hanya mengungkapkan kisah cintanya, namun terkadang ada produser yang ingin mudah-mudah saja. Sementara sudah sangat jelas Laut Bercerita bukan romance story, karena romance story merupakan bagian yang kecil dari keseluruhan cerita tersebut. This is about para aktivis yang hilang dan juga menasib keluarganya yang menanti, itulah fokus cerita tersebut.

"Dan kisah cinta itu benar-benar sedikit saja yang harus tetap menjadi bagian kisah ini. Lebih membingungkan lagi pada saat pandemi karena Generasi Z yang membaca novel Laut Bercerita, yang benar-benar sama sekali tidak mengerti dunia analog, mereka tidak mengerti telefon (fax phone),” ujar sang penulis Leila Chudori melalui pesannya dalam ZOOM.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....