Lagu "Hokha", Sebuah Satir Sosial "Besar Pasak daripada Tiang"
- 12 Mei 2026 13:19 WIB
- Gunung Sitoli
RRI.CO.ID, Gunungsitoli - Di balik melodi lagu "Hokha" yang sempat viral dan dibawakan secara mengejutkan oleh R.A.P Trio di Puncak HUT Ke-348 Kota Gunungsitoli beberapa waktu yang lalu, tersimpan sebuah pesan tajam yang datang langsung dari hati penciptanya, Constant Giawa. Melalui penuturan pribadinya, Constant mengungkap bahwa lagu yang lahir pada tahun 1999 ini bukan sekadar hiburan, melainkan sebuah cermin retak bagi perilaku masyarakat modern.
Constant mengungkapkan lagu berjudul "Hokha" bukan sekadar rangkaian nada, melainkan sebuah satir sosial yang memotret fenomena yang kian menjamur: fenomena "Besar Pasak daripada Tiang".
“Saya ciptakan lagu ini pada tahun 2019, kemudian direkam pertama kali tahun 2001, kemudian direkam ulang tahun 2017,” katanya, Selasa 12 Mei 2026.
Lagu Hokha dipopulerkan pertama kali oleh Meiman Halawa kemudian tahun 2017 dinyanyikan kembali oleh trio Idaman Fakho, Frans Lature dan Foiman Zega.
Gaya Elit, Ekonomi Sulit
Hokha baginya adalah fenomena yang diperlihatkan masyarakat pada umumnya. Secara bahasa, "Hokha" merujuk pada sebuah life style atau gaya hidup yang berlebihan. Ia tergelitik dengan fenomena orang-orang yang lebih mementingkan tampilan luar daripada stabilitas finansial. Melalui liriknya, ia menggambarkan ironi yang pahit; seseorang yang tampil mentereng dengan kacamata gelap dan baju merah, namun di balik itu semua, dompetnya kosong melompong.
“Tema lagu ini sederhana, sesederhana saya melihat fakta atau fenomena yang ada disekitar kita, dimana begitu banyak orang sering memaksakan diri melakukan sesuatu, menampilkan sesuatu diluar kemampuan dirinya. Misalnya mengupayakan membeli sesuatu yang tidak sesuai dengan kemampuan dompetnya hanya agar mendapat pujian dan rasa kagum dari orang lain,” ucapna.
Fenomena ini menjadi kritik pedas bagi mereka yang terjebak dalam budaya "prestise" semu. Di Indonesia termasuk di kepulauan Nias, pergeseran nilai sosial terkadang membuat seseorang merasa harus terlihat sukses demi pengakuan lingkungan, meski harus mengabaikan kenyataan hidup yang sebenarnya.
Lirik Hokha dan Terjemahan Bebasnya
Me talu mbongi ulau mangifi
Ufaigi’ö nakhigu no so’ö ba ngaigu
No awuyu-awuyu hulö zi lö irugi bale
Mamake baru soyo sörömi hörö
No’ölega-lega wofanöu akhigu
Oi fefu hörö wamaigi ya’ugö
Refrain
Ebua gayau nakhi, hokhau nakhi
He lö wa’ae lö bakha ösi kofe-kofeu
Lö ba dödöu sa’e ga’au ya’o si lumana
| Baca juga: Memaknai Hari Kebangkitan Nasional |
Na uleke’ö ölau ma’iki
Asöndu awakhö si’ai bakha dödögu
Ifuli tumbu zi no taya ba dödögu
Tenga fayagu nakhi na la tehe nakhi
Ube manö hadia ia zi so khögu
Tobali tanda wa’omasigu kh öu
Terjemahan bebasnya :
Di tengah malam aku bermimpi
Kulihat kamu ada di sisiku
Tampak muda dan menarik
Seperti gadis yang belum puber
Pakai baju merah dengan kaca mata gelap
Jalanya berlenggak-lenggok
Mengundang mata tertuju padamu
Refrain
Penampilanmu luar biasa
Pembawaanmu luar biasa
Walau dompetmu tak ada isinya
Membuatmu tak peduli denganku yang pas-pasan ini
Saat kumelirikmu
Kamu melemparkan senyum
Membuatku terpesona dan terkagum-kagum
Membangkitkan rasa yang pernah ada untukmu
Aku tak akan berbohong
Bila diberi kesempatan lagi
Kupertaruhkan semua yang ada padaku
Sebagai tanda cintaku padamuu
Sindiran yang Menampar
Lagu Hokha menjadi medium Constant untuk menyindir keras perilaku "banyak gaya, kemampuan nol". Melalui baris "He lö wa’ae lö bakha ösi kofe-kofeu" (Walau dompetmu tak ada isinya), Constant seolah ingin berteriak bahwa identitas seseorang tidak ditentukan oleh apa yang ia pakai, melainkan oleh kejujuran pada diri sendiri.
“Orang membeli dompet yang mahal misalnya jutaan harganya tapi isinya tidak sampai segitu, kan sayang dompet mahal-mahal isinya cuma uang receh, kenapa tidak pakai dompet kain saja atau dompet bola boko yang kecil untuk uang receh. Tapi tentu bukan itu yang diharapkan, uang itu kan tersimpan di dalam dompet, tapi ketika ia mengeluarkan dompet itu orang akan melihat waah gila bener itu dompet itu mereknya apa gitu yah, branded,” kata Constant.
Fenomena "Kofe-kofe" yang Kosong
Keresahan terbesar Constant adalah fenomena "Besar Pasak daripada Tiang". Ia melihat banyak orang terjebak dalam obsesi untuk diakui secara sosial, meskipun harus memaksakan kemampuan finansial yang nol.
Lirik lagu ini menjadi sangat pedas ketika masuk ke bagian refrain. Constant sengaja menggunakan istilah "Nakhi" (panggilan sayang yang umum) agar pesan ini bersifat universal—bisa ditujukan kepada siapa saja yang lebih mementingkan kemasan daripada isi.
"Ebua gayau nakhi, hokhau nakhi. He lö wa’ae lö bakha ösi kofe-kofeu," (Penampilanmu luar biasa, pembawaanmu luar biasa, walau dompetmu tak ada isinya).
Kofe-kofe menurutnya hanyalah sebuah simbol dari apa yang dipunya seseorang, kemampuan diri atau skill apa yang dimiliki. Apakah seseorang itu mampu berkomunikasi dengan baik, apakah kita mampu berinteraksi dengan orang lain, apakah mampu memiliki problem solving yang baik.
“Buat apa kita punya gaya yang luar biasa, kita punya penam[ilan yang wow, tetapi sebenarnya kita adalah tong yang kosong, yang tidak punya isi apa-apa, sehingga bunyinya saja yang nyaring tetapi tidak berdampak bagi orang lain”.
“Saya tidak tujukan lagu ini hanya untuk perempuan meski di liriknya memakai baju merah, tapi untuk kita semua, anak-anak muda, orang-orang dewasa atau orang-orang tua mungkin yang mencoba mendapatkan impresi positif meski pada kenyataannya payah. Hokha itu merujuk pada satu gaya hidup yang berlebihan dan mengundang perhatian orang. Jika distigmakan kepada perempuan, maka menyangkut seorang perempuan yang ingin kelihatan menarik dengan kecentilannya," ungkapnya.
Kecentilan ini, menurutnya, sering kali hanyalah topeng. Seseorang bisa tampil dengan "baju merah" dan "kacamata gelap" yang mentereng, namun kehilangan pijakan pada realita ekonominya sendiri.
“Untuk makan saja sulit, mesti ngutang kesana kemari, kalau anak-anak kost mungkin, istilahnya untuk biaya fotocopy saja pun masih minjem sama teman, tapi kemana-mana wajib pakai baju bermerek, makan di restoran, gonta ganti hape, dan banyak lagi kelakuan Besar Pasak Dari Pada Tiang,” ucapnya.

Mengapa Lagu Nias Belum "Booming" Nasional?
Selain bercerita tentang lagu "Hokha", Constant juga sempat merefleksikan kondisi musik daerah. Ia mengamati mengapa lagu-lagu dari Timur Indonesia sering kali lebih mudah meledak (booming) secara nasional dibandingkan lagu Nias.
Menurutnya para musisi Timur umumnya saling menopang, ajaran Kristen di wilayah Timur benar-benar dipraktekkan untuk saling menopang sebagai sesama anak Tuhan. Baginya hal ini belum ada di kalangan musisi Nias, belum ada kerjasama satu dengan yang lain.
“Katanya bersaudara, katanya Fatalifuso, kenyataannya tidak, lain di bibir lain di hati. Kemampuan kerjasama akan sangat menentukan posisi tawar lagu-lagu Nias, kalau kita hanya mencintai karya kita sendiri, kita begitu sulit mengapresiasi karya orang lain. Kita kerap mengapresiasi karena kita kenal orang itu atau karena itu misalnya perempuan, dia cantik dan pantas diapresiasi, lagi-lagi bukan karena karyanya yang bagus,” ucap Constant.
Mengapa Lagu Timur bagus baginya karena musisi Timur sudah sampai menyentuh emosi bahwa ini adalah lagu mereka, lagu yang harus didukung, ditopang agar popular dan naik keatas.
Lebih Bangga Menyanyikan Lagu Daerah Lain
Satu lagi yang ia soroti adalah bagaimana masyarakat Nias dengan bangganya menyanyikan lagu daerah lain di berbagai acara yang menghadirkan khalayak ramai. Ia miris melihat kondisi ini, jika bukan orang Nias yang menyanyikan lagu daerahnya lalu siapa?.
“Di Timur tidak ada yang menyanyikan lagu Nias, atau di Balige atau di Bandung misalnya, lagu Nias tidak dinyanyikan ramai-ramai di sebuah acara, tapi kita dengan bangganya menyanyikan lagu-lagu daerah orang lain di acara yang kita sendiri yang hadiri dan adakan. Pertanyaannya lalu siapa yang membesarkan lagu Nias kalau bukan kita. Itu makanya mengapa lagu-lagu kita seperti berjalan sendiri tidak menemukan “tempatnya” sendiri,” kata Constant.
25 Tahun Berkarya
Sampai detik ini Contanst Giawa konsisten menolak disebut sebagai musisi atau seniman. Ia mengaku hanya seseorang yang senang menikmati musik karena merasa tidak punya basic musikologi. Meski demikian sejak menciptakan Hokha, ia juga cukup produktif membuat beberapa lagu lainnya diantaranya Saohagolo Ama, Ha’yaia, Asondru, Ono Alawe Zibongi dan Faomasigu Nagu yang dipopulerkan Tice Halawa.
“Mungkin tidak banyak yang populer, tetapi saya membuat lagu untuk saya, supaya tidak semakin terpuruk dengan keadaan saya, saya masih merangkum merumuskan seluruh pikiran yang saya buat dan kalau bisa saya tuangkan dalam lagu mengapa tidak,” katanya.
Tahun ini tepat 25 tahun ia berkarya, 2001-2006 baginya adalah kesempatan istimewa bisa menelurkan karya dan melengkapi khazanah musik Nias. Saat ini ia tengah membuat kliping tentang-tentang pemikiran-pemikirannya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....