Hampir Tidak Punya Anggaran, Begini Cara Galeri Nasional Tetap Eksis

  • 09 Mei 2026 06:40 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Jim Supangkat mengungkapkan Galeri Nasional Indonesia tetap menggelar pameran seni meski minim anggaran pada masa awal operasional.
  • Galeri Nasional Indonesia membentuk tim kurator independen tanpa bayaran tetap untuk menyeleksi karya dan menjaga kualitas pameran.
  • Nunus Supardi mendorong Galeri Nasional Indonesia mengembangkan teknologi digital guna memperluas akses informasi pameran kepada masyarakat.

RRI.CO.ID, Jakarta - Kurator Independen, Jim Supangkat mengungkapkan Galeri Nasional Indonesia tetap menyelenggarakan pameran seni pada masa awal operasionalnya. Menurutnya, kegiatan tersebut berjalan meski tanpa dukungan anggaran yang memadai.

Ia menjelaskan, kondisi tersebut terjadi saat Galeri Nasional Indonesia belum resmi menjadi lembaga negara. Meski demikian, pengelola galeri tetap membentuk tim kurator independen untuk menyeleksi karya seni yang layak dipamerkan.

Ia menyampaikan para kurator yang terlibat berasal dari luar pemerintahan dan diminta membantu proses kurasi. Namun pada masa itu, para kurator tidak menerima bayaran tetap.

"Kurator hanya diberikan uang jalan untuk menyeleksi karya yang dipamerkan di Galeri Nasional Indonesia. Tapi tidak mendapatkan bayaran tetap," katanya dalam diskusi Merayakan dan Merefleksikan: Masa Depan Galeri Nasional Indonesia, Galeri Nasional Indonesia, Jakarta Pusat, Jumat, 8 Mei 2026.

Ia mengatakan sistem kurator dilakukan secara bergantian setiap tahun agar beban kerja dan pengorbanan dapat dibagi bersama. Baginya, langkah tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga standar kualitas pameran seni di Galeri Nasional Indonesia.

Lebih lanjut, setiap galeri atau penyelenggara pameran yang ingin menggunakan ruang Galeri Nasional Indonesia wajib mengikuti proses seleksi. Ketentuan tersebut, kata dia, diterapkan untuk memastikan karya yang dipamerkan memiliki kualitas artistik yang baik.

"Pameran di Galeri Nasional Indonesia tidak boleh sekadar berorientasi komersial. Kurator melakukan seleksi untuk menjaga kualitas karya yang dipamerkan," ucapnya.

Ia juga mengungkapkan, pada masa itu transaksi penjualan karya seni tidak diperbolehkan dilakukan langsung di Galeri Nasional Indonesia. Namun setelah pameran selesai, pihak penyelenggara tetap dapat melanjutkan proses penjualan secara mandiri.

Meski berjalan dengan keterbatasan anggaran, Galeri Nasional tetap berhasil membangun reputasi sebagai ruang pamer seni yang bergengsi. Bahkan sejumlah galeri swasta mulai berlomba menghadirkan pameran terbaik dengan dekorasi dan presentasi yang semakin kreatif.

"Dalam kondisi serba terbatas, Galeri Nasional Indonesia tetap bisa berjalan dan menghadirkan pameran berkualitas. Hal itu membuat banyak pihak akhirnya percaya terhadap peran Galeri Nasional Indonesia," ujarnya.

Sementara itu, Pemerhati Budaya, Nunus Supardi menyampaikan bahwa Galeri Nasional perlu mengembangkan teknologi digital. Hal ini dilakukan untuk memperluas akses masyarakat terhadap informasi tentang pameran.

Langkah tersebut dinilai penting untuk menyesuaikan perkembangan teknologi komunikasi dan kebutuhan publik terhadap informasi budaya. "Galeri Nasional Indonesia perlu mengembangkan berbagai model baru berbasis teknologi digital agar masyarakat lebih mudah mengakses informasi," katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....