Peringati Hari Film Nasional, Kemenbud-LSF Gelar Nobar Film 'Darah dan Doa'
- 01 Apr 2026 18:55 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Pemutaran Darah dan Doa karya Usmar Ismail menjadi bentuk apresiasi terhadap tonggak awal perfilman Indonesia.
- Menurut Fadli Zon, film ini menggambarkan dinamika revolusi 1948–1949, termasuk ancaman Belanda, pemberontakan PKI, hingga Long March Siliwangi.
- Pemutaran film dinilai tidak sekadar seremonial, tetapi juga sebagai media pembelajaran sejarah dan penghargaan terhadap karya monumental perfilman nasional.
RRI.CO ID, Jakarta - Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) melalui Lembaga Sensor Film merayakan Hari Film Nasional dengan menonton film bareng Darah dan Doa. Film tersebut dikenal sebagai film perang Indonesia pertama yang di sutradarai oleh Usmar Ismail pada tahun 1950.
Menteri Kebudayaan (Menbud), Fadli Zon menyebut bahwa film tersebut menggambarkan kisah perjuangan bangsa Indonesia. Khususnya pada masa revolusi yang penuh tantangan.
"Film ini luar biasa karena banyak menceritakan kisah perjuangan. Terutama pada masa mempertahankan kemerdekaan atau masa revolusi," katanya kepada wartawan usai acara Nobar Film: Darah dan Doa dalam acara Literasi Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri, CGV Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Rabu, 1 April 2026.
Menurutnya, latar cerita film yang mengambil periode 1948–1949 menjadi fase krusial dalam sejarah Indonesia. Pada masa itu, bangsa Indonesia menghadapi berbagai ancaman, baik dari dalam maupun luar negeri.
"Kalau kita lihat film Darah dan Doa, setting-nya pada tahun 1948–1949, masa yang sangat menentukan nasib Indonesia. Saat itu ada upaya Belanda untuk kembali menjajah, dan di sisi lain terjadi pemberontakan PKI pada September 1948," ujarnya, menambahkan.
Ia menjelaskan, film tersebut juga mengangkat kisah perjalanan panjang pasukan Siliwangi yang kembali ke Jawa Barat usai Perjanjian Renville. Peristiwa itu dikenal sebagai “Long March” Siliwangi.
Selain itu, kondisi semakin kompleks dengan munculnya pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia di Jawa Barat. Hal tersebut menambah dinamika konflik pada masa tersebut.
Lebih lanjut, Fadli Zon menilai kekuatan utama film ini terletak pada cara penyampaian cerita yang realistis. "Yang menarik adalah bagaimana kisah-kisah perjuangan, penderitaan, dan pengorbanan itu disampaikan secara realistik oleh Usmar Ismail," ucapnya.
Melalui pemutaran film ini, ia berharap generasi muda dapat lebih memahami sejarah perjuangan bangsa. Sekaligus menghargai perkembangan perfilman nasional.
Sementara itu, Ketua Lembaga Sensor Film, Naswardi menyampaikan pasangannya terhadap pemutaran film Usmar Ismail. Menurutnya, kegiatan ini juga menjadi sarana edukasi dan refleksi bagi masyarakat untuk memahami sejarah perjuangan bangsa melalui medium film.
Untuk itu, dalam kegiatan ini para peserta diajak menonton bersama film besutan Usmar Ismail yang dikenal sebagai Bapak Perfilman Indonesia. "Sebagai bentuk apresiasi atas karya monumental perfilman nasional," katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....