Studi: Pengharum Mobil Bisa Ganggu Kesehatan
- 28 Jun 2026 20:46 WIB
- Gorontalo
Poin Utama
- Pengharum mobil dapat melepaskan VOC di ruang kabin yang kecil dan tertutup.
- Orang dengan asma, alergi, migrain, atau sensitivitas kimia lebih berisiko mengalami gejala.
- Cara paling aman menjaga kabin segar adalah membersihkan sumber bau dan meningkatkan ventilasi.
RRI.CO.ID, Gorontalo - Aroma segar di mobil tidak selalu berarti udara lebih sehat. Pengharum mobil bisa memicu keluhan bagi orang yang sensitif terhadap wewangian.
Pengharum mobil banyak dipakai untuk menutup bau tidak sedap. Namun, produk beraroma dapat melepaskan senyawa kimia ke udara kabin.
Studi tahun 2020 meneliti emisi kimia dari 12 pengharum ruangan mobil. Jenisnya mencakup klip ventilasi, gantungan, kaleng, pembungkus, dan semprotan.
Peneliti menemukan 546 senyawa organik volatil atau VOC dari produk tersebut. Sebanyak 30 VOC diklasifikasikan sebagai senyawa yang berpotensi berbahaya.
Studi itu juga menemukan semua produk mengeluarkan setidaknya satu VOC berpotensi berbahaya. Produk biasa dan produk berlabel alami tidak menunjukkan perbedaan signifikan pada emisi berbahaya.
Peneliti menulis, "Emisi pengharum ruangan mobil menjadi perhatian khusus, mengingat interior mobil adalah ruang kecil dan tertutup." Kondisi itu dapat meningkatkan paparan polutan dari dalam dan luar kendaraan.
Mereka juga menegaskan pengharum ruangan tidak mengurangi polutan udara. Produk itu dirancang untuk memberi aroma atau menutupi bau, bukan membersihkan udara.
EPA menyebut VOC dapat keluar sebagai gas dari berbagai produk. Air freshener termasuk salah satu sumber VOC dalam ruangan.
| Baca juga: Bahaya Tersembunyi Ikan Asin bagi Kesehatan |
Paparan VOC dapat menimbulkan iritasi mata, hidung, dan saluran napas. EPA juga mencatat keluhan seperti sakit kepala, pusing, dan gangguan memori.
American Lung Association menyebut wewangian dapat memengaruhi kualitas udara dalam ruangan. Sebagian orang dapat mengalami batuk, mengi, sesak napas, sakit kepala, atau pusing.
Orang dengan asma, alergi, migrain, COPD, atau sensitivitas kimia perlu lebih berhati-hati. Anak-anak, lansia, dan ibu hamil juga termasuk kelompok yang lebih rentan.
Pengemudi sebaiknya mencari sumber bau sebelum menambah pengharum. Bau sering berasal dari sampah, jok basah, pakaian olahraga, atau filter kabin yang kotor.
Jika tetap memakai pengharum, pilih aroma ringan dan gunakan satu produk saja. Hindari produk ekstra kuat atau tahan lama di kabin kecil.
Buka jendela secara berkala untuk membantu sirkulasi udara. EPA juga menyarankan peningkatan ventilasi saat memakai produk yang mengeluarkan VOC.
Pengharum mobil tidak selalu berbahaya bagi semua orang. Namun, gejala seperti pusing, batuk, mata perih, atau sesak perlu menjadi tanda berhenti.
Keselamatan tetap menjadi prioritas saat berkendara. Udara kabin yang nyaman tidak boleh mengganggu konsentrasi pengemudi.
Berita ini diolah dan disunting dengan melibatkan teknologi AI.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....