Ine Martha Hidupkan Tradisi Telima dalam 'Suara Tanah Kita'
- 01 Agt 2026 10:00 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Tradisi lisan Telima menjadi bagian penting dalam lagu "Suara Tanah Kita" sebagai doa, ungkapan syukur kepada Tuhan, serta pesan menjaga alam dan warisan leluhur.
- Ine Martha Haran mengajak generasi muda meneruskan amanah leluhur dengan melestarikan budaya, menjaga tanah kelahiran, dan merawat lingkungan.
- Samuel Moring menegaskan warisan leluhur mencakup wilayah adat, seni budaya, dan sejarah yang menjadi fondasi identitas masyarakat adat serta melahirkan beragam karya budaya yang menyatu dengan alam.
RRI.CO.ID, Jakarta - Penutur Sastra Lisan Dayak Kayan, Ine Martha Haran turut memperkaya lagu kolaboratif 'Suara Tanah Kita' melalui lantunan tradisi lisan. Ia membawakan Telima, sastra lisan yang berisi doa serta ungkapan syukur kepada Tuhan sebagai warisan budaya leluhur.
Ia menjelaskan Telima menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Dayak Kayan. Hal itu dikarenakan Telima memiliki sarat dengan nilai spiritual dan penghormatan kepada Sang Pencipta.
Ia menjelaskan, tradisi tersebut juga mengajarkan rasa syukur sekaligus mengingatkan manusia untuk menjaga hubungan harmonis dengan alam. "Telima merupakan tradisi lisan masyarakat Dayak Kayan yang berisi doa dan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan," katanya dalam konferensi pers Sehari Rasa Kapuas: Suara Tanah Kita, Dialogue Artspace, Jakarta Selatan, Jumat malam, 31 Juli 2026.
Menurutnya, pesan itu diwariskan turun-temurun sebagai pedoman hidup bagi setiap generasi penerus masyarakat adat. Ia mengatakan para leluhur selalu berpesan agar generasi muda menjaga seluruh warisan yang dititipkan dengan penuh tanggung jawab.
Nilai tersebut tidak hanya berkaitan dengan budaya, tetapi juga mencakup pelestarian alam yang menjadi sumber kehidupan masyarakat adat. Melalui pesan dalam Telima, ia berharap generasi penerus mampu melanjutkan amanah leluhur untuk menjaga budaya, dan tanah kelahirannya.
"Warisan leluhur harus terus hidup. Agar identitas masyarakat adat tetap terpelihara di tengah perubahan zaman," ujarnya.
Budayawan Muda Dayak Punan Hovongan, Samuel Moring menyoroti sebuah karya masyarakat adat Kalimantan selalu berhubungan dengan alam. Menurutnya, keterikatan tersebut membentuk identitas budaya sekaligus menjadi fondasi utama dalam menjaga warisan leluhur hingga sekarang.
Ia menjelaskan warisan leluhur memiliki tiga unsur utama, yakni wilayah adat, seni budaya, serta sejarah yang saling berkaitan. Ketiga unsur tersebut menjadi landasan masyarakat adat mempertahankan identitas sekaligus mewariskan nilai kehidupan kepada generasi penerus.
Menurutnya, wilayah adat menyimpan banyak tempat yang disakralkan dan tidak boleh dieksploitasi secara sembarangan oleh siapa pun. Aturan tersebut diwariskan melalui tradisi lisan dan dipatuhi masyarakat tanpa harus dituangkan dalam dokumen tertulis maupun peraturan.
"Warisan leluhur menurut saya terdiri dari tiga unsur, yaitu wilayah adat, seni budaya, dan sejarah," katanya. Ia menilai seluruh unsur tersebut saling melengkapi dalam menjaga keseimbangan kehidupan masyarakat adat dengan alam yang diwariskan leluhur.
Ia juga mengatakan pengetahuan masyarakat terus berkembang selama mereka menetap dan berinteraksi dengan lingkungan dalam kehidupan sehari-hari. Proses tersebut kemudian melahirkan beragam karya budaya, mulai musik, tarian, sastra lisan, sastra tulis, hingga seni rupa tradisional.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....