BRIN Kaji Model Peternakan Ayam Berkelanjutan UPTD Perbibitan Ternak Lonuo
- 23 Agt 2026 14:16 WIB
- Gorontalo
RRI.CO.ID, Gorontalo - Ketua Tim peneliti dari Pusat Riset Ekonomi Makro dan Keuangan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Bahtiar Rifai menguraikan pandangannya terkait potensi dan desain program peternakan ayam yang sedang dirancang Dinas Peternakan dan Perkebunan Provinsi Gorontalo.
“Saya melihat program ini memiliki potensi sangat besar untuk meningkatkan produktivitas peternakan, khususnya ayam," kata Bahtiar saat mengunjungi UPTD Balai Perbibitan Ternak, Desa Lonuo, Kecamatan Tilong Kabila, Kabupaten Bone Bolango, Sabtu 22 Agustus 2026.
Ia menguraikan potensi besar ini difokuskan pada peternakan skala rakyat yang sangat mendukung ekonomi lokal. Konsep pemberian modal awal berupa starter kit bagi peternak di Gorontalo ini sangat tepat sasaran.
Kunjungan Bahtiar dan tim ini dalam rangka meninjau dan mengkaji pengembangan model peternakan ayam yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat serta keberlanjutan pembiayaan.
Rombongan BRIN disambut Kepala UPTD Balai Perbibitan Ternak Lonuo Dinas Peternakan dan Perkebunan Provinsi Gorontalo, Kahar Gani, serta Kepala Seksi Non-Ruminansia Jefry Masyhur, Kasubag Tata usaha Firman Yohan.
Tim peneliti BRIN terdiri dari Bahtiar Rifai (Pusat Riset Ekonomi Makro dan Keuangan) yang bertindak sebagai Koordinator Penelitian, I Gusti Ayu Putu Mahendri, (Pusat Riset Ekonomi Makro dan Keuangan), dan Kusnandar (Pusat Riset Kependudukan). Mereka datang didampingi tim Bappeda Provinsi Gorontalo.
"Kami juga melihat potensi peran BLUD, sehingga program bisa dirancang dengan prinsip self-financing, tidak membebani fiskal daerah. Keberlanjutan pembiayaan harus dipikirkan sejak awal," ujar Bahtiar.
Dengan demikian kapasitas produksi bisa diekspansi dengan dua jalur, yang satu bersifat sosial, misalnya DOC diberikan cuma-cuma untuk pengentasan kemiskinan dengan grade bibit yang disesuaikan, dan yang lain bersifat komersial dengan bibit grade lebih tinggi, hasilnya bisa berputar kembali untuk menopang program.
Bahtiar menjelaskan bahwa program ini tidak sekadar soal penyediaan bibit, melainkan sistem terintegrasi.
“Harus ada integrasi dari hulu ke hilir, mulai penyediaan bibit, teknologi pengolahan pakan, hingga pendirian semacam klinik ternak agar saat peternak mengalami kendala atau ternak sakit, ada penanganan. Dengan begitu angka kematian ternak bisa ditekan dan keberhasilan program lebih terjamin,” tuturnya.
Terkait potensi pasar, ia menilai permintaan di Gorontalo sangat menjanjikan. Pasar sangat potensial, budaya masyarakat masih sangat mengutamakan protein segar dibanding yang beku, dan kepercayaan terhadap ayam kampung tetap tinggi. Apalagi saat perayaan hari besar, permintaannya melonjak tajam.
Untuk memperkuat keberhasilan program, Bahtiar menyarankan dukungan lintas sektor. Dukungan dibutuhkan dari Kementerian Pertanian, lembaga riset nasional, program CSR BUMN sebagai proyek percontohan, serta kerja sama dengan perguruan tinggi untuk peningkatan kualitas ternak dan teknologi reproduksi seperti inseminasi buatan yang disesuaikan dengan kondisi iklim di Gorontalo.
Dukungan pemerintah daerah juga sangat krusial, terlebih sektor peternakan sudah masuk dalam prioritas RPJMD. Lumbung pangan bukan hanya dari pertanian, tetapi juga dari peternakan.
Sementara itu Kepala UPTD Kahar Gani menyambut baik kunjungan tim BRIN ini. Ia menyatakan siap mendukung kajian dan implementasi model peternakan yang dirancang, serta membuka seluruh fasilitas dan data yang diperlukan untuk keberhasilan program pengembangan peternakan ayam di Gorontalo (mcgorontaloprov/hariman)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....