Madani Film Festival 2026 Hadirkan Gagasan Islam Modernis ala Asrul Sani
- 05 Okt 2026 22:55 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Madani Film Festival 2026 mengangkat Islam dalam kehidupan sehari-hari, bukan sekadar doktrin atau ajaran.
- Festival Film Madani membuka ruang bagi komunitas dengan gerakan sederhana tetapi membawa gagasan besar melalui film dan seni.
- Hikmat Darmawan menyoroti pentingnya dukungan pemerintah dan masyarakat untuk menjaga keberlanjutan ruang seni di Jakarta.
RRI.CO.ID, Jakarta - Madani Internasional Film Festival 2026 mengangkat pemikiran Islam modernis ala sastrawan Asrul Sani sebagai pijakan. Festival tersebut menghadirkan film dan gagasan yang melihat Islam melalui pengalaman keseharian masyarakat, bukan sekadar doktrin atau ajaran.
Kritikus film Hikmat Darmawan mengatakan festival membangun ruang aman sejak sembilan tahun lalu untuk mempertemukan gagasan dan karya. Menurutnya, gagasan tersebut kini dirumuskan melalui empat pilar yang menjadi subprogram dengan dua payung utama penyelenggaraan festival nasional.
"Pilar Living Islam melihat Islam hidup sehari-hari, bukan Islam buku, kitab, doktrin, tetapi pengalaman masyarakat dunia. Film-filmnya bisa berasal dari Eropa, Amerika, Sahel, Asia Tenggara, Selandia Baru, hingga pelosok Indonesia sendiri," ujarnya dalam konferensi pers Madani Film Internasional Festival 2026: RIMPANG, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Senin, 5 Oktober 2026.
Ia menjelaskan Living Islam menjadi pijakan untuk melihat bagaimana nilai keislaman hadir dalam kehidupan masyarakat secara beragam dan lokal. Festival membuka ruang bagi film dari berbagai negara untuk memperlihatkan pengalaman Islam yang dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari.
Pendekatan tersebut juga membuat festival tertarik menemukan komunitas kecil yang membawa gagasan besar melalui gerakan dan karya seni. Salah satunya Isah Sagu dari Papua yang mengangkat isu kolonisasi pangan dan posisi sagu sebagai pangan masyarakat adat.
"Kami senang menemukan kawan-kawan yang kelihatannya sekarang kecil, tetapi barangkali gagasannya besar, gerakannya juga kecil. Misalnya Isah Sagu dari Papua, menggambarkan kolonisasi pangan dan menyingkirkan sagu sebagai pangan masyarakat adat lewat seni," ujarnya.
Menurutnya, karya komunitas seperti Isah Sagu menunjukkan seni dapat menjadi medium untuk membicarakan persoalan pangan dan identitas. Festival juga berupaya mempertemukan berbagai pengalaman warga melalui film, seni, serta gagasan yang tumbuh dari kehidupan sehari-hari masyarakat.
Di sisi lain, ia menyoroti pentingnya dukungan pemerintah daerah, dan masyarakat untuk menjaga keberlangsungan ruang aman kebudayaan. Menurutnya, ekosistem seni Jakarta terus menghadapi tantangan sumber daya, sementara Madani bertahan selama sembilan tahun dalam ekosistem tersebut.
"Saya nggak harusnya di sini, tapi ada masalah mendesak yaitu kesadaran pemerintah, pemprov, masyarakat menjaga ruang aman. Ekosistem seni banyak berada di Jakarta, dan Madani salah satunya, Madani sudah sembilan tahun," ujarnya.
Ia berharap Madani tidak mengalami nasib seperti Jakarta Biennale yang memperoleh anggaran pemerintah sebesar nol koma satu persen. Ia menilai dukungan bersama diperlukan karena ruang seni merupakan bagian ekosistem yang dapat memperkuat kekuatan warga secara berkelanjutan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....