Tepung Tawar Haji: Perpaduan Ibadah dan Tradisi Lokal

  • 20 Apr 2026 10:48 WIB
  •  Gunung Sitoli

RRI.CO.ID, Gunungsitoli - Tradisi tepung tawar haji menjadi salah satu bentuk kearifan lokal yang masih terjaga di berbagai daerah di Indonesia. Ritual ini biasanya dilakukan sebelum atau sesudah seseorang menunaikan ibadah haji sebagai simbol doa, restu, dan harapan keselamatan. Meski memiliki makna yang relatif sama, setiap daerah menghadirkan cara pelaksanaan yang unik, mencerminkan kekayaan budaya Nusantara yang beragam.

Di wilayah Melayu seperti di Sumatera Utara dan Riau, tepung tawar dilakukan dengan memercikkan air bercampur daun-daunan tertentu ke tangan atau kepala calon jamaah haji. Prosesi ini diiringi doa-doa dan petuah dari tokoh adat atau orang yang dituakan. Tidak hanya sekadar ritual, momen ini juga menjadi ajang mempererat silaturahmi antar keluarga dan masyarakat sekitar.

Keunikan lain terlihat di beberapa daerah di Kalimantan, di mana tepung tawar dipadukan dengan prosesi adat yang lebih panjang. Selain percikan air, terdapat juga penggunaan beras kuning sebagai simbol kemakmuran serta iringan musik tradisional. Bahkan, dalam beberapa komunitas, acara ini dikemas layaknya perayaan kecil dengan hidangan khas yang disajikan untuk para tamu.

Sementara itu, di sebagian wilayah pesisir, tradisi tepung tawar haji dikombinasikan dengan doa bersama yang melibatkan seluruh warga kampung. Calon jamaah haji biasanya diarak secara sederhana sebelum prosesi dilakukan. Hal ini menunjukkan bahwa keberangkatan haji tidak hanya menjadi kebahagiaan keluarga, tetapi juga kebanggaan kolektif masyarakat setempat.

Pengamat budaya, Dr. Siti Nurhayati, menilai bahwa tradisi tepung tawar haji memiliki nilai sosial dan spiritual yang kuat. Menurutnya, ritual ini bukan sekadar simbol, melainkan media untuk memperkuat identitas budaya sekaligus menanamkan nilai kebersamaan. “Tradisi seperti ini penting dijaga, karena mampu menghubungkan praktik keagamaan dengan kearifan lokal tanpa menghilangkan esensi ibadah itu sendiri,” ujarnya.

Dengan segala keunikannya, tradisi tepung tawar haji menjadi bukti bahwa praktik keagamaan di Indonesia tidak lepas dari sentuhan budaya lokal. Selama tetap berada dalam koridor nilai-nilai yang positif, tradisi ini dapat terus dilestarikan sebagai bagian dari warisan budaya yang memperkaya kehidupan masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....