Komisi I Deprov Soroti Ancaman Kemarau Panjang dan Karhutla

  • 28 Agt 2026 12:08 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID, Gorontalo — Komisi I DPRD Provinsi Gorontalo menyoroti ancaman kemarau panjang yang berpotensi meningkatkan risiko kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Gorontalo.

Hal itu menjadi salah satu perhatian Komisi I saat melakukan kunjungan kerja ke BMKG Gorontalo, Rabu 26 Agustus 2026. Kunjungan tersebut dilakukan untuk memperoleh informasi terkini mengenai kondisi iklim, cuaca, kekeringan, potensi karhutla, hingga ancaman gempa bumi dan tsunami.

Ketua Komisi I DPRD Provinsi Gorontalo, Fadli Poha, mengatakan kondisi kemarau yang berlangsung cukup panjang mulai memberikan dampak terhadap lahan pertanian masyarakat.

Menurutnya, banyak lahan yang berada dalam kondisi kering, termasuk perkebunan jagung yang mengalami gagal panen. Kondisi tersebut dinilai meningkatkan potensi terjadinya kebakaran.

“Yang menjadi perhatian kita adalah bagaimana mengantisipasi dampak musim kemarau yang panjang. Banyak lahan dalam kondisi kering, termasuk perkebunan jagung yang mengalami gagal panen, sehingga sangat mudah menjadi pemicu kebakaran,” ujar Fadli.

Fadli mengatakan ancaman kebakaran lahan tidak hanya berasal dari faktor cuaca, tetapi juga aktivitas manusia.

Karena itu, ia mendorong agar pemerintah dan instansi terkait meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat mengenai bahaya pembakaran lahan, termasuk konsekuensi hukum bagi mereka yang sengaja melakukan pembakaran.

“Ini juga perlu disosialisasikan kepada masyarakat karena ada ancaman pidana bagi mereka yang sengaja melakukan pembakaran lahan,” tegasnya.

Dalam pemaparannya, BMKG menjelaskan bahwa Gorontalo saat ini masih berada dalam periode musim kemarau.cPuncak musim kemarau diperkirakan berlangsung pada Agustus hingga September. Sementara fenomena El Nino diprediksi masih aktif hingga awal 2027.

Kondisi tersebut berpotensi membuat musim kemarau berlangsung lebih panjang dibandingkan kondisi normal.cHampir seluruh kabupaten dan kota di Provinsi Gorontalo juga saat ini berada dalam status siaga kekeringan meteorologis.

BMKG memprakirakan peluang hujan masih sangat minim pada Agustus hingga September. Potensi hujan mulai muncul pada Oktober, khususnya di sejumlah wilayah seperti Bone Bolango bagian utara dan Pohuwato bagian utara.

Memasuki November, peluang hujan diperkirakan meningkat dan mulai lebih merata di wilayah Gorontalo. Sementara puncak musim hujan diproyeksikan terjadi pada Desember hingga Januari.

BMKG juga mengingatkan bahwa suhu udara yang tinggi, kondisi lahan kering dan angin kencang dapat mempercepat penyebaran api apabila terjadi kebakaran.cRata-rata suhu maksimum normal pada Agustus berada di sekitar 34,1 derajat Celsius. Namun, suhu ekstrem di lapangan dapat mencapai 35 hingga 36 derajat Celsius.

Kecepatan angin juga sempat mencapai 10,8 meter per detik pada Juli, lebih tinggi dibandingkan kondisi normal sekitar 6 hingga 8 meter per detik.cMeski demikian, berdasarkan pemantauan satelit Himawari terbaru, belum terdapat titik api yang terkonfirmasi di Gorontalo.

Komisi I DPRD Provinsi Gorontalo mendorong pemerintah memperkuat langkah antisipasi dampak kemarau, termasuk pencegahan karhutla dan perlindungan terhadap sektor pertanian.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....