Stigma Negatif Masyarakat Jadi Tantangan Tersendiri Penanganan TBC di Gorontalo

  • 29 Mar 2026 19:25 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID, Gorontalo – Stigma negatif di kalangan masyarakat menjadi tantangan tersendiri dalam upaya penanganan dan penanggulangan penyakit TBC di Gorontalo. Pandangan buruk yang sudah terlanjur melekat ini kerap membuat orang yang sakit, bahkan yang sudah menunjukkan gejala tuberkulosis, enggan memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan.

Akibatnya, penyakit yang diderita justru ditutup-tutupi dan baru terdeteksi setelah kondisinya memburuk. Keterlambatan penanganan tidak hanya berdampak pada kesehatan pasien, tetapi juga meningkatkan risiko penularan kepada orang lain.

Wasur TB Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Provinsi Gorontalo, Dolvi Sumaraw, menegaskan stigma buruk terhadap penderita TBC harus dihilangkan. Ia menekankan bahwa TBC merupakan penyakit menular yang dapat disembuhkan secara total, selama pasien menjalani pengobatan secara rutin dan tuntas selama enam bulan.

"Seharusnya pandangan atau stigma negatif dari masyarakat itu harus di hilangkan, dan ini jadi perhatian kami pemerintah juga," kata Dolvi, Minggu 29 Maret 2026.

"Orang menderita batuk-batuk atau TBC, biasa disebut oleh orang-orang penyakit tiga huruf, ketika dia diobati rutin selama enam bulandia akan sembuh. Beda dengan penyakit tidak menular, seumur hidup tidak akan sembuh," tambahnya.

Sepanjang tahun 2025, Dinkes P2KB Provinsi Gorontalo mencatat cakupan penemuan kasus TBC mencapai 5.300 kasus. Jumlah ini setara 70 persen dari target nasional yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto. Melihat angka penemuan yang masih tinggi, pengendalian TBC menjadi perhatian serius pemerintah daerah.

"Sejauh ini upaya kolaboratif yang kami lakukan dengan dinas kesehatan kabupaten/kota sudah cukup maksimal. Kami juga memberdayakan kader-kader yang ada di desa," tandasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....