Kisah Pilu Anak SD di Nias Utara Sekolah Terpaksa Terobos Lumpur 4 Kilometer
- 28 Sep 2026 20:42 WIB
- Gunung Sitoli
Nias Utara, RRI.CO.ID - Difrat Rama Harefa (11) mengikat plastik di sepatunya sebelum berangkat sekolah. Bukan gaya baru. Itu cara agar sepatu satu-satunya tidak hilang ditelan lumpur.
Hampir setiap hari, ia dan puluhan siswa SDN 078426 Sanawuyu di Desa Umbu Balodano, Nias Utara, berjalan 4 kilometer melewati kubangan lumpur. Jika hujan turun semalam, seragam putih-merah itu akan berubah cokelat sebelum bel masuk berbunyi.
"Kalau hujan, seragam dan sepatu kami kotor semua. Kadang kami lepas sepatu di tengah jalan biar bisa lewat," lirih Difrat.

Jalan ini adalah satu-satunya urat nadi mereka. Menghubungkan Dusun 8 Desa Umbu Balodano menuju Dusun 2 Desa Banua Sibohou, Kecamatan Namohalu Esiwa. Dibuka sejak 2018, namun hingga Indonesia 81 tahun merdeka, belum pernah tersentuh aspal. Bahkan, kata kepala sekolahnya, belum pernah tersentuh pembangunan sejak penjajahan.
Untuk bertahan, guru dan warga membangun jembatan kayu darurat dari sisa gempa Nias. Kayunya kini lapuk. Berderak setiap diinjak.
Adizaro Zai, Kepala SDN 078426 Sanawuyu, sudah lelah menambal. "Jalan tidak layak. Kalau hujan deras, siswa terlambat semua. Guru juga jatuh-bangun," katanya.
Di jalan yang sama, ekonomi warga ikut terkubur.

Idaman Jaya Zega, warga Sanawuyu, menunjuk kebunnya yang luas. Ada padi, pinang, pisang, karet, durian. Semuanya harus dipikul 4 kilometer ke jalan beraspal terdekat. Tak jarang, durian dan pisang busuk di kebun karena tak bisa diangkut.
"Kami harus pikul jalan kaki 4 kilometer. Banyak hasil panen yang busuk di kebun karena tidak bisa diangkut," ujar Idaman.
Saat sakit, penderitaan berlipat. Ambulans tak bisa masuk. Warga harus menandu orang sakit sejauh 10 kilometer ke Puskesmas. Lansia ditandu, ibu hamil ditandu, di atas lumpur yang sama tempat anak-anak bersekolah.
80 Persen Memilih Merantau ,Jalan rusak itu akhirnya mengusir warganya sendiri.
"Karena susah, banyak warga akhirnya pilih merantau. Kami terisolir Pak," ujar warga lain, Dona-Dona.

Idaman memperkirakan, 75 hingga 80 persen penduduk desanya sudah merantau ke Gunungsitoli, Medan, bahkan ke luar Sumatera. Bukan karena tak cinta kampung. Karena kampung tak bisa dijangkau.
"Kami yakin kalau jalan ini dibangun, anak-anak kami yang merantau pasti pulang. Lahan kami luas, tinggal garap. Kami hanya butuh jalan," kata Idaman.
Seruan itu kini diteriakkan terbuka. Dari mulut anak-anak SD yang sepatunya berlumpur, hingga para petani yang memikul karet di punggung. Ditujukan kepada Presiden RI dan Gubernur Sumut Bobby Nasution.
Mereka tak minta gedung tinggi. Hanya 4 kilometer jalan dan satu jembatan permanen, agar seragam sekolah tetap putih, agar durian tak busuk di kebun, dan agar ambulans bisa masuk saat warga sekarat.
Seperti yang dikatakan Ketua DPRD Nias Utara Yaaman Telaumbanua, keterisolasian Umbubalodano bahkan membuat program Makan Bergizi Gratis tak bisa masuk ke sekolah-sekolah di sana.
Padahal, anak-anak Sanawuyu sudah kenyang dengan lumpur setiap pagi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....