Menguap Bukan Sekadar Kantuk, Ini Kata Studi
- 28 Jun 2026 20:44 WIB
- Gorontalo
Poin Utama
- Menguap bukan hanya tanda kantuk, tetapi dapat memengaruhi aliran cairan otak.
- Studi MRI menemukan cairan serebrospinal dan darah vena bergerak keluar saat menguap.
- Temuan ini masih awal karena penelitian hanya melibatkan 22 peserta sehat.
RRI.CO.ID, Gorontalo - Menguap ternyata bukan hanya tanda mengantuk atau bosan. Studi baru menemukan gerakan sederhana ini dapat memengaruhi aliran cairan otak.
Menguap sering dianggap hal sepele dalam aktivitas harian. Padahal, ilmuwan masih meneliti fungsi biologis di balik gerakan tersebut.
Riset dari UNSW Sydney dan Neuroscience Research Australia meneliti proses menguap memakai pemindaian MRI waktu nyata. Penelitian ini membandingkan menguap dengan bernapas normal dan bernapas dalam.
Studi itu terbit dalam jurnal Respiratory Physiology & Neurobiology. Artikel ilmiahnya berjudul Biomechanics of contagious yawning: Insights into cranio-cervical fluid dynamics and kinematic consistency.
Penelitian tersebut melibatkan 22 orang dewasa sehat dalam satu sesi MRI. Peneliti mengukur aliran cairan serebrospinal dan darah vena di bagian leher atas.
Hasilnya menunjukkan menguap bukan sekadar tarikan napas besar. Menguap memicu pola gerak cairan otak yang berbeda dari napas dalam.
UNSW Sydney melaporkan, menguap membuat cairan serebrospinal dan darah vena bergerak keluar dari tengkorak secara bersamaan. Saat bernapas dalam, cairan serebrospinal justru mengalir masuk ke tengkorak.
Cairan serebrospinal memiliki peran penting bagi otak dan sumsum tulang belakang. Cairan ini membantu melindungi jaringan saraf, membawa nutrisi, dan membuang limbah.
Profesor Lynne Bilston mengatakan, “We observed that yawning is a body movement that can influence the flow of fluids around the brain.” Pernyataan itu menunjukkan menguap dapat memengaruhi dinamika cairan di sekitar otak.
Bilston juga menyebut ada dugaan menguap membantu membersihkan limbah dari otak. Namun, ia menegaskan bukti sebelumnya belum cukup kuat.
“Our research suggests that yawning can play a role in cleaning brain fluid, which would most likely happen close to bedtime,” kata Bilston. Temuan ini membuat ilmuwan tertarik meneliti hubungan menguap dan tidur.
Peneliti menilai temuan ini penting untuk riset penyakit neurodegeneratif. Alzheimer, Parkinson, dan demensia berpotensi berkaitan dengan penumpukan limbah di sekitar otak.
Namun, hasil ini belum berarti menguap dapat mencegah penyakit otak. Peneliti masih menyebut kaitan tersebut sebagai ruang riset yang perlu diuji lebih lanjut.
Studi ini juga memiliki keterbatasan. Jumlah peserta hanya 22 orang, dan menguap yang diuji bersifat menular karena dipicu oleh tayangan visual.
Peneliti juga menemukan pola unik pada gerakan lidah saat menguap. Adam Martinac menyebut pola itu hampir seperti sidik jari karena konsisten pada tiap orang.
Menguap sesekali merupakan hal wajar. Namun, menguap berlebihan yang disertai kantuk berat, pusing, atau gangguan tidur perlu diperiksa ke tenaga medis.
Berita ini diolah dan disunting dengan melibatkan teknologi AI.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....