Film 'Monster Pabrik Rambut' Andalkan Efek Praktikal dan Minimalkan Penggunaan CGI
- 08 Jun 2026 16:50 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Sutradara Edwin mengungkapkan hampir 90 persen adegan horor dan fantasi dalam Monster Pabrik Rambut dibuat menggunakan practical effect.
- Film ini mengusung nuansa visual ala film fantasi era 1980-an dengan teknik Digital-to-Film-to-Digital (DFD).
- Sosok monster dalam film terinspirasi dari komik Indonesia era 1980-an, termasuk Petruk Gareng karya Tatang S.
RRI.CO.ID, Jakarta - Film Monster Pabrik Rambut menghadirkan pendekatan berbeda dibandingkan kebanyakan film horor Indonesia. Sekitar 90 persen adegan dan horor dalam film dibuat menggunakan efek praktikal, sehingga tidak bergantung sepenuhnya pada CGI.
Pendekatan tersebut dipilih untuk menciptakan pengalaman visual yang lebih nyata bagi penonton. Berbagai elemen fantasi, mulai dari monster hingga rambut yang bergerak sendiri, dibuat secara fisik selama proses produksi.
“Hampir 90 persen practical. Untuk monsternya misalnya, itu ada orang di dalamnya. Lalu kami juga banyak menggunakan teknik sling,” kata sang Sutradara Edwin dalam keterangan tertulis, Senin, 8 Juni 2026.
Ia menjelaskan rambut-rambut yang tampak bergerak dalam film juga dibuat menggunakan teknik khusus. Sejumlah adegan direkam di dalam air agar pergerakannya terlihat lebih halus dan alami.
“Rambut-rambut yang bergerak itu juga direkam di dalam air agar pergerakannya lebih halus. Penggunaan komputer sifatnya lebih pada penggabungan semuanya untuk membuatnya menjadi lebih organik,” ujarnya.
Tak hanya mengandalkan practical effect, Monster Pabrik Rambut juga menghadirkan nuansa visual yang terinspirasi film-film fantasi era 1980-an. Untuk memperkuat kesan tersebut, tim produksi menggunakan teknik Digital-to-Film-to-Digital (DFD).
Melalui proses ini, gambar yang direkam secara digital dicetak ke pita seluloid sebelum dipindai kembali ke format digital. Teknik tersebut menghasilkan tekstur visual yang menyerupai film-film klasik dengan karakter gambar yang lebih organik.
Sementara itu, penulis skenario Eka Kurniawan mengungkapkan inspirasi monster dalam film ini berasal dari komik-komik Indonesia era 1980-an. Salah satu referensinya adalah sosok-sosok unik dan grotesk yang muncul dalam komik Petruk Gareng karya Tatang S.
Inspirasi tersebut kemudian dikembangkan Edwin menjadi dunia horor fantasi yang berbeda dari film horor pada umumnya. Alih-alih mengandalkan jump scare atau mitologi populer, film ini membangun ketegangan melalui visual absurd dan karakter yang hidup di antara realitas serta fantasi.
Eksperimen visual juga terlihat pada bagian akhir film. Edwin memadukan bahasa sinema dengan estetika komik melalui penggunaan warna-warna cerah dan komposisi gambar yang ekspresif.
Perpaduan unsur horor, fantasi, dan komik tersebut membuat Monster Pabrik Rambut tampil dengan identitas visual yang unik. Film ini sekaligus menawarkan pengalaman menonton yang berbeda dari kebanyakan film horor Indonesia yang beredar saat ini.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....