Camilan Tradisional Gorontalo yang Tak Lekang oleh Waktu

  • 09 Jun 2025 17:40 WIB
  •  Gorontalo

KBRN, Gorontalo : Apa jadinya jika sejarah dan cita rasa berpadu dalam satu gigitan? Di balik camilan sederhana seperti akar kelapa, gula-gula soba, bubur sada, hingga apang colo, tersembunyi kisah panjang dari dapur-dapur tradisional Gorontalo. Setiap kue dan bubur tersebut bukan sekadar pengganjal lapar, melainkan potongan kecil dari mozaik budaya yang kaya dan sarat makna.

Camilan tradisional Gorontalo lahir dari percampuran kearifan lokal, rasa kekeluargaan, dan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun. Namun di era modern yang serba cepat ini, muncul pertanyaan: mampukah warisan kuliner tersebut tetap hidup dan dikenal generasi muda? Bisakah makanan-makanan ini berbicara di rak oleh-oleh, dunia digital, atau bahkan menembus pasar internasional?

Dalam program Tamu Kita yang disiarkan oleh RRI Gorontalo pada sore hari ini senin 9 juni 2025, budayawan Gorontalo, Hasdin Danial—atau yang akrab disapa Pakuni—membagikan pandangannya mengenai pentingnya melestarikan camilan-camilan tradisional. Menurutnya, makanan khas seperti akar kelapa, apang colo, hingga gula-gula soba, dahulu selalu hadir dalam berbagai momen penting seperti hajatan, pesta, dan kumpul keluarga.

“Apalagi saat momen Iduladha seperti sekarang ini, kue-kue tradisional pasti ada di setiap rumah. Ini adalah simbol kehangatan dan kebersamaan,” ujarnya.

Pakuni juga menyinggung tradisi "toyopo", hidangan yang biasa disajikan dalam acara tahlilan. Ia mengamati adanya perubahan kemasan dari daun kelapa menjadi loyang aluminium. Meski dimaklumi karena alasan fungsionalitas, ia menekankan pentingnya mempertahankan unsur budaya.

“Kalau pun loyang yang digunakan, tetap di dalamnya harus ada toyopo-nya yang terbuat dari daun kelapa. Itu yang menjadi ciri khas kita,” tambahnya.

Lebih jauh, Pakuni berharap agar produk-produk lokal Gorontalo bisa lebih dipromosikan, tidak hanya di ranah budaya tapi juga secara ekonomi. Ia menyayangkan minimnya produk kuliner lokal yang tersedia di ritel-ritel besar di Gorontalo.

“Di luar sana, memang banyak makanan yang mirip, tapi rasa khas dari Gorontalo itu berbeda. Kita harus bangga dan menjaganya. Harapan saya, pemerintah juga bisa mendorong agar produk lokal bisa masuk ke retail besar di daerah sendiri. Jangan sampai kita hanya disuguhi produk dari luar daerah,” pungkasnya.

Camilan tradisional Gorontalo bukan hanya tentang rasa, tetapi juga identitas. Melestarikan resep leluhur adalah bentuk nyata menjaga warisan budaya agar tetap hidup dan dikenal oleh generasi mendatang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....