Nunus Supardi Soroti Hilangnya Puluhan Piringan Hitam Hibah dari Prancis

  • 09 Mei 2026 06:30 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Nunus Supardi menyoroti hilangnya sekitar 80 keping piringan hitam hibah dari pemerintah Prancis kepada Indonesia.
  • Piringan hitam tersebut disebut berkaitan dengan ketertarikan Claude Debussy terhadap musik gamelan Indonesia setelah mendengar pertunjukan di Paris.
  • Dewan Kurator Galeri Nasional Indonesia, Citra Smara Dewi menilai Galeri Nasional perlu sejajar dengan Museum Nasional Indonesia dalam menyimpan dokumentasi pengetahuan seni rupa.

RRI.CO.ID, Jakarta - Pemerhati Budaya, Nunus Supardi menyoroti hilangnya puluhan piringan hitam hibah dari pemerintah Prancis kepada Indonesia. Koleksi tersebut diketahui berisi rekaman musik piano yang terinspirasi dari bunyi gamelan Indonesia.

Ia mengatakan keberadaan piringan hitam hibah tersebut menjadi tanda tanya hingga sekarang. Hal itu diketahui setelah dirinya membandingkan data hibah karya seni dengan koleksi yang masih tersimpan saat ini.

"Saya bandingkan antara jumlah dan jenis seni yang dihibahkan dengan kenyataan yang ada. Salah satu yang sampai sekarang belum saya temukan adalah sekitar 80 keping piringan hitam hibah dari Prancis," katanya dalam diskusi Merayakan dan Merefleksikan: Masa Depan Galeri Nasional Indonesia, Galeri Nasional Indonesia, Jakarta Pusat, Jumat, 8 Mei 2026.

Ia menjelaskan, piringan hitam tersebut berkaitan dengan ketertarikan komponis asal Prancis, Claude Debussy terhadap gamelan Indonesia. Ketertarikan itu muncul setelah Debussy mendengar pertunjukan gamelan dalam pameran dunia di Paris.

Menurutnya, pengalaman tersebut membuat Debussy menciptakan aransemen musik yang unik. Hingga kemudian direkam ke dalam piringan hitam dan dihibahkan kepada Indonesia.

"Debussy terkagum-kagum mendengarkan musik gamelan. Ia sampai tidak bisa tidur," ucapnya.

Ia mengaku pernah menanyakan keberadaan koleksi tersebut kepada sejumlah pihak, termasuk pengelola museum. Namun hingga saat ini belum ada informasi pasti mengenai lokasi penyimpanan piringan hitam tersebut.

Ia menilai penelusuran terhadap koleksi hibah internasional penting dilakukan. Terutama sebagai bagian dari upaya menjaga sejarah hubungan budaya Indonesia dengan dunia internasional.

Dewan Kurator Galeri Nasional Indonesia, Citra Smara Dewi mengatakan peran Galeri Nasional seharusnya bisa sejajar dengan Museum Nasional. Hal ini dikarenakan kedua lembaga tersebut memiliki peran penting dalam menyimpan dokumentasi terkait pengetahuan seni rupa.

"Harus bisa sejajar Galeri Nasional dengan Museum Nasional Indonesia. Keduanya memiliki peran penting dalam menyimpan dokumentasi terkait pengetahuan seni rupa," ujarnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....