Gorontalo Deflasi di Bulan Juli, Melimpahnya Pasokan Bahan Pangan jadi Penyebab

  • 04 Agt 2026 06:48 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID, Gorontalo – Provinsi Gorontalo kembali mencatatkan deflasi 0,43 persen pada Juli 2026, seiring turunnya harga sejumlah bahan pangan yang menjadi kebutuhan utama masyarakat. Melimpahnya pasokan komoditas hortikultura membuat penurunan harga lebih dominan dibanding kenaikan harga pada kelompok barang lainnya, sehingga mendorong tingkat harga secara keseluruhan bergerak turun.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo, Agus Sudibyo, mengatakan kondisi tersebut terutama dipengaruhi oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami penurunan harga cukup signifikan. Kelompok ini memiliki bobot pengeluaran yang besar dalam konsumsi rumah tangga, sehingga perubahan harganya sangat memengaruhi pergerakan inflasi daerah.

"Walaupun begitu ada beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga di rentang Juli 2026. Di antaranya komoditas pada kelompok transportasi yang mengalami kenaikan sebesar 2,25 persen dengan andil terhadap inflasi sebesar 0,24 persen," ucap Agus Sudibyo saat menyampaikan Berita Resmi Statistik BPS Provinsi Gorontalo, Senin 3 Agustus 2026.

Meski terdapat kenaikan harga pada sektor transportasi dan beberapa komoditas lainnya, besarnya penurunan harga bahan pangan yang dikonsumsi masyarakat setiap hari membuat tekanan inflasi dapat diredam. Kondisi ini menunjukkan bahwa dinamika harga pangan masih menjadi faktor paling menentukan dalam pembentukan inflasi di Gorontalo.

"Komoditas-komoditas yang mengalami penurunan harga itu lebih banyak dan penimbangnya lebih besar dibanding komoditas yang mengalami kenaikan harga, sehingga secara total kita mengalami deflasi," kata Agus Sudibyo.

BPS mencatat, penurunan harga paling terasa berasal dari komoditas cabai rawit, tomat, dan bawang merah. Ketiga komoditas tersebut merupakan bahan pangan yang hampir selalu digunakan dalam konsumsi rumah tangga di Gorontalo. Saat pasokannya meningkat, dampaknya langsung terasa terhadap pengeluaran masyarakat maupun pergerakan inflasi.

"Tiga komoditas ini paling banyak dikonsumsi oleh masyarakat Gorontalo," tambahnya.

Di sisi lain, tekanan kenaikan harga masih muncul pada sejumlah komoditas seperti beras, pelumas atau oli mesin, cumi-cumi, serta ikan layang. Namun, kenaikan tersebut belum mampu mengimbangi besarnya penurunan harga komoditas pangan hortikultura yang terjadi sepanjang Juli.

Secara kumulatif, kondisi ini turut membuat inflasi tahun berjalan mengalami perlambatan dibanding bulan sebelumnya. Menurut BPS, deflasi bulanan menjadi sinyal bahwa pengendalian harga berjalan cukup baik, meski pemerintah tetap perlu mewaspadai potensi gejolak harga menjelang akhir tahun ketika permintaan masyarakat biasanya meningkat.

"Pada Juli untuk month to month (mtm)-nya kita deflasi, sehingga secara kumulatif untuk year to date (ytd) pada Juli ini turun. Harapannya di bulan-bulan ke depan, angka inflasinya relatif stabil sehingga di akhir tahun bisa memenuhi target menjaga inflasi di rentang 2,5 persen plus minus 1," ucap Agus Sudibyo.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....