Fakta Film ‘Darah dan Doa’, Tonggak Lahirnya Perfilman Nasional Indonesia
- 01 Apr 2026 12:22 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Darah dan Doa (1950) karya Usmar Ismail menjadi tonggak perfilman nasional Indonesia.
- Syuting perdana 30 Maret 1950 menjadi dasar Hari Film Nasional.
- Film ini mengangkat kisah Divisi Siliwangi dengan pendekatan realistis dan penuh keterbatasan produksi.
RRI.CO.ID, Jakarta - Film ‘Darah dan Doa’ merupakan salah satu karya paling penting dalam sejarah perfilman Indonesia. Film ini disutradarai oleh Usmar Ismail dan dirilis pada tahun 1950, serta dikenal sebagai tonggak lahirnya film nasional.
Cerita film ini mengangkat perjalanan panjang (long march) prajurit Divisi Siliwangi dari Yogyakarta menuju Jawa Barat setelah masa revolusi. Kisah tersebut berfokus pada Kapten Sudarto yang memimpin pasukannya di tengah konflik perjuangan dan pergulatan batin.
Proses pengambilan gambar film ini dimulai pada 30 Maret 1950. Tanggal tersebut kemudian ditetapkan sebagai Hari Film Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 25 Tahun 1999.
Film ini juga menjadi yang pertama diproduksi sepenuhnya oleh perusahaan milik Indonesia, yakni Perfini. Seluruh kru dan proses produksinya dilakukan oleh orang Indonesia, menjadikannya simbol kemandirian perfilman nasional.
Dalam produksinya, ‘Darah dan Doa’ menghadapi berbagai keterbatasan. Mulai dari dana yang minim hingga peralatan yang sederhana, namun hal tersebut tidak mengurangi nilai historis dan artistik film ini.
Film ‘Darah dan Doa’ dibintangi Del Juzar sebagai Kapten Sudarto. Ada pula A. Hamid Arief, R.M. Suryodipuro, Faridah, Awaluddin hingga Suzzanna.
Para aktor tersebut turut menghidupkan cerita dengan pendekatan yang lebih realistis. Film ini tidak hanya menampilkan heroisme, tetapi juga sisi manusiawi para pejuang.
Meski pada awal perilisannya tidak langsung meraih kesuksesan besar, ‘Darah dan Doa’ kemudian diakui sebagai karya monumental. Film ini menjadi fondasi penting bagi perkembangan industri film Indonesia.
Dalam konteks Hari Film Nasional, ‘Darah dan Doa’ bukan sekadar film sejarah. Karya ini menjadi simbol lahirnya identitas perfilman Indonesia yang mandiri dan berkarakter.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....