Mengenal Tujuh Seniman Indonesia di Venice Biennale 2026
- 08 Mei 2026 15:33 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Paviliun Indonesia di Venice Biennale 2026 menghadirkan proyek “Printing the Unprinted” hasil kolaborasi Kementerian Kebudayaan dan Scuola Internazionale di Grafica Venezia.
- Proyek tersebut menampilkan karya tujuh seniman Indonesia lintas generasi, termasuk Agus Suwage, R. E. Hartanto, hingga Theresia Agustina Sitompul.
- Melalui berbagai medium seni grafis kontemporer, para seniman mengangkat tema identitas, memori, spiritualitas, hingga kritik sosial di panggung internasional.
RRI.CO.ID, Jakarta - Paviliun Indonesia pada Pameran Seni Internasional ke-61 La Biennale di Venezia mempersembahkan Printing the Unprinted. Pameran ini sebuah proyek kolaboratif antara Kementerian Kebudayaan dan Scuola Internazionale di Grafica, Venezia.
Kepala Kurator Galeri Nasional, Aminudin TH Siregar mengatakan bahwa proyek ini mempertemukan tujuh Seniman Indonesia lintas generasi. Diantaranya Agus Suwage, Syarizal Pahlevi, Nurdian Ichsan, R.E. Hartanto, Theresia Agustina Sitompul, Mariam Sofrina, dan Rusyan Yasin.
Melalui beragam pendekatan artistik, Printing the Unprinted menghadirkan dialog tentang ingatan, dan jejak. Serta kemungkinan-kemungkinan baru dalam praktik seni grafis kontemporer Indonesia di panggung dunia.
Lebih jauh mengenal tujuh seniman yang unjuk gigi pada Venice Biennale 2026. Melansir dari situs resmi Kementerian Kebudayaan, berikut adalah profil singkat karyanya.
1. Theresia Agustina Sitompul
Theresia memperluas seni cetak untuk mempertanyakan peran gender, dan warisan kolonial. Serta ketaknampakan kerja perempuan melalui benda sehari-hari dan alat rumah tangga.
2. Syahrizal Pahlevi
Syahrizal bekerja dengan cukil kayu dan cetak langsung, mengambil inspirasi dari objek sehari-hari dan budaya vernakular. Inspirasi untuk mengungkap bagaimana kekuasaan dan ideologi beroperasi melalui bentuk visual yang biasa.
3. Rusyan Yasin
Rusyan menggunakan gambar dan sketsa perjalanan untuk mendokumentasikan ruang, memori, dan perpindahan. Karyanya yang fragmentaris dan berbasis proses berakar pada mobilitas dan pengalaman hidup.
4. Nurdian Ichsan
Nurdian menggunakan tanah liat sebagai medium kontemporer untuk mempertanyakan identitas, spiritualitas, dan memori kolektif. la mengubah keramik menjadi bahasa kritis yang membawa trauma historis dan resonansi spiritual.
5. R. E. Hartanto
Hartanto menggunakan potret realis untuk menyelidiki persinggungan psikologi manusia, impuls biologis, dan struktur sosial. Praktiknya mengeksplorasi pertanyaan eksistensial, menelaah bagaimana beban masa lalu membentuk pencarian makna dalam ekosistem modern.
6. Agus Suwage
Menggunakan lukisan, gambar, seni cetak, dan media campuran, Agus Suwage mengeksplorasi identitas dalam rezim kekuasaan dan representasi. Ia menggunakan wajahnya sendiri sebagai obyek dan subyek.
7. Mariam Sofrina
Mariam melukis lanskap dan kota secara fotorealistik, menggunakan cahaya dan detail untuk membangkitkan nostalgia. Adapun ketidakpastian, dan logika yang tidak stabil, menantang akurasi fotografi dan realitas
Venice Biennale 2026 akan berlangsung pada Sabtu, 9 Mei 2026. Ajang seni rupa internasional tersebut kembali menghadirkan karya seniman dari berbagai negara dan menjadi salah satu pameran bergengsi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....