Mengenal Tradisi Unik Pengawetan Jenazah di Indonesia, dari Toraja hingga Papua

  • 02 Sep 2026 10:15 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID ,Gorontalo - Indonesia dikenal sebagai negara dengan keragaman budaya dan tradisi yang sangat luas. Di sejumlah daerah, masyarakat masih mempertahankan ritual leluhur yang berkaitan dengan kematian. Salah satunya adalah tradisi memperlakukan dan mengawetkan jenazah dengan cara yang berbeda dari pemakaman pada umumnya.

Tradisi tersebut lahir dari kepercayaan serta nilai budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi. Ada jenazah yang disimpan selama bertahun-tahun sebelum dimakamkan, ada pula yang diletakkan di alam terbuka hingga diawetkan melalui proses pengasapan.

Dilansir dari gnfi, berikut sejumlah tradisi pengawetan jenazah yang dikenal di Indonesia:

1. Tradisi Suku Dani di Lembah Baliem

Di Papua Pegunungan, masyarakat Suku Dani di Lembah Baliem memiliki tradisi pengawetan jenazah yang cukup unik. Jenazah yang diawetkan biasanya memiliki warna gelap dan ditempatkan dalam posisi duduk meringkuk.

Proses pengawetan dilakukan dengan metode pengasapan. Setelah seseorang meninggal, bagian tertentu dari tubuh jenazah dikeluarkan. Tubuh kemudian diberi minyak babi dan ditempatkan di dalam rumah honai untuk diasapi menggunakan api kecil.

Proses tersebut dapat berlangsung selama berbulan-bulan hingga tubuh menjadi kering dan mengeras. Dalam prosesnya, masyarakat juga menggunakan bahan-bahan alami, seperti getah pohon dan minyak nabati, yang dipercaya membantu memperlambat pembusukan.

Tradisi ini diperkirakan telah berlangsung selama lebih dari 300 tahun. Namun, praktik tersebut tidak diperuntukkan bagi semua orang. Pengawetan biasanya dilakukan terhadap kepala suku atau tokoh yang memiliki kedudukan penting dan sangat dihormati dalam masyarakat.

2. Desa Trunyan, Bali

Tradisi kematian yang berbeda juga dapat ditemukan di Desa Trunyan, Kecamatan Kintamani, Bali. Wilayah ini dihuni masyarakat Bali Aga yang dikenal sebagai salah satu kelompok masyarakat Bali yang mempertahankan tradisi leluhur.

Jika sebagian besar masyarakat Hindu Bali melaksanakan kremasi atau ngaben, masyarakat Trunyan memiliki cara berbeda dalam memperlakukan jenazah. Mayat diletakkan di area pemakaman yang dikenal sebagai Sema Wayah, kemudian dibiarkan mengalami proses pembusukan secara alami.

Jenazah ditempatkan di dalam sangkar berbentuk prisma yang terbuat dari anyaman bambu. Sangkar tersebut berfungsi melindungi tubuh dari gangguan hewan.

Salah satu hal yang membuat tradisi ini menarik perhatian adalah minimnya bau yang ditimbulkan dari proses pembusukan. Kondisi tersebut dikaitkan dengan keberadaan pohon taru menyan yang tumbuh di sekitar lokasi pemakaman dan dipercaya membantu menetralisasi aroma tidak sedap.

Di Desa Trunyan terdapat tiga lokasi pemakaman dengan peruntukan berbeda. Sema Wayah digunakan bagi masyarakat yang meninggal secara wajar, Sema Bantah untuk mereka yang meninggal karena kecelakaan atau sebab tidak wajar, sedangkan Sema Muda diperuntukkan bagi bayi, anak-anak, maupun orang yang belum menikah.

3. Tradisi Suku Toraja

Salah satu tradisi kematian yang paling dikenal luas berasal dari masyarakat Toraja, Sulawesi Selatan. Dalam budaya Toraja, orang yang telah meninggal tidak selalu langsung dimakamkan.

Jenazah dapat disemayamkan terlebih dahulu di rumah adat atau tongkonan selama berbulan-bulan, bahkan dalam kondisi tertentu hingga bertahun-tahun. Selama masa tersebut, keluarga masih memperlakukan jenazah sebagai orang yang sedang sakit.

Jenazah dapat diberi makanan dan minuman, dimandikan, hingga dikenakan pakaian. Dalam kepercayaan masyarakat setempat, seseorang yang meninggal belum dianggap benar-benar meninggal sebelum rangkaian upacara pemakaman dilaksanakan.

Tradisi ini berkaitan dengan kepercayaan Aluk Todolo. Dalam prosesnya, jenazah diawetkan menggunakan bahan-bahan alami, termasuk tanaman dan rempah-rempah yang dibalurkan pada tubuh untuk membantu memperlambat proses pembusukan.

Upacara pemakaman masyarakat Toraja dikenal dengan nama Rambu Solo'. Ritual ini menjadi bagian penting dalam prosesi penghormatan kepada orang yang telah meninggal sekaligus dipercaya sebagai tahapan untuk mengantarkan arwah menuju alam roh.

Beragam tradisi tersebut menunjukkan bagaimana masyarakat di berbagai daerah di Indonesia memiliki cara masing-masing dalam memaknai kematian. Di balik keunikannya, tradisi tersebut menjadi bagian dari warisan budaya dan identitas masyarakat yang terus dipertahankan dari generasi ke generasi.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....