Konsumsi Jamu Sembarangan Tingkatkan Risiko Kerusakan Ginjal Kronis
- 07 Agt 2026 19:44 WIB
- Gorontalo
RRI.CO.ID , Gorontalo - Banyak masyarakat menganggap jamu tradisional, obat pereda nyeri, hingga suplemen vitamin sebagai produk yang aman dikonsumsi setiap hari karena mudah diperoleh tanpa resep dokter. Padahal, di balik anggapan tersebut tersimpan risiko yang tidak boleh diabaikan. Penggunaan obat maupun produk herbal secara berlebihan atau tanpa pengawasan tenaga medis dapat meningkatkan risiko kerusakan ginjal.
Di Indonesia, konsumsi jamu telah menjadi bagian dari budaya dan kebiasaan masyarakat selama puluhan tahun. Berbagai jenis jamu dipercaya mampu meredakan pegal linu, mengurangi rasa nyeri, meningkatkan stamina, hingga menjaga daya tahan tubuh. Begitu pula dengan obat pereda nyeri dan suplemen vitamin yang kerap dikonsumsi secara mandiri ketika muncul keluhan kesehatan ringan.
Namun, kemudahan memperoleh produk-produk tersebut justru dapat menimbulkan rasa aman yang berlebihan. Banyak orang mengonsumsinya dalam jangka panjang tanpa mengetahui kandungan, dosis yang tepat, maupun dampaknya terhadap organ tubuh, terutama ginjal.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam, dr. Hamidah, mengingatkan bahwa semua zat yang masuk ke dalam tubuh, baik obat kimia maupun produk herbal, pada akhirnya akan diproses oleh organ-organ penting, termasuk ginjal. Karena itu, konsumsi yang tidak sesuai aturan dapat meningkatkan beban kerja ginjal hingga memicu gangguan fungsi organ tersebut.
Dalam podcast bersama Dokter Spesialis Andrologi sekaligus edukator kesehatan, dr. Jefry Tribowo, yang diunggah melalui kanal YouTube miliknya, dr. Hamidah menjelaskan bahwa ginjal memiliki peran vital sebagai penyaring darah. Organ ini bertugas membuang sisa metabolisme serta zat-zat yang tidak lagi dibutuhkan tubuh melalui urine.
Apabila seseorang mengonsumsi obat, jamu, atau suplemen secara berlebihan, terutama dalam dosis tinggi dan berlangsung terus-menerus, kemampuan ginjal dalam menyaring zat-zat tersebut dapat menurun. Kondisi ini berpotensi menyebabkan peradangan hingga kerusakan ginjal yang berlangsung secara perlahan tanpa disadari.
| Baca juga: Enam Makanan Alami untuk Kulit Sehat |
Menurut dr. Hamidah, tidak semua obat secara langsung merusak ginjal. Namun, sejumlah obat yang umum dikonsumsi masyarakat memiliki potensi menimbulkan gangguan apabila digunakan tidak sesuai anjuran. Di antaranya adalah obat golongan anti nyeri, obat lambung tertentu, beberapa jenis antibiotik, serta obat-obatan untuk penyakit jantung dan pembuluh darah.
Ia menegaskan bahwa risiko tersebut umumnya muncul akibat penggunaan dalam dosis tinggi, jangka waktu yang lama, atau tanpa pemantauan tenaga kesehatan.
Selain obat-obatan, masyarakat juga perlu lebih berhati-hati terhadap konsumsi jamu atau produk herbal yang belum memiliki standar keamanan yang jelas. Sebab, tidak sedikit produk herbal yang mengandung campuran bahan kimia obat tanpa diketahui konsumen. Kandungan tersebut dapat memberikan efek cepat dalam meredakan keluhan, tetapi berpotensi meningkatkan risiko gangguan fungsi ginjal apabila dikonsumsi terus-menerus.
Para ahli kesehatan mengimbau masyarakat untuk tidak menganggap semua produk herbal pasti aman hanya karena berasal dari bahan alami. Setiap produk tetap memiliki aturan penggunaan, dosis, serta kemungkinan efek samping yang perlu diperhatikan.
Masyarakat juga disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan apabila harus mengonsumsi obat maupun jamu dalam jangka panjang, terutama bagi penderita hipertensi, diabetes, penyakit jantung, maupun mereka yang telah memiliki gangguan fungsi ginjal.
Menjaga kesehatan ginjal tidak hanya dilakukan dengan mencukupi kebutuhan cairan dan menerapkan pola hidup sehat, tetapi juga dengan bijak menggunakan obat-obatan maupun produk herbal. Penggunaan yang tepat sesuai indikasi dan anjuran medis menjadi langkah penting untuk mencegah kerusakan ginjal yang dapat berdampak pada kualitas hidup di kemudian hari.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....