Sejarah Permainan Tarot, dan Perkembangannya di Indonesia

  • 12 Jun 2025 14:18 WIB
  •  Denpasar

KBRN,Denpasar: Apakah anda pernah meramal peruntungan lewat kartu tarot?

Kartu tarot dalam budaya masa kini, sering dikaitkan dengan praktik ramalan dan spiritualitas. Sesungguhnya, pada masa awal kemunculannya permainan tarot berakar pada tradisi permainan kartu bangsawan di Eropa. Asal-usul tarot dapat ditelusuri kembali ke akhir abad ke-14 dan awal abad ke-15, di mana kartu ini awalnya digunakan bukan sebagai alat peramalan, melainkan untuk hiburan dan permainan.

Beberapa sumber menyebutkan bahwa kartu tarot pertama kali diciptakan untuk menghibur Raja Charles VI dari Prancis, yang saat itu mengalami gangguan psikologis. Namun, bukti kuat menyatakan bahwa tarot berasal dari wilayah Italia utara, khususnya Milan dan Ferrara. Salah satu set tarot tertua yang masih diketahui keberadaannya hingga kini adalah kartu Visconti-Sforza, yang dilukis tangan sekitar tahun 1442 untuk memperingati pernikahan antara Bianca Maria Visconti dan Francesco Sforza, dua figur bangsawan penting dari Milan.

Pada masa awalnya, kartu tarot dikenal dengan nama Trionfi atau “Kartu Kejayaan”. Dokumen-dokumen dari periode 1442–1463 menunjukkan bahwa permainan ini sangat populer di kalangan elit Eropa. Kartu-kartu tersebut berjumlah 78 lembar dan terbagi menjadi dua kelompok: Arcana Mayor dan Arcana Minor. Transformasi fungsi tarot dari permainan menjadi alat spiritual dan okultisme mulai terjadi pada abad ke-18. Salah satu tokoh penting dalam perubahan ini adalah Antoine Court de Gébelin. Interpretasi Gébelin memiliki pengaruh besar dalam membentuk persepsi mistis terhadap tarot. Pada periode yang sama, Jean-Baptiste Alliette (dikenal sebagai Etteilla) menerbitkan risalah tentang penggunaan kartu tarot untuk meramal.

Di Indonesia, aktivitas membaca peruntungan lewat tarot cukup populer. Pembaca Tarot atau Tarot Reader asal Yogyakarta, FR. Kuntari Eka Chandra Wijaya menyebutkan bahwa seni membaca Tarot di Indonesia bahkan banyak yang sudah mengalami akulturasi dengan budaya setempat. ”Misalnya, di Indonesia ada Tarot dengan gambar wayang, dengan Warna, dengan Aksara dan filsafat Jawa, ada juga Tarot khusus perempuan” Sebut Kuntari. Tarot tersebut, diakuinya sudah berkembang dari pakem Tarot yang berkembang di wilayah Eropa.

Kuntari mengembangkan sendiri praktik pembacaan Tarotnya. Java Mantra Oracle, menjadi brand yang ditawarkan oleh gadis yang pernah mengenyam pendidikan di Institut Seni Indonesia Yogyakarta ini. ”Bagi saya tarot tidak hanya digunakan sebagai alat ramalan, tetapi juga untuk refleksi diri, eksplorasi psikologis, dan spiritualitas dari klien yang datang” Kuntari berujar. Setiap kartu membawa makna tersendiri yang bisa diinterpretasikan sendiri oleh klien, bahkan sebelum Tarot reader menyampaikan pandangannya. ”Sangat penting bagi klien untuk ”sadar penuh”. Sehingga klien memahami bahwa setiap tindakan akan mendatangkan hasilnya sendiri, pada akhirnya kegiatan pembacaan Tarot dapat memberi manfaat” tutup Kuntari.


Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....