KKN Tematik Infrastruktur UNG Dorong Solusi Sanitasi dan Pengelolaan Sampah
- 17 Sep 2026 08:19 WIB
- Gorontalo
RRI.CO.ID, Gorontalo - Mahasiswa KKN Tematik Infrastruktur Universitas Negeri Gorontalo (UNG) mendorong penanganan persoalan sanitasi, sampah, dan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) di Desa Tunggulo, Kecamatan Limboto Barat, Kabupaten Gorontalo. Upaya tersebut dibahas melalui Focus Group Discussion (FGD) 2 yang menjadi lanjutan dari proses identifikasi permasalahan dan kebutuhan infrastruktur masyarakat yang dilakukan mahasiswa selama berada di desa.
Kordes KKN Tematik Infrastruktur UNG Dewa Kharisma, mengatakan FGD 2 diarahkan untuk membahas lebih rinci persoalan yang ditemukan mahasiswa selama proses observasi dan pengumpulan data di Desa Tunggulo.
“Pada FGD kedua ini kami membahas beberapa permasalahan yang sudah kami temukan di lapangan, khususnya sanitasi, pengelolaan sampah, dan Rumah Tidak Layak Huni,” ucap Dewa Kharisma, Rabu 16 September 2026..

Dalam diskusi tersebut, mahasiswa memaparkan sejumlah temuan lapangan sekaligus menawarkan solusi yang dapat diterapkan bersama pemerintah desa dan masyarakat.
Pada sektor sanitasi, perhatian diarahkan pada pemeliharaan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) dan saluran drainase. Mahasiswa memberikan edukasi agar fasilitas tersebut dijaga kebersihan dan fungsinya sehingga dapat mendukung kondisi lingkungan permukiman.
Dewa menjelaskan, pemeliharaan sarana sanitasi menjadi penting karena keberadaan infrastruktur tersebut harus diikuti dengan pengelolaan dan perawatan secara berkelanjutan oleh masyarakat.
“IPAL dan drainase bukan hanya dibangun, tetapi juga harus dipelihara agar tetap berfungsi dengan baik dan memberikan manfaat bagi lingkungan masyarakat,” kata Dewa.
Pengelolaan sampah juga menjadi salah satu persoalan yang mendapat perhatian dalam FGD. Berdasarkan analisis timbulan sampah yang dilakukan mahasiswa, komposisi sampah di Desa Tunggulo didominasi sampah organik dengan rata-rata 70,335 persen.
Sementara itu, sampah anorganik memiliki komposisi rata-rata sebesar 29,665 persen. Data tersebut menjadi dasar bagi mahasiswa dalam mendorong pengelolaan sampah berdasarkan jenis dan potensi pemanfaatannya.
Mahasiswa menawarkan sejumlah solusi, seperti pengomposan sampah organik, pembuatan ecobrick dari sampah plastik, serta pemanfaatan tutup botol bekas menjadi barang bernilai guna. Sekam padi juga diperkenalkan untuk diolah menjadi briket sebagai sumber energi alternatif.
“Harapannya masyarakat tidak hanya melihat sampah sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi juga dapat memanfaatkan sebagian limbah menjadi sesuatu yang berguna dan memiliki nilai ekonomi,” tambahnya.
Pembahasan berikutnya menyasar Rumah Tidak Layak Huni atau RTLH. Mahasiswa bersama pemerintah desa membahas data dan kondisi rumah warga yang membutuhkan perbaikan berdasarkan hasil identifikasi di lapangan.
Penanganan RTLH diarahkan melalui identifikasi bagian bangunan yang membutuhkan perbaikan, penyusunan desain, hingga pembuatan Rencana Anggaran Biaya (RAB). Langkah tersebut diperlukan agar rencana perbaikan dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing rumah.
Dewa menambahkan, solusi yang dihasilkan melalui FGD tidak boleh hanya berdasarkan hasil identifikasi mahasiswa. Kondisi, kebutuhan, dan kemampuan masyarakat juga menjadi pertimbangan agar program dapat diterapkan secara berkelanjutan.
“Solusi yang diberikan diharapkan sederhana, mudah dipahami, dapat diterapkan, serta bisa dilanjutkan oleh masyarakat maupun pemerintah desa setelah kegiatan KKN selesai,” ucap Kordes KKN Tematik Infrastruktur UNG.
Hasil FGD 2 selanjutnya menjadi bahan bagi mahasiswa dalam menentukan program kerja di Desa Tunggulo. Kegiatan tersebut diharapkan memperkuat kolaborasi antara mahasiswa, pemerintah desa, dan masyarakat dalam menangani persoalan infrastruktur sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan permukiman.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....