Merasa Tidak Bisa Bekerja tanpa Stimulus Tambahan

  • 28 Sep 2026 15:24 WIB
  •  Gunung Sitoli

RRI.CO.ID, Gunungsitoli - Pernahkah kamu merasa sulit bekerja tanpa musik, makan tanpa menonton, atau duduk sebentar tanpa membuka ponsel?

Fenomena ini semakin umum. Ketika bekerja, kita menyalakan musik, podcast, atau video sebagai "teman". Saat makan, tangan terasa ingin membuka TikTok atau YouTube. Ketika punya waktu luang, kita lebih mudah menghabiskan satu jam menonton video pendek daripada duduk menonton film berdurasi dua jam. Bahkan, tidak sedikit orang yang lebih memilih mencari ringkasan film di TikTok atau YouTube daripada menonton filmnya langsung. Ini bukan semata-mata soal malas atau kurang disiplin. Ada perubahan dalam cara kita terbiasa menggunakan perhatian.

Kita semakin terbiasa dengan stimulus

Manusia sebenarnya tidak selalu membutuhkan hiburan saat melakukan sesuatu. Kita bisa makan tanpa layar, bekerja dalam keheningan, atau bepergian tanpa earphone. Namun, lingkungan digital membuat keadaan tanpa stimulus semakin jarang.

Ketika bosan, kita membuka ponsel. Ketika pekerjaan terasa berat, kita menyalakan musik. Ketika makan terasa sepi, kita membuka video. Lama-kelamaan, kesunyian terasa seperti sesuatu yang harus segera diisi.

Musik sendiri tentu tidak selalu buruk untuk konsentrasi. Untuk pekerjaan tertentu, musik justru dapat membantu menciptakan suasana. Persoalannya adalah ketika kita merasa tidak bisa bekerja tanpa stimulus tambahan.

Mungkin yang kita cari bukan musiknya, melainkan cara untuk mengurangi rasa bosan.

Makan pun membutuhkan hiburan

Hal yang sama terjadi saat makan. Awalnya, menonton sambil makan hanyalah hiburan tambahan. Namun setelah terbiasa, makan tanpa layar bisa terasa kurang menyenangkan. Kita mendapatkan dua stimulasi sekaligus: makanan dan konten.

Akibatnya, ketika hanya ada satu stimulus, pengalaman tersebut terasa "kurang". Bukan karena makanannya berubah, tetapi karena standar stimulasi kita yang berubah.

Dari menikmati cerita menjadi mengejar rangsangan

Perubahan paling jelas terlihat pada cara kita menikmati hiburan. Film berdurasi dua jam membutuhkan kesabaran. Ada dialog, adegan yang lambat, dan bagian cerita yang harus kita tunggu sebelum mendapatkan hasilnya. Video pendek bekerja dengan cara berbeda. Dalam beberapa detik kita sudah mendapatkan informasi, lelucon, konflik, atau kejutan. Kalau tidak menarik, tinggal geser.

Kita akhirnya terbiasa dengan pola: menonton → menilai → bosan → geser → mencari sesuatu yang lebih menarik.

Akibatnya, film yang sebenarnya membutuhkan waktu untuk membangun cerita bisa terasa membosankan, bukan karena filmnya buruk, tetapi karena kita semakin tidak terbiasa menunggu.

Mengapa orang memilih ringkasan film?

Fenomena movie recap menunjukkan perubahan ini dengan jelas. Daripada menonton film selama dua jam, kita bisa mengetahui seluruh alurnya dalam sepuluh menit: siapa tokohnya, apa konfliknya, apa twist-nya, dan bagaimana akhirnya. Dari sisi efisiensi, pilihan tersebut masuk akal. Tetapi ada sesuatu yang hilang.

Mengetahui cerita tidak sama dengan mengalami cerita.

Kita bisa mengetahui sebuah karakter meninggal tanpa mengalami bagaimana film membuat kita peduli kepadanya. Kita bisa mengetahui ending tanpa merasakan ketegangan menuju ending tersebut. Film adalah pengalaman; recap mengubah pengalaman itu menjadi informasi.

Bukan salah video pendek, tetapi kemampuan memilih

Video pendek bukanlah musuh. Konten singkat bisa menghibur dan bahkan memberikan informasi yang berguna. Masalahnya muncul ketika kita tidak lagi mampu bertahan pada sesuatu yang panjang. Pertanyaannya bukan apakah kita menonton TikTok atau film. Pertanyaannya:

"Apakah kita masih mampu memilih untuk memberikan perhatian pada sesuatu selama dua jam ketika kita memang menginginkannya?"

Begitu pula dengan musik.Bukan masalah apakah kita suka bekerja sambil mendengarkan musik. Yang penting adalah apakah kita masih mampu bekerja ketika tidak ada musik. Dan bukan masalah apakah kita suka makan sambil menonton. Pertanyaannya adalah apakah kita masih bisa menikmati makan ketika tidak ada layar.

Mungkin yang hilang bukan fokus, tetapi toleransi terhadap kebosanan

Kita sering mengatakan bahwa orang zaman sekarang tidak bisa fokus. Mungkin masalahnya lebih sederhana: kita semakin terbiasa dengan stimulasi tinggi dan pergantian informasi yang cepat. Karena itu, aktivitas yang lambat terasa lebih berat. Membaca buku terasa lama. Menonton film terasa terlalu panjang. Pekerjaan rutin terasa membosankan. Makan tanpa ponsel terasa sepi.

Padahal, kebosanan tidak selalu sesuatu yang harus segera dihilangkan.

Sesekali kita perlu membiarkan diri sendiri bekerja tanpa musik, makan tanpa layar, berjalan tanpa earphone, atau sekadar duduk tanpa membuka ponsel. Bukan untuk memusuhi teknologi, tetapi untuk memastikan bahwa kita masih memiliki pilihan. Kita boleh menikmati musik, TikTok, YouTube, atau movie recap. Tetapi kita juga perlu tetap mampu mengatakan:

"Saya tidak membutuhkan stimulasi tambahan saat ini."

Di tengah dunia yang semakin ramai, kemampuan untuk merasa nyaman dalam keheningan mungkin justru menjadi salah satu bentuk konsentrasi yang paling berharga.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....