Pemerhati Budaya Usulkan Penguatan Peran Galeri Nasional Indonesia di Era Modern
- 08 Mei 2026 20:55 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Nunus Supardi menilai Galeri Nasional Indonesia perlu memperkuat perannya sebagai pusat seni dan kebudayaan nasional.
- Galeri Nasional Indonesia didorong mengembangkan teknologi digital, memperkuat arsitektur bangunan, serta menggali potensi koleksi dan sejarahnya.
- Kurator independen Jim Supangkat mengungkap perjuangan pendirian Galeri Nasional Indonesia sempat terkendala kebijakan pembatasan lembaga baru pemerintah.
RRI.CO.ID, Jakarta - Pemerhati Budaya, Nunus Supardi menilai Galeri Nasional Indonesia perlu memperkuat perannya sebagai pusat pengembangan seni dan kebudayaan nasional. Menurutnya, langkah tersebut penting agar Galeri Nasional Indonesia mampu sejajar dengan galeri dan museum besar di berbagai negara.
Ia mengatakan sejarah lahirnya Galeri Nasional Indonesia perlu ditempatkan sebagai bagian penting perkembangan seni rupa Indonesia. Termasuk sejarah museum seni visual pada masa kolonial Hindia Belanda.
"Kita punya Galeri Nasional yang sampai sekarang ini yang tidak terlepas dari sejarah panjang. Galeri Nasional harus menjadi wisma seni Nasional yang tetap berlanjut," ujarnya dalam diskusi Merayakan dan Merefleksikan: Masa Depan Galeri Nasional Indonesia, Galeri Nasional Indonesia, Jakarta Pusat, Jumat, 8 Mei 2026.
Ia menilai, Indonesia perlu memiliki galeri, museum, teater nasional, hingga pusat informasi budaya yang mampu menumbuhkan kebanggaan bangsa. Ia juga menyampaikan Galeri Nasional perlu mengembangkan teknologi digital untuk memperluas akses masyarakat terhadap informasi seni dan museum.
Langkah tersebut dinilai penting untuk menyesuaikan perkembangan teknologi komunikasi dan kebutuhan publik terhadap informasi budaya. "Galeri Nasional Indonesia perlu mengembangkan berbagai model baru berbasis teknologi digital agar masyarakat lebih mudah mengakses," katanya.
Ia juga meminta pengelola Galeri Nasional Indonesia menggali potensi yang dimiliki. Mulai dari keunikan koleksi, sejarah bangunan, fasilitas pendukung, hingga kualitas sumber daya manusia.
Tidak hanya itu pengembangan arsitektur bangunan Galeri Nasional Indonesia juga perlu menjadi perhatian utama. Ia menilai museum dan galeri di sejumlah negara seperti Uni Emirat Arab terus menghadirkan inovasi arsitektur yang menjadi daya tarik budaya.
"Galeri Nasional Indonesia kini dikelilingi berbagai perkembangan arsitektur modern. Karena itu, perlu diwujudkan desain bangunan yang mampu sejajar dengan negara lain," ujarnya.
Lebih lanjut, ia turut mendorong penataan ulang posisi Galeri Nasional Indonesia dalam struktur kelembagaan pemerintah. Menurutnya, langkah tersebut penting agar keberadaan galeri nasional tidak terkesan terpinggirkan dibanding lembaga serupa di negara lain.
Sementara itu, kurator independen, Jim Supangkat mengatakan proses peresmian Galeri Nasional Indonesia sempat menghadapi kendala administratif. Menurutnya, pada masa itu pemerintah tengah membatasi pembentukan lembaga baru karena beban birokrasi yang dinilai sudah cukup besar.
Ia menjelaskan dirinya pernah berdiskusi dengan Direktur Jenderal Kebudayaan saat itu, Edi Sedyawati terkait pentingnya Galeri Nasional Indonesia. Menurutnya, galeri tersebut harus diresmikan sebagai lembaga resmi milik negara.
Ia mengatakan, terdapat pengecualian dalam kebijakan pembatasan lembaga baru, yakni untuk kepentingan nasional. Kesempatan tersebut kemudian dimanfaatkan untuk memperjuangkan berdirinya Galeri Nasional Indonesia.
"Di masa itu ada larangan bahwa Indonesia tidak boleh lagi membuat badan baru. Bu Edi sangat gigih memperjuangkan Galeri Nasional Indonesia agar diakui sebagai lembaga negara," ucapnya, penuh haru.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....