Memperkuat Konservasi Laut Lewat Transplantasi Terumbu Karang

  • 01 Okt 2026 13:27 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID, Gorontalo — Direktorat Konservasi Ekosistem Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Gorontalo, SUOP Kawasan Konservasi Perairan Teluk Gorontalo, serta peserta Peningkatan Kapasitas Teknis Pengelola Kawasan Konservasi dari 11 provinsi penerima Program LAUTRA melaksanakan aksi transplantasi terumbu karang di perairan Desa Botubarani, Kamis (1/10/2026).

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian peningkatan kapasitas teknis yang menggabungkan pembelajaran dengan praktik langsung rehabilitasi ekosistem pesisir. Selain memperkuat keterampilan penyelaman, peserta memperoleh pengalaman dalam pemantauan, dokumentasi, dan kegiatan rehabilitasi terumbu karang.

Kepala DKP Provinsi Gorontalo, Aryanto Husain, mengatakan transplantasi terumbu karang menjadi salah satu upaya mendukung pemulihan ekosistem sekaligus menjaga fungsi ekologis perairan Botubarani yang memiliki nilai ekologis dan ekonomi, termasuk sebagai kawasan wisata hiu paus.

“Terumbu karang yang sehat menyediakan habitat, tempat mencari makan, berlindung, pemijahan dan pembesaran berbagai biota laut. Karena itu, rehabilitasi terumbu karang tidak hanya mendukung pemulihan ekosistem, tetapi juga keberlanjutan aktivitas masyarakat dan pariwisata bahari,” ujarnya.

Aryanto menambahkan, kegiatan konservasi juga perlu dikomunikasikan kepada masyarakat melalui berbagai media, termasuk media sosial, agar manfaat kawasan konservasi dan pentingnya menjaga ekosistem pesisir semakin dipahami publik.

Sementara itu, Tenaga Ahli Menteri Kelautan dan Perikanan Bidang Penataan Ruang, Konservasi, dan Kerjasama Internasional, Ade Renaldi Satari, mengatakan aksi transplantasi merupakan salah satu implementasi hasil pelatihan selam yang diberikan kepada peserta.

“Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh diharapkan dapat diterapkan oleh SUOP dari 11 provinsi penerima Program LAUTRA sesuai kondisi dan kebutuhan kawasan konservasi masing-masing,” kata Ade.

Menurutnya, kegiatan lapangan juga dapat dikembangkan menjadi materi komunikasi konservasi yang informatif sehingga masyarakat terdorong untuk berpartisipasi dalam menjaga ekosistem pesisir dan laut.

Pengelola Ekosistem Laut dan Pesisir Ahli Madya Direktorat Konservasi Ekosistem KKP, Ihsan Ramli, mengatakan implementasi hasil pelatihan diharapkan mendukung peningkatan kualitas pengelolaan kawasan konservasi, termasuk melalui monitoring, pemanfaatan data, dokumentasi, rehabilitasi ekosistem dan pelibatan masyarakat sebagai bagian dari Evaluasi Efektivitas Pengelolaan Kawasan Konservasi (EVIKA).

“Aksi transplantasi terumbu karang di Botubarani menunjukkan bahwa peningkatan kapasitas sumber daya manusia dapat dihubungkan langsung dengan aksi konservasi di lapangan. Kolaborasi KKP, pemerintah daerah, SUOP dan pengelola kawasan menjadi bagian penting dalam memperkuat perlindungan dan pemulihan ekosistem pesisir,” ujar Ihsan.

Kegiatan ini sekaligus menegaskan pentingnya mengintegrasikan kapasitas teknis, aksi konservasi, dokumentasi, edukasi publik dan keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan kawasan konservasi secara berkelanjutan. (mcgorontaloprov/Yanto)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....