Kemenbud Prosesi Pengajuan Seni Ukir Jepara ke UNESCO lewat Skema Safeguarding

  • 29 Apr 2026 21:57 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kementerian Kebudayaan tengah memproses pengajuan seni ukir Jepara ke UNESCO sebagai warisan budaya takbenda.
  • Pemerintah mempertimbangkan skema safeguarding dan extension untuk mempercepat pengakuan, di tengah keterbatasan single nomination yang hanya dua tahun sekali.
  • Veronica Rompies menegaskan para pengukir Jepara tetap berkarya dalam kesunyian dan menjadi penjaga utama kelestarian tradisi dari generasi ke generasi.

RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) tengah memproses pengajuan seni ukir Jepara sebagai warisan budaya takbenda ke UNESCO. Upaya ini dilakukan sebagai bagian dari pelestarian di tengah menurunnya minat generasi muda terhadap seni ukir.

Menteri Kebudayaan (Menbud), Fadli Zon mengatakan proses pendaftaran melalui skema Intangible Cultural Heritage memiliki keterbatasan. Khususnya untuk single nomination yang hanya dapat diajukan satu negara setiap dua tahun sekali.

"Pendaftaran atau inskripsi di UNESCO untuk single nomination itu satu negara hanya 2 tahun sekali. Kita akan cari jalan, mungkin tadi pendekatannya memelalui safeguarding," ujarnya kepada wartawan usai peresmian Pameran Tatah: Seni Ukir Jepara 2026 di Museum Nasional Indonesia, Jakarta Pusat, Rabu, 29 April 2026.

Ia menjelaskan, pendekatan safeguarding dinilai penting untuk mempercepat proses pengakuan sekaligus memperkuat upaya pelestarian. Terlebih, jumlah peminat seni ukir saat ini dinilai terus berkurang.

Menurutnya, mekanisme tersebut memungkinkan proses tidak harus menunggu siklus pengajuan dua tahunan seperti pada skema single nomination. Selain itu, pemerintah juga menjajaki kemungkinan pengajuan melalui skema extension dengan melibatkan negara lain yang memiliki kesamaan tradisi dalam seni ukir.

"Kalau untuk extension juga kita jajaki karena mungkin bisa bekerjasama dengan negara-negara yang mempunyai kemiripan. Atau kesamaan tradisi di dalam memelihara dan melestarikan seni ukir meskipun berbeda," katanya.

Ia menambahkan, langkah-langkah tersebut masih dalam tahap penjajakan dan akan terus dikaji untuk mendapatkan strategi terbaik. Khususnya dalam mendorong pengakuan internasional sekaligus menjaga keberlanjutan seni ukir Jepara.

Sementara itu, Direktur Utama Pameran Tatah 2026, Veronica Rompies menyampaikan sudut pandangnya bagi pengrajin seni ukir Jepara. Menurutnya, para pengukir di Jepara tetap konsisten berkarya di tengah keterbatasan, didorong oleh kecintaan mereka terhadap seni ukir.

"Hari ini, di sudut-sudut desa di Jepara, ada tangan-tangan pengukir yang terus berkarya karena cinta pada seni ukir. Meski nama mereka tidak selalu dikenal, kepada merekalah kita sesungguhnya berutang ketika berbicara tentang seni ukir di ruang-ruang formal," ujarnya.

Ia menegaskan, para perajin itulah yang menjaga agar tradisi ukir tetap hidup dan dapat diwariskan dari generasi ke generasi. Mereka, kata dia, telah bekerja dalam kesunyian untuk memastikan seni ukir tetap lestari dan dapat diteruskan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....