Toyopo dan Tolangga Simbol Kebersamaan Keluarga

  • 30 Agt 2026 12:16 WIB
  •  Gorontalo


RRI,CO,ID, GORONTALO – Tradisi Maulid Nabi di Gorontalo tidak hanya menjadi momentum keagamaan, tetapi juga menyimpan nilai sosial dan kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.

Salah satunya terlihat dalam Toyopo, wadah makanan yang menjadi bagian dari tradisi Walima. Toyopo tidak sekadar dipandang sebagai tempat menata makanan, tetapi juga memiliki makna tentang keteraturan dalam kehidupan keluarga dan masyarakat.

Toyopo dan isinya (foto: FB Aba Achril)

Dalam tayangan BINCANG SANTAI RRI bertajuk “Maulid Nabi dan Kearifan Lokal Gorontalo: Dari Toyopo Hingga Tolangga”, menjelaskan bahwa pembuatan Toyopo berkaitan dengan kemampuan ekonomi masing-masing keluarga.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa setiap keluarga memiliki ukuran atau kemampuan yang berbeda dalam mempersiapkan sajian Maulid. Dari tingkat kemampuan ekonomi yang paling sederhana hingga yang lebih tinggi, semuanya tetap menjadi bagian dari tata aturan dan kebersamaan dalam perayaan.

“Toyopo itu dibuat berdasarkan kemampuan ekonomi yang ditetapkan dalam sebuah keluarga, dan menjadi bagian dari keteraturan atau template dalam sebuah keluarga, termasuk dari level yang paling rendah.”

ujar Yunus Dama -akademisi dan Budaawan Gorontalo pada Acara BINCANG SANTAI RRI, Sabtu, 29/8/26

Deretan Tolangga pada Walimah Maulid desa Bongo(foto: momoji-RRI Gorontalo)

Dengan demikian, keberadaan Toyopo memperlihatkan bahwa tradisi tidak harus dimaknai dari besar atau mewahnya sajian yang dibawa. Justru terdapat pesan bahwa setiap keluarga dapat berpartisipasi sesuai kemampuan masing-masing.

Nilai tersebut memperlihatkan adanya keteraturan sosial. Masyarakat tetap berada dalam satu tradisi yang sama, meskipun kondisi ekonomi setiap keluarga berbeda. Sebegai bentuk sedekah yang sejak awal telah diniatkan.

Toyopo sendiri merupakan wadah yang umumnya digunakan untuk menempatkan nasi, lauk-pauk dan berbagai makanan dalam rangka perayaan Maulid Nabi. Dalam perkembangan tradisi Walima, Toyopo juga menjadi bagian yang berada di dalam Tolangga, wadah yang dibuat lebih besar dan dihias dengan berbagai bentuk.

Tradisi Walima kemudian menjadi ruang pertemuan antara nilai agama, adat, kebersamaan dan semangat berbagi. Makanan yang disiapkan masyarakat bukan hanya menjadi sajian perayaan, tetapi juga menjadi simbol rasa syukur dan kepedulian terhadap sesama.

Melalui Toyopo, masyarakat Gorontalo seolah diajarkan bahwa kebersamaan tidak ditentukan oleh seberapa besar kemampuan seseorang, melainkan oleh kemauan untuk ikut mengambil bagian dalam tradisi dan berbagi dengan lingkungan.

Inilah yang membuat Toyopo dan Tolangga tidak sekadar menjadi perlengkapan dalam perayaan Maulid Nabi, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya Gorontalo yang mempertemukan nilai keagamaan dengan kehidupan sosial masyarakat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....