“Budaya Unik dari Berbagai Negeri”

  • 09 Mei 2026 14:53 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID,Gorontalo - Bagi sebagian orang, perjalanan mungkin hanya tentang menikmati pemandangan indah, mencicipi makanan khas, atau mengabadikan momen di tempat-tempat terkenal. Namun bagi seorang traveler sejati, perjalanan adalah cara memahami kehidupan dari sudut pandang yang berbeda. Dilansir dari hobihoki.co.id setiap daerah memiliki kebiasaan, ritual, dan tradisi yang diwariskan turun-temurun, bahkan ada yang terdengar tidak biasa bagi masyarakat luar. Di balik keunikannya, tradisi-tradisi tersebut menyimpan nilai budaya, kepercayaan, serta sejarah panjang yang menjadi identitas sebuah bangsa.

Dari perang tomat di jalanan kota kecil di Spanyol hingga kebiasaan masyarakat Nikaragua yang menunjuk menggunakan bibir, dunia menghadirkan begitu banyak cerita menarik yang membuat perjalanan terasa lebih hidup. Tradisi-tradisi ini bukan sekadar atraksi wisata, melainkan cerminan bagaimana manusia memaknai kehidupan, kebersamaan, rasa hormat, bahkan duka cita.

Salah satu tradisi paling terkenal di dunia adalah La Tomatina di kota Buñol, Spanyol. Setiap tahun, ribuan orang berkumpul untuk saling melempar tomat dalam festival yang disebut sebagai perang makanan terbesar di dunia. Jalanan berubah merah dipenuhi tomat yang beterbangan, sementara warga dan wisatawan larut dalam suasana penuh tawa. Tradisi ini bermula dari pertengkaran kecil antarwarga pada tahun 1945, namun seiring waktu berkembang menjadi festival internasional yang mendatangkan ribuan wisatawan. Meski terlihat seperti sekadar hiburan, La Tomatina menjadi simbol kebebasan, solidaritas, dan kegembiraan bersama tanpa memandang status sosial.

Di India, masyarakat juga memiliki sejumlah tradisi yang kerap dianggap ekstrem oleh wisatawan asing. Salah satunya adalah ritual pemecahan kelapa di kepala umat di Tamil Nadu. Dalam ritual tersebut, pendeta memecahkan kelapa di kepala peserta sebagai simbol doa kesehatan dan keberuntungan. Kelapa dipercaya sebagai lambang ego manusia yang harus dihancurkan demi mendekatkan diri kepada Tuhan. Meski terlihat menyakitkan, masyarakat setempat memaknainya sebagai bentuk pengabdian spiritual kepada dewa, khususnya Lord Shiva.

Masih di India, terdapat tradisi lama di wilayah Maharashtra dan Karnataka, di mana bayi dijatuhkan dari atas kuil dan ditangkap menggunakan kain oleh kerumunan warga di bawahnya. Tradisi ini dipercaya membawa keberuntungan dan kesehatan bagi sang bayi. Walau kini mulai menuai kritik karena dianggap berbahaya, sebagian masyarakat masih mempertahankannya sebagai warisan leluhur yang sarat makna religius.

Indonesia sendiri juga memiliki tradisi budaya yang mengundang perhatian dunia. Suku Dani di Papua mengenal tradisi ikipalin atau pemotongan ujung jari sebagai bentuk ungkapan duka ketika kehilangan anggota keluarga. Setiap ruas jari yang dipotong melambangkan rasa sakit dan kehilangan yang mendalam. Bagi masyarakat Dani, rasa sedih bukan hanya dirasakan secara emosional, tetapi juga diwujudkan secara fisik. Tradisi ini kini mulai ditinggalkan karena alasan kesehatan dan perubahan zaman, namun tetap menjadi simbol kuat tentang ikatan keluarga dalam budaya Papua.

Tradisi unik lainnya datang dari Tibet melalui ritual sky burial atau pemakaman langit. Dalam tradisi ini, jenazah tidak dikubur maupun dikremasi, melainkan ditempatkan di puncak gunung agar dimakan burung pemakan bangkai. Bagi umat Buddha Tibet, tubuh manusia hanyalah wadah sementara bagi jiwa. Mengembalikan tubuh kepada alam dianggap sebagai bentuk penghormatan tertinggi dan cara membantu makhluk hidup lain bertahan hidup.

Di Jerman, masyarakat memiliki tradisi pernikahan bernama Polterabend. Sebelum hari pernikahan, keluarga dan sahabat pasangan pengantin akan memecahkan piring, gelas, atau keramik di depan rumah. Setelah itu, calon pengantin harus membersihkan pecahan tersebut bersama-sama. Tradisi ini melambangkan bahwa kehidupan rumah tangga tidak selalu mudah dan pasangan harus belajar menghadapi masalah bersama.

Sementara itu, masyarakat Yunani memiliki cara unik untuk mendoakan pengantin baru. Dalam pesta pernikahan, tamu akan berpura-pura meludah ke arah pengantin sambil mengucapkan doa keberuntungan. Tradisi tersebut dipercaya mampu mengusir roh jahat dan melindungi pasangan dari kesialan. Kini, ritual itu lebih sering dilakukan secara simbolis tanpa benar-benar meludah.

Budaya makan pun bisa berbeda di setiap negara. Di Jepang, menyedot mi ramen dengan suara keras justru dianggap sopan. Semakin keras suara menyeruput mi, semakin menunjukkan bahwa makanan tersebut lezat dan dinikmati dengan sepenuh hati. Bagi wisatawan yang baru pertama kali datang ke Jepang, kebiasaan ini sering terasa canggung, tetapi lambat laun menjadi pengalaman budaya yang menarik.

Hal tak biasa juga dapat ditemukan di Denmark. Di sana, pemakaman tidak selalu identik dengan suasana menyeramkan. Banyak makam dirawat seperti taman kota lengkap dengan bunga, jalur pejalan kaki, dan danau kecil. Warga kerap datang untuk berjalan santai, membaca buku, bahkan berpiknik bersama keluarga. Tradisi ini memperlihatkan bagaimana masyarakat Denmark memandang kematian sebagai bagian alami dari kehidupan.

Keunikan lain hadir dalam Festival Monyet di Lopburi, Thailand. Dalam festival tersebut, ribuan monyet dianggap sebagai tamu kehormatan. Warga menyediakan gunungan buah dan sayur untuk disantap para monyet yang dipercaya membawa keberuntungan bagi kota. Festival ini menjadi daya tarik wisata yang unik sekaligus memperlihatkan hubungan erat masyarakat dengan hewan di lingkungan mereka.

Di pedalaman Venezuela, suku Yanomami memiliki tradisi yang mungkin terdengar mengejutkan. Setelah anggota keluarga meninggal dunia, abu tulang jenazah dicampur ke dalam sup dan diminum bersama keluarga. Ritual ini dipercaya membantu menyatukan kembali keluarga dengan arwah leluhur dan memberi kedamaian bagi orang yang telah meninggal.

Tradisi penuh keberanian datang dari suku Satere-Mawe di Brasil. Anak laki-laki dianggap dewasa setelah mengenakan sarung tangan berisi semut peluru, serangga dengan sengatan paling menyakitkan di dunia. Mereka harus bertahan selama beberapa menit meski menahan rasa sakit luar biasa. Tradisi ini menjadi simbol ketahanan mental dan keberanian seorang pria dalam menghadapi kehidupan.

Di Skotlandia, calon pengantin perempuan menjalani tradisi Blackening the Bride. Sebelum menikah, ia akan dilempari tepung, telur busuk, hingga lumpur, lalu diarak keliling desa. Tradisi ini dipercaya menjadi ujian mental agar sang pengantin siap menghadapi berbagai tantangan dalam rumah tangga.

Keunikan budaya sehari-hari juga tampak di Nikaragua. Alih-alih menunjuk menggunakan tangan, masyarakat setempat lebih sering menggunakan bibir untuk menunjukkan arah atau benda tertentu. Bagi warga lokal, kebiasaan tersebut sangat alami, tetapi sering membuat wisatawan kebingungan saat pertama kali melihatnya.

Tradisi ulang tahun di Meksiko juga tidak kalah menarik. Dalam tradisi La Mordida, orang yang berulang tahun akan didorong wajahnya ke kue saat hendak mengambil gigitan pertama. Tamu yang hadir biasanya berteriak “Mordida! Mordida!” sambil tertawa bersama. Tradisi ini menjadi simbol kebersamaan dan humor dalam budaya Meksiko.

Di kota Ivrea, Italia, masyarakat merayakan Battle of the Oranges dengan saling melempar jeruk di jalanan kota. Festival ini terinspirasi dari kisah perlawanan rakyat terhadap penguasa tirani pada abad pertengahan. Kini, festival tersebut menjadi atraksi budaya yang selalu menarik ribuan wisatawan setiap tahun.

Sementara itu di kota Zenica, Bosnia dan Herzegovina, masyarakat menyambut musim semi melalui Festival Čimburijada dengan memasak ribuan telur orak-arik raksasa di taman kota. Tradisi ini menjadi simbol kesuburan, harapan baru, dan kebersamaan antarwarga.

Selain tradisi-tradisi tersebut, dunia masih menyimpan banyak ritual unik lainnya, mulai dari tarian api di Bali, festival cahaya Diwali di India, hingga berbagai perayaan adat yang terus dijaga masyarakat lokal. Setiap budaya memiliki cara tersendiri dalam merayakan hidup, menghormati leluhur, dan menjaga hubungan sosial antarwarga.

Tradisi-tradisi unik dunia menunjukkan bahwa keberagaman budaya adalah kekayaan terbesar umat manusia. Bagi traveler, menyaksikan langsung ritual budaya seperti ini bukan hanya menghadirkan pengalaman yang berbeda, tetapi juga membuka ruang empati terhadap cara pandang masyarakat lain. Dari sanalah perjalanan menjadi lebih bermakna, karena setiap tradisi sejatinya adalah jendela untuk memahami jiwa sebuah bangsa.

Saat menjelajahi dunia, mungkin kita akan menemukan hal-hal yang terasa asing atau sulit dipahami. Namun justru di situlah letak keindahan perjalanan. Dunia tidak pernah kehabisan cerita, dan setiap tradisi adalah pengingat bahwa manusia memiliki begitu banyak cara untuk merayakan kehidupan.



google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....