Makna Filosofi Ketupat di Gorontalo
- 27 Mar 2026 08:38 WIB
- Gorontalo
GORONTALO – Hari Ketupat di Gorontalo merupakan tradisi unik yang selalu dinantikan masyarakat setiap tanggal 7–8 Syawal, atau seminggu setelah Hari Raya Idul Fitri. Tradisi ini telah berkembang menjadi budaya lokal yang inklusif, di mana semua lapisan masyarakat ikut merayakannya bersama‑sama.
Asal tradisi ini berakar dari komunitas Jawa‑Tondano (Jaton) yang bermigrasi ke Gorontalo sejak awal abad ke‑20. Warga Jaton yang menetap di wilayah seperti Desa Yosonegoro memprakarsai perayaan ketupat yang kemudian menyebar dalam kehidupan masyarakat Gorontalo secara luas.
Lebaran Ketupat bukan hanya soal menikmati makanan khas seperti ketupat, nasi bulu, dan dodol bersama keluarga atau tetangga, tetapi juga sarat dengan makna filosofis. Ketupat secara tradisional dianggap sebagai simbol rasa syukur setelah menjalankan ibadah puasa Ramadan dan puasa Syawal, sekaligus menjadi simbol persatuan dan kebersamaan masyarakat melalui acara makan bersama tanpa sekat.
Secara budaya, tradisi ketupat mencerminkan nilai silaturahmi dan keterbukaan. Saat perayaan berlangsung, masyarakat terbuka menerima siapa saja untuk datang dan menikmati hidangan bersama sebagai bentuk kebersamaan dan suka cita pasca Lebaran.
Filosofi ketupat sendiri dalam konteks Islam juga dihubungkan dengan arti ketupat yang berasal dari istilah ngaku lepat—mengakui kesalahan dan saling memaafkan setelah Ramadan—sehingga menjadi simbol pembersihan diri, kebersihan hati, dan memupuk persaudaraan.
Dengan demikian, Hari Ketupat di Gorontalo bukan sekadar tradisi kuliner, tetapi juga warisan budaya yang mengajarkan makna hidup tentang syukur, kebersamaan, dan nilai sosial yang mendalam.
Mau saya buat versi lebih keren untuk media sosial juga (lebih singkat dan visual)?
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....