Ngopi Bukan Lagi Soal Kantuk, tapi Sudah Jadi Budaya
- 26 Mei 2026 08:30 WIB
- Gunung Sitoli
RRI.CO.ID, Gunungsitoli - Kalau dulu kopi identik dengan bapak-bapak di warung sebagai teman begadang atau bekerja, kini budaya ngopi sudah berubah. Anak muda hingga orang tua menjadikan kopi sebagai bagian dari gaya hidup. Mulai dari nongkrong di coffee shop, bekerja sambil ngopi, hingga sekadar mengikuti tren minuman kekinian.
Dokter dan influencer kesehatan Tirta Mandira Hudhi atau dr. Tirta pernah menjelaskan bahwa kopi hitam tanpa gula berlebih sebenarnya tidak selalu buruk bagi kesehatan. Bahkan saat masih kuliah kedokteran di Universitas Gadjah Mada, ia pernah meneliti tentang efek kopi robusta terhadap tubuh.
Kopi mengandung antioksidan dan kafein yang dapat membantu meningkatkan fokus serta kewaspadaan tubuh jika dikonsumsi dalam batas wajar. Konsumsi kopi sekitar 2–3 shot per hari juga masih dianggap dalam batas toleransi aman bagi sebagian orang sehat.
Fakta menarik lainnya, kopi kini mulai banyak digunakan sebagai “pre-workout alami” karena kandungan kafein di dalamnya dapat membantu meningkatkan performa dan mengurangi rasa lelah saat berolahraga.
Selain itu, sejumlah penelitian kesehatan menyebut kopi memiliki kandungan senyawa seperti asam klorogenat dan kafein yang berpotensi membantu melawan radikal bebas, menjaga fungsi otak, hingga menurunkan risiko beberapa penyakit metabolik bila dikonsumsi sewajarnya.
Namun, yang sering menjadi masalah bukan hanya kopinya, melainkan tambahan gula, krimer, serta konsumsi berlebihan. Meski memiliki sejumlah manfaat, konsumsi kopi juga tidak disarankan bagi sebagian orang dengan kondisi kesehatan tertentu, seperti gangguan lambung, hipertensi, atau gangguan irama jantung.
Kini, kopi bukan hanya minuman pengusir kantuk. Dari warung sederhana hingga coffee shop modern, budaya ngopi telah berubah menjadi bagian dari aktivitas sosial dan gaya hidup masyarakat masa kini.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....