Mengenal Usmar Ismail, Bapak Film Nasional di Balik Lahirnya Hari Film Nasional

  • 30 Mar 2026 12:49 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Usmar Ismail dikenal sebagai Bapak Film Nasional dan pelopor perfilman modern Indonesia.
  • Usmar mendirikan Perfini dan memulai film Darah dan Doa pada 30 Maret 1950.
  • Film Darah dan Doa tersebut menjadi dasar penetapan Hari Film Nasional melalui Keppres Nomor 25 1999.

RRI.CO.ID, Jakarta- Hari Film Nasional yang diperingati setiap 30 Maret tidak bisa dilepaskan dari sosok Usmar Ismail. Ia dikenal sebagai Bapak Film Nasional sekaligus tokoh penting yang meletakkan dasar perfilman Indonesia modern.

Usmar Ismail lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, pada 20 Maret 1921. Ia berasal dari keluarga terdidik, dengan ayah seorang guru dan kakaknya, Abu Hanifah atau El Hakim, yang juga dikenal di dunia sastra.

Sejak muda, Usmar telah menunjukkan minat besar pada dunia seni dan sastra. Ketertarikannya itu mulai terlihat saat masih duduk di bangku sekolah, hingga kemudian aktif menulis dan terlibat dalam berbagai kegiatan drama.

Perjalanan pendidikannya terbilang lengkap, mulai dari HIS di Batusangkar, MULO di Padang, hingga AMS di Yogyakarta. Ia kemudian melanjutkan studi ke University of California, Los Angeles, Amerika Serikat, untuk memperdalam ilmu perfilman.

Di Yogyakarta, minatnya terhadap teater semakin berkembang. Ia aktif dalam pementasan drama dan mulai mengirimkan tulisan ke berbagai majalah, menandai awal kiprahnya di dunia kreatif.

Bersama sejumlah tokoh seperti Armijn Pane dan Rosihan Anwar, Usmar turut mendirikan kelompok sandiwara ‘Maya’ pada 1943. Kelompok ini menjadi salah satu pelopor teater modern di Indonesia dengan pendekatan pementasan bergaya Barat.

Setelah Indonesia merdeka, Usmar sempat menjalani dinas militer dan berkarier sebagai jurnalis. Ia bahkan pernah menjabat sebagai Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan sempat ditahan oleh Belanda pada 1948 karena aktivitas jurnalistiknya.

Ketertarikannya pada film semakin kuat saat ia terlibat dalam produksi film bersama Andjar Asmara. Dari pengalaman itu, Usmar mulai memahami bahwa film bisa menjadi medium yang kuat untuk menyampaikan cerita dan identitas bangsa.

Puncak perannya dalam sejarah perfilman Indonesia terjadi pada 30 Maret 1950. Pada hari itu, ia mendirikan Perusahaan Film Nasional Indonesia (Perfini) sekaligus memulai pengambilan gambar film ‘Darah dan Doa’.

Film tersebut menjadi tonggak penting karena seluruh prosesnya dikerjakan oleh orang Indonesia. Peristiwa ini kemudian ditetapkan sebagai Hari Film Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 25 Tahun 1999.

Setelah itu, Usmar terus menghasilkan berbagai karya penting yang memperkaya perfilman Indonesia. Beberapa film yang disutradarainya antara lain ‘Enam Jam di Yogya’, ‘Lewat Jam Malam’, ‘Tiga Dara’, hingga ‘Pejuang’.

Selain berkarya, ia juga berperan dalam memajukan industri film secara kelembagaan. Bersama Djamaluddin Malik, Usmar memelopori penyelenggaraan Festival Film Indonesia pada 1955.

Meski menghadapi berbagai tantangan, mulai dari tekanan politik hingga persaingan film asing. Namun, Usmar tetap konsisten memperjuangkan film sebagai bagian dari identitas nasional.

Atas jasa-jasanya, nama Usmar Ismail kemudian diabadikan sebagai Pusat Perfilman Usmar Ismail di Jakarta. Ia wafat pada 2 Januari 1971, namun warisannya tetap hidup dalam perkembangan film Indonesia hingga kini.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....