Film 'Monster Pabrik Rambut' Angkat Horor Overwork dan Eksploitasi Pekerja

  • 01 Jun 2026 23:53 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Film Monster Pabrik Rambut mengangkat isu sosial seperti overwork dan eksploitasi kerja melalui pendekatan body horror dan fantasi.
  • Sutradara Edwin dan penulis Eka Kurniawan menyebut horor dalam film lahir dari ketakutan sehari-hari dan sistem kerja modern.
  • Film ini world premiere di Berlinale 2026 dan akan tayang di Indonesia mulai 4 Juni 2026.

RRI.CO.ID, Jakarta - Film horor Monster Pabrik Rambut mengangkat isu sosial yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti budaya kerja berlebihan. Isu tersebut dikemas lewat pendekatan fantasi dan body horror yang menjadi elemen utama dalam film garapan sutradara Edwin.

Edwin menjelaskan bahwa horor sejak awal memang kerap digunakan sebagai medium kritik sosial. Menurutnya, ketakutan dalam film horor lahir dari keresahan manusia terhadap situasi nyata yang terjadi di masyarakat.

“Ketika kita membicarakan isu sosial yang kontekstual, khususnya overwork dan sistem yang tidak manusiawi lagi dalam cara kita bekerja. Itu sendiri sudah menjadi sebuah model besar untuk diterjemahkan ke dalam film horor,” kata Edwin dalam sesi konferensi pers film Monster Pabrik Rambut di XXI Epicentrum, Jakarta, Senin 1 Juni 2026.

Ia mencontohkan film-film klasik seperti Dracula hingga Nosferatu yang muncul sebagai respons terhadap perubahan sosial pada era revolusi industri. “Dari sejarah film horor pun lahir karena ketakutan-ketakutan yang muncul dari keseharian, dari sistem,” ujarnya.

Sementara itu, penulis skenario Eka Kurniawan menyebut ide film ini lahir dari keresahan terhadap realitas kerja yang dekat dengan masyarakat. Ia dan Edwin sejak awal ingin membuat film horor yang tidak bergantung pada mitologi atau sosok gaib, melainkan dari pengalaman hidup sehari-hari.

“Sehidup sehari-hari juga bisa cukup sangat horror. Pekerjaan kita kan macam-macam ya,” kata Eka.

Menurut Eka, aktivitas rutin seperti bekerja, lembur, hingga interaksi manusia dengan benda-benda di lingkungan kerja bisa menjadi sesuatu yang menakutkan. Proses produksi wig dan suasana pabrik dalam film menjadi medium untuk menggambarkan rasa takut tersebut.

“Buat kami ketika film selesai ditonton, kita pengen apa yang kita lihat itu terus kepikiran. Kita hubungkan dengan kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Ia juga menjelaskan bahwa benda-benda yang muncul di film sengaja ditampilkan untuk membangun ketegangan visual. Menurutnya, benda-benda dalam proses kerja tidak hanya membantu manusia bekerja, tetapi juga menghadirkan rasa takut dan tekanan tersendiri.

“Manusia tidak cuma memanipulasi benda-benda itu untuk kebutuhan kerja saja. Tapi bagaimana benda-benda itu dalam proses kerja memberi kita ketakutan,” kata Eka.

Selain mengangkat tema eksploitasi kerja, Edwin juga menjelaskan alasan memilih rambut sebagai elemen utama dalam cerita. Menurutnya, rambut memiliki hubungan erat dengan kondisi fisik dan mental manusia.

“Rambut sendiri buat saya spesial. Ketika kita stres, rambut rontok, tiba-tiba memutih, jadi respons tubuh itu langsung kelihatan dari rambut,” kata Edwin.

Ia menilai rambut menjadi simbol yang kuat untuk menggambarkan tekanan kerja dan eksploitasi manusia dalam sistem kapitalisme modern. “Rambut-rambut ini bisa dipakai sebagai simbol persoalan atau problem sistemik di sistem kapitalis kita,” ujarnya.

Film Monster Pabrik Rambut sebelumnya telah menjalani world premiere di Berlinale 2026. Selain disutradarai Edwin, film ini diproduseri Meiske Taurisia dan Muhammad Zaidy, dengan naskah yang ditulis Eka Kurniawan.

Film ini diperankan Rachel Amanda, Lutesha, Iqbaal Ramadhan, Kev, Sal Priadi, hingga Didik Nini Thowok. Monster Pabrik Rambut dijadwalkan tayang di Indonesia mulai 4 Juni 2026.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....