Film 'Ghost in the Cell', Cara Joko Anwar Menyentil Realitas yang 'Absurd'

  • 09 Apr 2026 19:45 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • 'Ghost in the Cell' menggabungkan horor, komedi, dan satire untuk menggambarkan realitas Indonesia yang dinilai 'absurd' dan penuh kontradiksi.
  • Menggabungkan horor, komedi, dan elemen reflektif, film ini produksi Come and See Pictures dengan RAPI Films, Legacy Pictures, serta Barunson E&A.
  • Dibintangi sederet aktor papan atas seperti Abimana Aryasatya, Endy Arfian, Luksman Sardi hingga Tora Sudiro, siap tayang di bioskop mulai 16 April 2026.

RRI.CO.ID, Jakarta - Sutradara Joko Anwar kembali menghadirkan karya terbaru berjudul Ghost in the Cell, sebuah film horor dengan sentuhan komedi dan satire sosial. Film ini digarap sebagai refleksi kondisi Indonesia yang dinilai penuh keanehan dan kontradiksi.

Ia mengungkapkan, ide film ini sebenarnya sudah diumumkan sejak 2018 dan terus dikembangkan hingga 2025. Ia berharap ada berbagai perubahan positif di Indonesia dalam periode tersebut, meski kenyataannya dinamika yang terjadi masih menghadirkan beragam tantangan.

Menurutnya, satu kata yang terus muncul selama proses kreatif adalah “absurd”. Ia menilai berbagai fenomena di Indonesia sering kali sulit dipahami, termasuk persoalan besar seperti korupsi yang dianggap seolah menjadi hal biasa.

“Bagaimana filmnya bisa merepresentasikan Indonesia dalam satu kata yang muncul terus ketika kita mengembagkan cerita ini adalah ‘absurd’. Aku mencoba membuat skenarionya juga bisa menangkap fenomena itu,” ujar Joko Anwar dalam press conference film Ghost in the Cell di XXI Epicentrum, Jakarta, Kamis 9 April 2026.

Meski mengangkat tema yang cukup berat, Joko menegaskan bahwa film ini tidak akan berakhir dengan nuansa putus asa. Ia tetap mempertahankan harapan, namun tidak sampai terkesan ilusif di tengah berbagai tantangan yang ada.

“Tapi ada satu tone yang kita pertahankan, jadi kita gak mau film ini berakhir dengan putus asa. Karena kita sebagai manusia pasti masing-masing dari kita ada tujuannya sendiri,” ujarnya.

Menurutnya, dalam film tersebut, perubahan tonal menjadi elemen penting. Cerita akan bergerak dari komedi, ke horor, hingga momen yang lebih reflektif, mengikuti dinamika kehidupan masyarakat Indonesia yang dinilai penuh ketidakpastian.

Joko juga menggunakan metafora kuat dalam film ini, yakni negara sebagai penjara dan masyarakat sebagai para penghuninya. Ia menggambarkan bahwa sebagian besar orang tidak memiliki pilihan untuk “kabur”, kecuali segelintir pihak yang memiliki privilese.

Melalui Ghost in the Cell, Joko berupaya menyampaikan kritik sosial dengan cara yang lebih ringan namun tetap tajam. Film ini diharapkan bisa menjadi cerminan realitas, sekaligus mengajak penonton untuk melihat kondisi Indonesia dari sudut pandang yang berbeda.

Film ini dibintangi oleh sejumlah aktor ternama seperti Abimana Aryasatya, Bront Palarae, dan Arswendy Bening Swara. Selain itu, hadir pula Endy Arfian, Lukman Sardi, Mike Lucock, Yoga Pratama, Morgan Oey, Aming, Kiki Narendra, Rio Dewanto, serta Tora Sudiro.

Film produksi Come and See Pictures ini bekerja sama dengan RAPI Films, Legacy Pictures, serta Barunson E&A. Ghost in the Cell dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 16 April 2026.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....