Mahasiswa Farmasi UNG, Ciptakan Spray Pasir Kucing Anti-Toxoplasma

  • 04 Sep 2026 16:49 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID, Gorontalo - Mahasiswa Fakultas Olahraga dan Kesehatan (FOK), Jurusan Farmasi, Universitas Negeri Gorontalo (UNG), kembali menunjukkan inovasi di bidang kesehatan dan lingkungan. Melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), tim mahasiswa berhasil mendapatkan dana hibah dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Diktisaintek) Republik Indonesia.

Tim yang dipimpin Cahyo Saputra Supardi tersebut mengembangkan inovasi Nanoemulsi Spray GO-GUARD berbasis kitosan, catnip, kunyit, dan biochar sebagai deodorizer serta anti-Toxoplasma pada pasir kucing. Produk yang diberi nama GO-GUARD ini dikembangkan menggunakan teknologi nanoemulsi dan ditujukan sebagai solusi untuk mengatasi bau tidak sedap sekaligus memberikan fungsi tambahan pada pasir kucing.

Ketua Tim GO-GUARD, Cahyo Saputra Supardi, mengatakan inovasi tersebut hadir dengan menawarkan fungsi yang berbeda dibandingkan produk spray pasir kucing yang umumnya beredar di pasaran. Menurutnya, sebagian besar produk sejenis yang tersedia di pasaran lebih berfokus pada fungsi penghilang bau. Sementara GO-GUARD dikembangkan dengan menambahkan fungsi sebagai antisipasi terhadap parasit yang dapat berkembang atau terbawa melalui lingkungan pasir kucing.

“Spray pasir kucing dengan nama produk GO-GUARD ini dikembangkan dengan teknologi nanoemulsi sebagai penghilang bau dan anti-Toxoplasma pada pasir kucing. Inovasi spray pasir kucing ini berbeda dengan produk yang beredar di pasaran. Kalau di pasaran biasanya berfungsi sebagai penghilang bau saja, sedangkan inovasi kami ini menambah fungsi sebagai antiparasit,” jelasnya

Cahyo menjelaskan, salah satu keunggulan GO-GUARD terletak pada pemanfaatan bahan baku yang mudah ditemukan di Gorontalo dan memiliki potensi lokal. Bahan yang digunakan antara lain kunyit, kitosan yang berasal dari cangkang udang, serta biochar dari arang tempurung kelapa. Pengembangan produk tersebut juga melalui proses formulasi dan pengujian berulang untuk mendapatkan komposisi yang stabil dan sesuai.

“Bahan baku yang kami gunakan sangat banyak ditemukan di Gorontalo dan merupakan potensi lokal, antara lain kunyit, cangkang udang, dan arang tempurung kelapa. Dalam produksi produk ini kami sudah melakukan trial and error mungkin lebih dari lima kali, untuk menghasilkan formulasi yang baik dan stabil selama penyimpanan,” ungkap Cahyo.

Menurut Cahyo, ide pengembangan GO-GUARD berawal dari hasil survei terhadap pemilik kucing yang banyak menghadapi persoalan bau tidak sedap dari litter box. Namun, persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan kenyamanan akibat bau. Tim juga melihat adanya aspek kesehatan yang perlu diperhatikan.

“Sebelumnya kami sudah melakukan survei bahwa banyak pemilik kucing mengalami masalah pada litter box karena bau yang tidak sedap. Jadi kami ingin membuat produk ini karena kebanyakan pemilik kucing tidak sadar bahwa pasir kucing bisa menjadi media penularan parasit,” jelasnya

Sementara itu, Manajer Produksi GO-GUARD, Ani Yanti, mengatakan produk tersebut saat ini masih dalam tahap pengembangan dan belum memiliki izin edar. Meski demikian, tim telah melakukan sejumlah pengujian evaluasi untuk memastikan mutu dan kualitas produk, termasuk pengujian terhadap aktivitas antibakteri.

“Untuk sekarang itu belum ada surat izin edar. Kebetulan produk kami bukan terkait langsung bersentuhan dengan kulit, sehingga untuk ke depannya akan diurus surat izin edarnya,” ujar Ani.

“Untuk sekarang kami sudah melakukan beberapa uji evaluasi untuk menjamin mutu dan kualitas produk dari segi keamanan. Salah satunya kami sudah melakukan uji antibakteri terhadap dua bakteri dan alhamdulillah hasilnya menunjukkan bahwa produk kami dapat berfungsi sebagai antibakteri terhadap kedua bakteri tersebut,” jelasnya.

Ani mengatakan, pengujian akan terus dikembangkan. Salah satu rencana berikutnya adalah melakukan pengujian yang berkaitan dengan Toxoplasma untuk memperkuat klaim fungsi produk. Dari sisi pemasaran, GO-GUARD saat ini masih menyasar lingkungan civitas akademika UNG. Tim belum melakukan pemasaran secara luas karena masih melakukan pengenalan produk sekaligus melihat respons dan potensi pasar.

“Ke depannya akan dilakukan uji Toxoplasma,” katanya.

“Produk kami sekarang sedang dipasarkan di sekitar civitas akademika di kampus UNG, jadi kami belum memasarkannya secara luas,” ungkap Ani.

Meski demikian, tim GO-GUARD telah menjalin kerja sama dengan sejumlah pet shop di Gorontalo sebagai bagian dari upaya memperkenalkan produk sekaligus melakukan pemetaan pasar. Selain aspek produksi dan pemasaran, tim juga telah melakukan perlindungan terhadap identitas produk. Logo dan kemasan GO-GUARD telah mendapatkan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) berupa hak cipta.

“Untuk logo dan kemasan produk sendiri kami sudah mendapatkan HKI. Jadi sudah diterbitkan HKI hak cipta produk. Selain itu, kami juga sudah mengurus Nomor Induk Berusaha (NIB),” pungkas Ani.

Melalui GO-GUARD, mahasiswa Farmasi UNG berupaya menghadirkan inovasi berbasis potensi lokal yang tidak hanya menawarkan solusi terhadap persoalan bau pada pasir kucing, tetapi juga mengangkat aspek kesehatan dan keamanan lingkungan bagi pemilik hewan peliharaan. (RA)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....