Bahaya Tersembunyi Ikan Asin bagi Kesehatan

  • 12 Jun 2026 22:25 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID, Gorontalo — Ikan asin sudah lama menjadi bagian dari keseharian masyarakat Indonesia, termasuk di Gorontalo. Lauk sederhana yang gurih dan tahan lama ini kerap hadir di meja makan hampir setiap hari, mulai dari warung pinggir jalan hingga rumah tangga. Namun di balik cita rasanya yang menggugah selera, konsumsi ikan asin secara berlebihan menyimpan bahaya serius bagi kesehatan tubuh yang tidak boleh dianggap remeh.

Sejumlah penelitian modern mengingatkan bahwa mengonsumsi ikan asin secara berlebihan dapat membahayakan kesehatan. Proses pengawetan dengan garam dalam jumlah tinggi memicu terbentuknya zat berbahaya yang berisiko menyebabkan penyakit kronis. Temuan dari berbagai lembaga kesehatan terpercaya, termasuk studi yang diterbitkan di PubMed (2020) berjudul Pickled Vegetable and Salted Fish Intake and the Risk of Gastric Cancer, menemukan hubungan kuat antara konsumsi ikan asin dan meningkatnya risiko kanker lambung.

Kandungan garam atau natrium pada ikan asin sangat tinggi akibat proses pengawetan. Jika sering dikonsumsi dalam jumlah banyak, tubuh akan menerima asupan natrium yang melebihi kebutuhan harian. Hal ini dapat menyebabkan tekanan darah meningkat, terutama pada orang yang sudah memiliki riwayat hipertensi, lansia, atau penderita penyakit jantung. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan asupan natrium harian tidak lebih dari 2.000 mg atau setara satu sendok teh garam, sementara seporsi ikan asin saja bisa mengandung jauh melebihi angka tersebut.

Ginjal berfungsi untuk menyaring limbah dan kelebihan garam dari darah. Jika tubuh menerima terlalu banyak garam dari makanan, ginjal harus bekerja lebih keras untuk membuang kelebihan tersebut. Dalam jangka panjang, beban ini dapat merusak fungsi ginjal dan meningkatkan risiko terjadinya penyakit ginjal kronis. Lebih jauh, kondisi ini bahkan dapat berujung pada gagal ginjal. Tekanan darah tinggi akibat konsumsi garam berlebih juga bisa menyebabkan gagal jantung maupun penyakit jantung koroner, karena jantung dipaksa bekerja ekstra keras memompa darah ke seluruh tubuh.

Kandungan nitrosamin pada ikan asin hasil pengawetan menjadi ancaman kesehatan yang tak kalah serius. Nitrosamin merupakan zat karsinogenik yang berpotensi meningkatkan risiko kanker lambung. Selain itu, penelitian menyebutkan bahwa makanan asin dapat membuat dinding lambung mudah mengalami luka dan meningkatkan risiko infeksi bakteri H. pylori. Kedua hal ini dapat memicu peradangan kronis di dinding lambung, yang dalam jangka panjang meningkatkan risiko terjadinya kanker lambung.

Ikan asin yang diproses secara tidak higienis juga sering kali terkontaminasi bakteri atau jamur. Konsumsi produk semacam ini dapat menyebabkan gangguan pencernaan seperti diare dan keracunan makanan. Selain bakteri dan jamur, ikan asin yang diolah atau disimpan tidak higienis berpotensi mengandung bahan kimia berbahaya seperti formalin, yang masih kerap ditemukan pada produk ikan asin ilegal di pasaran. Masyarakat diimbau selalu memeriksa kondisi fisik ikan asin sebelum membeli: hindari yang berbau terlalu menyengat, berwarna mencurigakan, atau bertekstur tidak wajar.

Konsumsi garam berlebihan juga mempercepat keluarnya kalsium lewat urin, sehingga tulang kehilangan kepadatan mineral dan berisiko osteoporosis. Lebih dari itu, penelitian menunjukkan konsumsi garam tinggi berkaitan dengan menurunnya fungsi kognitif dan risiko demensia. Temuan ini semakin memperkuat perlunya masyarakat, termasuk di Gorontalo, untuk mulai mengurangi kebiasaan mengonsumsi ikan asin secara berlebihan dalam menu harian

Meski demikian, bukan berarti ikan asin harus sepenuhnya dihindari. Ikan asin dapat dikonsumsi dalam jumlah sedikit dan tidak terlalu sering. Ada beberapa langkah bijak yang dapat dilakukan: batasi konsumsi hanya sesekali, perbanyak sayur dan buah segar karena kandungan serat serta antioksidannya dapat membantu menetralkan dampak buruk makanan tinggi garam, pilih yang diolah secara bersih, dan minum air putih yang cukup agar ginjal dapat bekerja lebih efektif membuang kelebihan garam dari tubuh. Sebagai panduan umum, batasi asupan garam hingga 1 sendok teh per hari atau setara 2.300 mg natrium.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....