Hantavirus Mengintai, Kenali Gejala, Penularan, dan Pencegahannya

  • 12 Mei 2026 08:26 WIB
  •  Gorontalo
Poin Utama
  • Hantavirus menular melalui urin, tinja, dan air liur rodensia terinfeksi.
  • Gejala hantavirus dapat berupa demam, nyeri badan, batuk, dan sesak napas.
  • Pencegahan dilakukan dengan menjaga kebersihan dan mengendalikan tikus.

RRI.CO.ID, Gorontalo - Hantavirus kembali menjadi perhatian setelah muncul klaster kasus pada kapal pesiar. Penyakit ini perlu diwaspadai karena dapat menyerang paru-paru dan ginjal.

ECDC (European Centre for Disease Prevention and Control) mencatat sembilan kasus terkait kapal pesiar MV Hondius per 11 Mei 2026. Dari jumlah itu, tujuh kasus terkonfirmasi, dua kasus probable, dan tiga orang meninggal dunia.

Kasus tersebut dikaitkan dengan Andes hantavirus. ECDC menyebut virus ini dapat menular antarmanusia, tetapi umumnya membutuhkan kontak dekat dan berkepanjangan.

Laporan Kemenkes menyebut kapal membawa 147 orang dari 23 negara. Kapal itu berangkat dari Ushuaia, Argentina, pada 1 April 2026.

Hantavirus merupakan penyakit zoonosis yang ditularkan melalui rodensia. Hewan yang dapat menjadi sumber penularan antara lain tikus dan mencit.

Gejala hantavirus dapat berbeda, tergantung jenis infeksi yang dialami. Secara umum, masyarakat perlu waspada bila mengalami tanda berikut setelah kontak dengan tikus:

Pada HPS (Hantavirus Pulmonary Syndrome), gejala awal dapat menyerupai flu. CDC menyebut gejala dapat berupa demam, kelelahan, nyeri otot, sakit kepala, pusing, menggigil, serta gangguan perut.

Gejala berat dapat berkembang menjadi batuk dan sesak napas. Pada kondisi ini, penderita perlu segera mendapatkan pemeriksaan tenaga kesehatan.

  • Penularan hantavirus paling sering terjadi melalui paparan rodensia terinfeksi. Cara penularannya meliputi:

  • Menghirup udara yang tercemar urin tikus.

  • Menghirup udara yang tercemar tinja tikus.

  • Menghirup udara yang tercemar air liur rodensia.

  • Menyentuh benda atau permukaan yang terkontaminasi virus.

  • Virus masuk melalui kulit yang terluka.

  • Gigitan rodensia yang terinfeksi.

  • Pada Andes virus, penularan antarmanusia dapat terjadi secara jarang melalui kontak dekat.

Kemenkes menjelaskan, masa muncul gejala umumnya satu hingga delapan minggu setelah paparan. Pada HFRS (Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome), gejala sering muncul dalam satu sampai dua minggu.

Orang yang membersihkan gudang, garasi, kabin lama, atau bangunan kosong perlu lebih berhati-hati. Area seperti itu dapat menjadi tempat rodensia bersarang.

Pencegahan utama dilakukan dengan mengendalikan tikus dan menghindari paparan kotorannya. Langkah yang dapat dilakukan masyarakat meliputi:

  • Hindari kontak langsung dengan tikus, mencit, atau celurut.

  • Tutup lubang di dalam dan luar rumah.

  • Simpan makanan dalam wadah tertutup.

  • Gunakan tudung saji untuk melindungi makanan.

  • Pasang perangkap tikus di sekitar rumah bila diperlukan.

  • Jaga kebersihan rumah, gudang, dapur, dan tempat kerja.

  • Hindari menyapu kering area yang diduga terkena kotoran tikus.

  • Gunakan pelindung diri saat membersihkan area berisiko.

  • Segera periksa ke fasilitas kesehatan bila muncul gejala setelah kontak rodensia.

Kemenkes menyebut vaksin untuk mencegah hantavirus belum tersedia. Pengobatan khusus juga belum ada, sehingga penanganan dilakukan melalui terapi suportif.

Kewaspadaan terhadap hantavirus tetap relevan bagi masyarakat Indonesia. Kemenkes mencatat infeksi hantavirus pada rodensia pernah ditemukan di 29 provinsi melalui Rikhus Vektora 2015-2018.

Berita ini diolah dan disunting dengan melibatkan teknologi AI.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....