Studi Ungkap Ultra-Maraton Rusak Sel Darah Merah
- 28 Mar 2026 14:15 WIB
- Gorontalo
Poin Utama
- Studi menemukan ultra-maraton mempercepat kerusakan dan penuaan sel darah merah, terutama saat jarak tempuh makin ekstrem.
- Kerusakan dipicu perubahan tekanan darah, peradangan, dan stres oksidatif, sehingga dapat meningkatkan risiko anemia pada atlet.
- Peneliti menyarankan pemantauan kondisi darah, pengaturan beban latihan, pemulihan cukup, dan asupan gizi yang tepat.
RRI.CO.ID, Gorontalo - Studi baru mengungkap ultra-maraton dapat menguras sel darah merah atlet. Temuan ini menyorot harga biologis di balik ketangguhan pelari menempuh lintasan ekstrem.
Peneliti melaporkan sel darah merah pelari rusak selama lomba ketahanan sangat panjang. Risiko anemia meningkat saat jarak tempuh terus bertambah.
Studi itu dimuat dalam jurnal Blood: Red Cells & Iron pada Selasa, 18 Februari 2026. Tim menilai kerusakan makin berat saat lomba bergeser dari 25 mil ke 106 mil.
| Baca juga: Obat Alami Ala Simpanse |
Para ilmuwan membandingkan sampel darah sebelum dan sesudah dua ajang lari kelas dunia di Prancis. Sebanyak 11 pelari mengikuti lomba 25 mil, sedangkan 12 pelari menuntaskan 106 mil.
Mereka memeriksa kelenturan sel darah merah, pembawa oksigen, nutrisi, dan limbah di tubuh. Hasilnya, sel itu menjadi kurang lentur saat menghadapi tekanan lomba ketahanan.
Peneliti menemukan perubahan tekanan darah, peradangan, dan stres oksidatif ikut memicu kerusakan tersebut. Travis Nemkov berkata, “Stres terus-menerus merusak sel yang paling banyak di tubuh.”
| Baca juga: Manfaat Bawang Putih bagi Kesehatan |
Nemkov menilai titik kritis kerusakan tampaknya muncul di antara maraton dan ultra-maraton. Ia menegaskan dampaknya belum sepenuhnya diketahui dalam jangka pendek maupun panjang.
Tim juga melihat temuan ini bisa membantu dunia medis memahami kerusakan darah simpan. Darah donor biasanya menurun kualitasnya setelah beberapa minggu penyimpanan.
Angelo D'Alessandro mengatakan sel darah merah tangguh, tetapi sensitif terhadap tekanan mekanis dan oksidatif. Menurutnya, pemahaman jalur ini dapat melindungi fungsi sel darah pada atlet dan transfusi.
| Baca juga: Wajan Teflon Rusak Lepas Mikroplastik |
Meski begitu, peneliti belum mengeluarkan larangan bagi atlet mengikuti ultra-maraton. Mereka justru mendorong riset lanjutan agar dampak dan masa pemulihan bisa dipahami lebih jelas.
Sebagai langkah antisipasi, pelari dapat memantau kondisi darah sebelum dan sesudah lomba. Pemeriksaan hemoglobin, zat besi, dan pemulihan fisik layak diperhatikan secara serius.
Pelatih dan atlet juga perlu mengatur beban latihan, waktu istirahat, serta asupan gizi. Langkah itu penting untuk menekan tekanan berlebih pada tubuh selama lomba ekstrem.
Para peneliti berencana mengulang studi dengan peserta lebih banyak dan sampel tambahan. Pengambilan darah saat lomba dan setelah finis diharapkan membuka jawaban yang belum terpecahkan.
Berita ini diolah dan disunting dengan melibatkan teknologi AI.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....