Jim Supangkat Dorong Galeri Nasional Sejajar dengan Museum Nasional Indonesia

  • 08 Mei 2026 22:45 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Jim Supangkat menilai Galeri Nasional Indonesia perlu sejajar dengan Museum Nasional Indonesia dan Perpustakaan Nasional sebagai representasi budaya bangsa.
  • Galeri Nasional Indonesia dinilai berperan penting menampilkan perkembangan seni rupa modern Indonesia, termasuk menyimpan karya seniman dunia dan pelukis Indonesia seperti Raden Saleh.
  • Nunus Supardi menyebut para seniman sempat kesulitan mendapatkan ruang pamer sebelum hadirnya Galeri Nasional Indonesia.

RRI.CO.ID, Jakarta - Kurator Independen, Jim Supangkat menilai Galeri Nasional Indonesia perlu ditempatkan sejajar dengan Museum Nasional Indonesia dan Perpustakaan Nasional. Menurutnya, ketiga lembaga tersebut menjadi representasi identitas budaya bangsa di mata dunia.

Menurutnya, Museum Nasional, Galeri Nasional, dan Perpustakaan Nasional menjadi tiga lembaga penting di Indonesia. Ketiganya kerap dikunjungi wisatawan untuk memahami sejarah dan perkembangan suatu bangsa.

"Museum nasional menunjukkan warisan budaya sebuah negara. Sementara galeri nasional memperlihatkan bagaimana bangsa tersebut menghadapi dunia modern," ujarnya dalam diskusi Merayakan dan Merefleksikan: Masa Depan Galeri Nasional Indonesia, Galeri Nasional Indonesia, Jakarta Pusat, Jumat, 8 Mei 2026.

Ia menjelaskan, Museum Nasional Indonesia selama ini menyimpan berbagai artefak dan peninggalan sejarah. Di sisi lain, Galeri Nasional Indonesia berperan menampilkan perkembangan seni rupa modern Indonesia.

Ia juga mengungkapkan sejumlah karya seni modern sebelumnya tersimpan di Museum Nasional Indonesia. Karya tersebut kemudian dipindahkan ke Galeri Nasional Indonesia atas prakarsa Direktur Jenderal Kebudayaan saat itu, Edi Sedyawati.

Menurutnya, koleksi tersebut mencakup karya penting dari seniman dunia hingga karya pelukis Indonesia seperti Raden Saleh. "Sebagian karya tersebut merupakan sumbangan seniman internasional sebagai bentuk simpati terhadap kemerdekaan Indonesia pada 1950-an," ucapnya.

Ia mengatakan proses pengesahan Galeri Nasional Indonesia sebagai lembaga negara tidak berjalan mudah. Saat itu, pemerintah tengah membatasi pembentukan lembaga baru sehingga perjuangan untuk mendapatkan pengakuan resmi memerlukan proses panjang.

Ia menyebut Edi Sedyawati berperan besar dalam memperjuangkan keberadaan Galeri Nasional Indonesia. Hingga akhirnya mendapat pengesahan dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara.

"Galeri Nasional Indonesia akhirnya mendapat status unit pelaksana teknis atau UPT. Meski anggarannya masih terbatas, lembaga ini sudah mulai menjalankan fungsinya sebagai pusat seni rupa modern," katanya, menambahkan.

Pemerhati Budaya, Nunus Supardi mengatakan para seniman sempat kesulitan mendapatkan ruang pamer sebelum hadirnya Galeri Nasional Indonesia. Menurutnya, saat itu para seniman menumpang menggelar pameran di Museum, Balai Budaya, Rumah Proklamasi, hingga Hotel.

"Affandi setelah dari luar negeri pulang ke Indonesia pamerannya di Balai Budaya. Lalu para seniman sering mengadakan pameran di sejumlah hotel," ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....