Mellody Arben Sebut Jakstrings Satukan Tiga Generasi Komponis

  • 29 Agt 2026 21:30 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Festival mempertemukan tiga generasi komponis Indonesia, mulai Generasi Perintis, Transisi, hingga Kontemporer Eksploratif.
  • Festival mempertemukan tiga generasi komponis Indonesia, mulai Generasi Perintis, Transisi, hingga Kontemporer Eksploratif.
  • Jakstrings membuka ruang pertunjukan dan dokumentasi bagi karya musik kontemporer Indonesia, khususnya instrumen bersenar solo dan ansambel.

RRI.CO.ID, Jakarta - Chamber Music Festival 2026 bertajuk 'Jakstrings' menghadirkan eksplorasi musik melalui instrumen cello, gitar enam senar, dan piano. Program tersebut mempertemukan tiga generasi komponis Indonesia untuk membaca kembali perkembangan musik modern hingga eksplorasi kontemporer.

Anggota Komite Musik DKJ, Mellody Arben mengatakan Jakstrings mengangkat keberagaman gagasan musikal. Festival tersebut menghadirkan Generasi Perintis, Generasi Transisi, serta Generasi Kontemporer Eksploratif dalam satu ruang pertunjukan musik.

"Harapannya, cello, gitar, dan piano tidak lagi dipandang sebagai instrumen Barat yang memainkan repertoar klasik Barat semata. Ketiga instrumen tersebut dapat menjadi medium bernyawa untuk membaca, menafsirkan, sekaligus memperkaya pengalaman musikal Nusantara," katanya saat konferensi pers Chamber Music Festival 2026, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Sabtu, 29 Agustus 2026.

Menurutnya, pertemuan tiga generasi komponis memberikan gambaran perjalanan pemikiran musik Indonesia dari masa ke masa secara lebih utuh. Generasi Perintis menjadi penggerak pemikiran musik modern, sedangkan Generasi Transisi menjembatani tradisi dengan pembaruan bahasa musikal.

Sementara itu, generasi Kontemporer Eksploratif memperluas batas medium, teknologi, dan ruang pertunjukan dalam perkembangan musik Indonesia masa kini. Pendekatan tersebut membuat Jakstrings tidak hanya menampilkan karya, tetapi juga membuka ruang dialog antargagasan musikal lintas generasi.

"Program ini berangkat dari kesadaran bahwa karya musik kontemporer Indonesia masih terbatas ruang pertunjukannya hingga sekarang. Kondisi tersebut terutama terlihat pada karya instrumen bersenar solo maupun ansambel yang belum terdokumentasikan secara utuh," ucap Ketua Komite Musik DKJ, Muhammad Taufiq.

Ia menilai, dokumentasi dan ruang pertunjukan menjadi bagian penting untuk memperkuat ekosistem musik kontemporer Indonesia secara berkelanjutan. Melalui Jakstrings, karya musik bersenar mendapat ruang untuk dikenalkan kepada publik dalam kerangka kuratorial yang lebih terarah.

Festival ini sekaligus menjadi kesempatan bagi musisi dan komponis mempertemukan karya dengan pendengar melalui pendekatan musik yang lebih segar. Eksplorasi cello, gitar enam senar, dan piano diharapkan membuka cara pandang baru terhadap instrumen dalam konteks Nusantara.

Jakstrings 2026 menjadi bagian dari upaya memperluas apresiasi terhadap musik kontemporer Indonesia melalui kolaborasi lintas generasi dan medium. Program tersebut diharapkan dapat memperkuat dokumentasi sekaligus menghadirkan pengalaman musikal Nusantara yang lebih dekat dengan publik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....