Duta Baleganjur Kabupaten Badung, Perang Untek
- 02 Jul 2025 09:28 WIB
- Denpasar
KBRN Denpasar : Wimbakara (Lomba) Baleganjur yang menampilkan duta dari kabupaten kota se Bali, memang mendapat tempat khusus di hati penggemar PKB ke 47 Tahun 2025. Seperti penampilan Komunitas Seni Jong-Gembyong, Desa Adat Pangsan, Kecamatan Petang, selaku duta Kabupatan Badung yang menampilkan garapan baleganjur yang berjudul Perang Untek. di Panggung Terbuka Arda Candra, Kamis, (26/06/2025).
Malam itu duta Kabupaten Badung tersebut tampil pada urutan kedua setelah duta Kota Denpasar dengan kostum kemeja dan kain berwarna putih, dikombinasikan saput warna kuning dan destar serta hiasan berwarna emas, mendapat sambutan yang sangat meriah dari pendukungnya.
Perang Untek merupakan sebuah warisan budaya tak benda, yang dilaksanakan oleh masyarakat Desa Kiyadan, Kecamatan Petang, Kabupatan Badung. Tradisi ini digelarar setiap Purnama Sasih Kapitu, sebagai sebuah prosesi spiritual, untuk memohon keselamatan bagi masyarakat dan seluruh mahluk hidup, serta sebagai ungkapan rasa syukur kepada alam semesta atas anugrah kesuburan dan kemakmuran.
Komposer garapan ini, I Putu Agus Mertayasa, S.S.n, merancang struktur musikal dalam karya ini berdasarkan ragam bentuk dan pola, hasil ola kreatif, yang menyatu dengan element koreografi. Kedua-nya dikemas secara konstektual mengacu pada konteks dan makna ritual Perang Untek.
Keunikan utama dari prosesi ini adalah penggunaan Tumpeng sebanyak 555 dan Untek atau Penek sebanyak 777, dengan warna dominan putih dan kuning yang mempresentasikan konsep arah Kangin Kauh atau timur barat. Angka-angka simbolik tersebut, menjadi inspirasi dasar dalam penggarapan musikal, khususnya dalam pola permainan, ceng-ceng, reong, pongang, dan hitungan gong.
Unsur ini, tidak hanya memberikan kekuatan rhythmis, tetapi juga menjadi element atraktif, baik secara musikal, maupun koreografi, untuk memperkuat penyampaian tema dan makna dari karya baleganjur ini.
Selaku koreografer garapan ini, I Wayan Yos Indra Kusuma, S.Sn, Bagus Restu Wisnawa, S.Sn., konseptor I Gusti Ngurah Alit Supariawan, S.Sn., M.SN, serta selaku pembina, I wayan desta pertama, S.Sn., I Gusti Ngurah Gede Darma Witnyana, S.Sn., dan I Putu Supiarta, S.Sn.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....