Tiga Puasa Sunnah Pembuka Keberkahan Menjelang Idul Adha

  • 24 Mei 2026 12:13 WIB
  •  Gorontalo

RRI.CO.ID,Gorontalo -Menjelang datangnya Hari Raya Idul Adha, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak amal ibadah sebagai bentuk persiapan diri menyambut hari besar yang penuh keberkahan. Salah satu amalan sunnah yang memiliki banyak keutamaan namun sering terlewatkan adalah puasa sunnah sebelum Idul Adha.

Puasa sunnah di bulan Dzulhijjah bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi juga menjadi sarana membersihkan hati, meningkatkan ketakwaan, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Hari-hari awal bulan Dzulhijjah dikenal sebagai waktu terbaik untuk memperbanyak amal saleh karena memiliki keutamaan yang sangat besar di sisi Allah.

Dikutip dari Baitulmaal Muamalat (BMM), terdapat tiga puasa sunnah yang sangat dianjurkan menjelang Hari Raya Idul Adha, yaitu Puasa Dzulhijjah, Puasa Tarwiyah, dan Puasa Arafah.

1. Puasa Dzulhijjah (1–7 Dzulhijjah)

Puasa Dzulhijjah dilakukan sejak tanggal 1 hingga 7 Dzulhijjah. Puasa ini menjadi salah satu amalan sunnah yang sangat dianjurkan karena dilakukan pada hari-hari terbaik dalam setahun.

Sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Pada hari-hari tersebut, pahala amal ibadah dilipatgandakan dan Allah SWT sangat mencintai setiap amal saleh yang dilakukan hamba-Nya.

Rasulullah SAW bersabda:

"Tidak ada hari-hari yang lebih agung di sisi Allah dan amal shalih di dalamnya lebih dicintai oleh-Nya daripada hari-hari sepuluh (sepuluh hari pertama Dzulhijjah)."

(HR. Ahmad)

Hadis tersebut menunjukkan betapa mulianya amalan yang dilakukan pada awal bulan Dzulhijjah, termasuk ibadah puasa sunnah. Karena itu, banyak umat Islam memanfaatkan momen ini untuk memperbanyak ibadah seperti puasa, sedekah, membaca Al-Qur’an, hingga memperbanyak dzikir.

Selain mendatangkan pahala, Puasa Dzulhijjah juga membantu melatih kesabaran dan meningkatkan kualitas spiritual seseorang. Dengan menahan diri dari hawa nafsu, hati menjadi lebih tenang dan fokus dalam beribadah.

Adapun niat Puasa Dzulhijjah adalah:

“Nawaitu shouma syahri dzulhijjah sunnatan lillahi ta’ala”

Artinya:

“Saya niat puasa sunnah bulan Dzulhijjah karena Allah Ta’ala.”

Puasa ini dapat dilakukan secara berturut-turut ataupun sesuai kemampuan masing-masing. Meski hukumnya sunnah, keutamaannya sangat besar bagi umat Islam yang ingin mendekatkan diri kepada Allah SWT menjelang Idul Adha.

2. Puasa Tarwiyah (8 Dzulhijjah)

Puasa sunnah berikutnya adalah Puasa Tarwiyah yang dilaksanakan pada tanggal 8 Dzulhijjah. Hari Tarwiyah memiliki makna penting dalam rangkaian ibadah haji karena pada hari tersebut para jamaah mulai bersiap menuju Arafah.

Kata “Tarwiyah” sendiri berasal dari bahasa Arab yang berarti membawa bekal air. Pada masa dahulu, jamaah haji mempersiapkan persediaan air sebelum berangkat ke Arafah dan Mina.

Bagi umat Islam yang tidak sedang menunaikan ibadah haji, Puasa Tarwiyah menjadi kesempatan untuk tetap meraih pahala besar di hari istimewa tersebut. Banyak ulama menganjurkan puasa ini sebagai bentuk mengikuti sunnah Rasulullah SAW dan memperbanyak amal saleh menjelang Idul Adha.

Sebagian ulama menyebutkan bahwa Puasa Tarwiyah dapat menghapus dosa selama satu tahun yang lalu. Walaupun hadis mengenai keutamaannya masih diperselisihkan derajatnya, puasa ini tetap dianjurkan karena termasuk amalan baik di bulan Dzulhijjah.

Selain itu, Puasa Tarwiyah juga menjadi latihan spiritual sebelum memasuki Puasa Arafah yang memiliki keutamaan sangat besar. Dengan menjalankan puasa ini, umat Islam diharapkan dapat lebih mempersiapkan hati dan jiwa dalam menyambut Hari Raya Idul Adha.

Niat Puasa Tarwiyah adalah:

“Nawaitu shouma yaumi tarwiyata sunnatan lillahi ta’ala”

Artinya:

“Saya niat puasa sunnah Tarwiyah karena Allah Ta’ala.”

Puasa Tarwiyah juga menjadi momentum untuk memperbanyak doa dan introspeksi diri. Banyak umat Islam memanfaatkan hari ini untuk memohon ampunan serta keberkahan hidup kepada Allah SWT.

3. Puasa Arafah (9 Dzulhijjah)

Puasa Arafah merupakan puasa sunnah yang paling utama sebelum Hari Raya Idul Adha. Puasa ini dilakukan pada tanggal 9 Dzulhijjah, bertepatan dengan saat jamaah haji melaksanakan wukuf di Padang Arafah.

Bagi umat Islam yang tidak sedang berhaji, Puasa Arafah memiliki keutamaan luar biasa besar. Rasulullah SAW bahkan menyebut puasa ini mampu menghapus dosa dua tahun, yaitu dosa setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya.

Dari Abu Qatadah, Rasulullah SAW bersabda:

"Puasa Arafah, aku berharap kepada Allah, dapat menghapus dosa tahun sebelumnya dan tahun sesudahnya."

(HR. Muslim)

Hadis tersebut menjadi salah satu alasan mengapa Puasa Arafah sangat dianjurkan bagi umat Islam di seluruh dunia. Keutamaan besar ini menunjukkan kasih sayang Allah SWT kepada hamba-Nya yang bersungguh-sungguh dalam beribadah.

Selain pahala yang melimpah, Puasa Arafah juga menjadi momen terbaik untuk memperbanyak doa. Banyak ulama menyebut bahwa hari Arafah adalah salah satu waktu mustajab untuk berdoa.

Pada hari tersebut, umat Islam dianjurkan memperbanyak istighfar, dzikir, membaca Al-Qur’an, dan memohon ampunan kepada Allah SWT. Suasana spiritual di hari Arafah dipercaya mampu membawa ketenangan hati dan meningkatkan rasa syukur kepada Sang Pencipta.

Niat Puasa Arafah adalah:

“Nawaitu shouma yaumi ‘arafata sunnatan lillahi ta’ala”

Artinya:

“Saya niat puasa sunnah Arafah karena Allah Ta’ala.”

Meski hanya dilakukan satu hari, Puasa Arafah memiliki keutamaan yang sangat besar sehingga sayang untuk dilewatkan.

Menyambut Idul Adha dengan Hati yang Bersih

Menjalankan puasa sunnah menjelang Idul Adha bukan hanya tentang memperoleh pahala, tetapi juga menjadi cara membersihkan hati dan memperbaiki diri sebelum menyambut hari raya kurban.

Hari Raya Idul Adha mengajarkan nilai keikhlasan, pengorbanan, dan kepedulian terhadap sesama. Karena itu, memperbanyak ibadah di bulan Dzulhijjah menjadi bentuk persiapan spiritual agar makna Idul Adha dapat dirasakan lebih mendalam.

Selain berpuasa, umat Islam juga dianjurkan memperbanyak sedekah, dzikir, membaca Al-Qur’an, dan melaksanakan ibadah qurban bagi yang mampu.

Ibadah qurban bukan sekadar menyembelih hewan, tetapi juga menjadi simbol kepedulian sosial dan distribusi rezeki kepada masyarakat yang membutuhkan. Daging qurban yang dibagikan mampu membantu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat kurang mampu, terutama di daerah pelosok dan terdampak bencana.

Melalui program Qurban Prioritas, masyarakat dapat berbagi kebahagiaan Idul Adha dengan menyalurkan hewan qurban maupun rendang kaleng kepada warga di wilayah terluar, miskin, dan membutuhkan di berbagai daerah Indonesia.

Dengan menjalankan puasa sunnah dan memperbanyak amal ibadah di bulan Dzulhijjah, umat Islam diharapkan dapat menyambut Hari Raya Idul Adha dengan hati yang lebih tenang, penuh rasa syukur, dan semangat berbagi kepada sesama.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....