PLN Peduli Tiga Tahun Dampingi Desa Dunu, Dorong Kemandirian

  • 10 Sep 2026 07:45 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID, Gorontalo - Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN Peduli memasuki tahun ketiga pendampingan masyarakat Desa Dunu, Kecamatan Monano, Kabupaten Gorontalo Utara, dengan mendorong penguatan desa wisata pesisir yang lebih mandiri. Pada 2026, program yang diinisiasi PLN UIP3B Sulawesi melalui PLN UPT Manado bersama Sepadan Ruang Indonesia sebagai mitra pelaksana tersebut diarahkan pada penguatan konservasi pesisir dan hilirisasi produk masyarakat berbasis elektrifikasi.

Pengembangan Desa Dunu mengintegrasikan tiga pilar, yakni edukasi, ekologi dan ekonomi. Pendekatan ini menjadi kelanjutan dari program dua tahun sebelumnya yang membangun fondasi lingkungan, meningkatkan kapasitas masyarakat, menata destinasi wisata dan memperkuat usaha lokal.

Kepala Desa Dunu, Indriyati Kulupani, menilai keberlanjutan pendampingan selama tiga tahun penting karena pembangunan desa membutuhkan proses yang tidak berhenti pada satu kegiatan. Menurut Indriyati, keberadaan kawasan konservasi dan rumah produksi menjadi bekal bagi masyarakat untuk melanjutkan berbagai kegiatan secara mandiri setelah program pendampingan berakhir. Ia berharap Dunu dapat tumbuh sebagai desa wisata pesisir yang berdaya saing.

“Kami sangat mengapresiasi PLN Peduli yang selama tiga tahun tetap bersama Pemerintah Desa dan masyarakat Dunu. Prosesnya tidak berhenti pada satu kegiatan. Kami memulai dari penghijauan, kemudian penguatan pariwisata, pendidikan dan ekonomi masyarakat, hingga tahun ini masuk pada konservasi penyu dan hilirisasi produk,” kata Indriyati.

Salah satu fokus program 2026 adalah pengembangan kawasan konservasi penyu menjadi Integrated Edu-Conservation Area atau IECA. Kawasan ini dirancang sebagai tempat penangkaran dan pelepasliaran penyu sekaligus ruang pembelajaran, wisata edukatif, konservasi pesisir dan pemberdayaan masyarakat.

Konsep tersebut menghubungkan Turtle Hatchery dan Bubara Cultivation, Coral Transplantation Area, serta Mangrove Park dalam satu ekosistem konservasi dan edukasi berbasis Community and Nature-Based Tourism. Program ini juga diarahkan membentuk Eco-Ranger Desa Dunu dari masyarakat lokal. Eco-Ranger nantinya berperan dalam kegiatan konservasi, edukasi lingkungan, pendampingan wisatawan dan operasional kawasan. Dengan pendekatan tersebut, kegiatan konservasi diharapkan menyatu dengan kehidupan masyarakat serta menjadi ruang belajar dan aktivitas ekonomi desa.

Perjalanan pemberdayaan dimulai sejak 2024 melalui penguatan pilar ekologi. Sebanyak 2.600 bibit pohon ditanam di kawasan pesisir, permukiman, perkebunan dan sejumlah ruang yang diproyeksikan mendukung pengembangan Desa Wisata Dunu, termasuk kelapa genjah di tepian pantai.

Ketua Kelompok Sadar Wisata Desa Dunu, Ilham mengatakan, penghijauan yang dilakukan tidak hanya mempertimbangkan aspek lingkungan, tetapi juga manfaat ekonomi ketika kawasan wisata berkembang.

“Yang kami rasakan berbeda itu penghijauan ini bukan sekedar tanam pohon, tapi sejak awal sudah dipikirkan manfaatnya untuk Desa Dunu ketika berkembang menjadi desa wisata beberapa tahun kedepan. Kelapa genjah yang ditanam di sepanjang kawasan pantai nanti bisa dinikmati wisatawan, sementara kami dapat menjual kelapa segar dan memperoleh pendapatan tambahan,” kata Ilham.

Pada 2025, pengembangan mulai mempertemukan aspek edukasi, ekonomi dan ekologi melalui 31 kegiatan fisik dan nonfisik. Dari jumlah tersebut, 14 kegiatan berada pada pilar edukasi, tujuh ekonomi dan 10 kegiatan ekologi, termasuk pendampingan kuliner, suvenir, UMK dan homestay.

Salah satu masyarakat penerima manfaat, Meylan S. Patamani, mengembangkan My Homestay sebagai bagian dari layanan akomodasi wisata. Pendampingan membuat rumah yang sebelumnya hanya digunakan untuk kebutuhan keluarga mulai dilihat sebagai peluang ekonomi tambahan melalui sektor pariwisata.

Pada 2026, penguatan ekonomi dilanjutkan melalui Rumah Produksi Masyarakat untuk mengolah potensi akuakultur dan agrikultur desa. Komoditas bubara dan cakalang dari sektor perikanan serta pepaya dan kacang merah dari sektor pertanian diarahkan menjadi produk bernilai tambah dengan dukungan mesin produksi berbasis listrik, penguatan kemasan dan legalitas usaha seperti NIB, PIRT dan sertifikasi halal.

Konsep Electrifying Aqua-Agriculture menjadi bagian penting dalam pengembangan tahun ketiga. Pemanfaatan energi listrik untuk peralatan produksi diarahkan mengurangi ketergantungan pada mesin berbahan bakar minyak atau solar sekaligus meningkatkan efisiensi pengolahan hasil perikanan dan pertanian masyarakat.

Pengembangan tersebut mempertemukan tiga pilar Desa Berdaya Dunu dalam satu ekosistem. Ekologi menjaga sumber daya alam, edukasi meningkatkan kapasitas masyarakat, sedangkan ekonomi menciptakan nilai tambah agar manfaat program dapat terus berjalan secara mandiri.

Desa Dunu memiliki potensi ekologis yang kuat karena wilayah pesisirnya berhubungan dengan kawasan konservasi Pulau Popaya dan Pulau Raja. Pemetaan partisipatif juga telah mengidentifikasi perkembangan potensi wisata dari empat daya tarik wisata eksisting menjadi 21 ruang potensial yang dapat dikembangkan.

Indriyati berharap setelah program memasuki fase kemandirian, masyarakat dapat mengambil peran lebih besar dalam mengelola fasilitas, konservasi dan unit ekonomi yang telah dibangun.

“Yang kami inginkan setelah ini adalah masyarakat mampu melanjutkan. Eco-Ranger menjaga kawasan, kelompok usaha mengelola rumah produksi, Pokdarwis mengembangkan pariwisata, dan seluruhnya saling mendukung. Jadi ketika program selesai, manfaatnya tidak ikut selesai,” kata Indriyati.

Tahun ketiga pendampingan PLN Peduli menjadi fase penting bagi Desa Dunu untuk bergerak dari penerima program menuju pengelola ekosistemnya sendiri. Konservasi menjaga lingkungan pesisir, elektrifikasi mendukung produksi, sementara masyarakat ditempatkan sebagai pelaku utama pengembangan desa wisata dan ekonomi lokal. (RA)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....