Samuel Moring: Alam Jadi Napas Budaya Masyarakat Adat Kalimantan
- 01 Agt 2026 10:46 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Samuel Moring menegaskan warisan leluhur masyarakat adat Kalimantan bertumpu pada tiga unsur, yaitu wilayah adat, seni budaya, dan sejarah.
- Karya budaya masyarakat adat lahir dari hubungan erat dengan alam, menghasilkan beragam bentuk seni seperti musik, tarian, sastra, dan seni rupa.
- Dominikus Uyub mengingatkan kerusakan lingkungan dapat memicu hilangnya tradisi, sehingga pelestarian alam menjadi kunci menjaga identitas budaya masyarakat adat.
RRI.CO.ID, Jakarta - Masyarakat adat Kalimantan memiliki cara khas dalam melahirkan karya budaya dengan menjadikan alam sebagai sumber inspirasi utama. Budayawan Muda Dayak Punan Hovongan, Samuel Moring mengatakan hubungan tersebut telah diwariskan oleh para leluhur secara turun-temurun.
Ia menjelaskan warisan leluhur memiliki tiga unsur utama, yakni wilayah adat, seni budaya, serta sejarah yang saling berkaitan. Ketiga unsur tersebut menjadi landasan masyarakat adat mempertahankan identitas sekaligus mewariskan nilai kehidupan kepada generasi penerus bersama.
"Warisan leluhur menurut saya terdiri dari tiga unsur, yaitu wilayah adat, seni budaya, dan sejarah," ujar dalam konferensi pers Sehari Rasa Kapuas: Suara Tanah Kita, Dialogue Artspace, Jakarta Selatan, Jumat malam, 31 Juli 2026. Ia menilai seluruh unsur tersebut saling melengkapi dalam menjaga keseimbangan kehidupan masyarakat adat dengan alam yang diwariskan leluhur.
Menurutnya, wilayah adat menyimpan banyak tempat yang disakralkan dan tidak boleh dieksploitasi secara sembarangan oleh siapa pun. Aturan tersebut diwariskan melalui tradisi lisan dan dipatuhi masyarakat tanpa harus dituangkan dalam dokumen tertulis maupun peraturan.
Ia mengatakan pengetahuan masyarakat terus berkembang selama mereka menetap dan berinteraksi dengan lingkungan dalam kehidupan sehari-hari bersama. Proses tersebut kemudian melahirkan beragam karya budaya berupa musik, tarian, sastra lisan, sastra tulis, hingga seni rupa tradisional.
Ia menambahkan setiap karya budaya yang lahir menjadi bukti panjangnya perjalanan masyarakat adat dalam menjaga hubungan dengan lingkungan sekitarnya. Menurutnya, sejarah keberadaan suatu komunitas juga tercermin melalui kekayaan budaya yang masih bertahan hingga sekarang.
Sementara itu, Budayawan Kapuas Hulu, Dominikus Uyub, mengatakan perubahan lingkungan akan selalu diikuti perubahan sosial dan kebudayaan masyarakat adat. Menurutnya, kelestarian budaya tidak dapat dipisahkan dari keberadaan hutan sebagai ruang hidup masyarakat adat selama bertahun-tahun.
Ia mencontohkan sejumlah komunitas adat mulai kehilangan tradisi setelah kawasan hutan berubah akibat masuknya berbagai aktivitas pembangunan dan industri. Ia mengaku pernah menyaksikan masyarakat yang tidak lagi memainkan alat musik tradisional karena lingkungan hidup mereka berubah.
"Perubahan lingkungan secara perlahan ikut mengubah pola hidup, pekerjaan, hingga kebiasaan masyarakat dalam menjalankan tradisi budaya sehari-hari. Kondisi tersebut menjadi peringatan bahwa kerusakan alam juga membawa dampak besar terhadap keberlangsungan identitas budaya masyarakat adat," ujarnya.
Ia berharap pelestarian lingkungan dilakukan seiring dengan upaya menjaga budaya agar warisan leluhur tetap hidup lintas generasi mendatang. Baginya, menjaga alam berarti menjaga sejarah, pengetahuan, dan jati diri masyarakat adat Indonesia secara berkelanjutan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....