Raih Pahala Besar lewat Sunnah Idul Adha
- 24 Mei 2026 13:12 WIB
- Gorontalo
RRI.CO.ID,Gorontalo -Hari Raya Idul Adha menjadi salah satu momentum istimewa bagi umat Islam di seluruh dunia untuk memperkuat ketakwaan kepada Allah SWT melalui berbagai ibadah dan amalan sunnah. Tidak hanya identik dengan penyembelihan hewan kurban, Idul Adha juga menjadi waktu mempererat ukhuwah, meningkatkan kepedulian sosial, serta meneladani ketaatan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS kepada Allah SWT.
Menjelang pelaksanaan salat Idul Adha, Rasulullah SAW telah mencontohkan sejumlah amalan sunnah yang dianjurkan untuk dilakukan umat Muslim. Mulai dari menghidupkan malam takbiran, memperbanyak dzikir dan takbir, melaksanakan puasa sunnah, mandi sebelum salat Id, hingga mengenakan pakaian terbaik saat menuju tempat ibadah.
Dilansir dari Headline.co.id, amalan-amalan tersebut memiliki dasar dalil kuat dari Al-Qur’an, hadits, serta penjelasan para ulama. Selain menyempurnakan ibadah, sunnah-sunnah tersebut juga mengandung banyak hikmah spiritual dan sosial bagi kehidupan umat Islam.
Berbagai literatur keislaman seperti buku Asal Usul Hari Tasyrik karya Aris Munandar dan Bekal-Bekal di Dalam Menyambut Idul Adha karya Abu Salma al-Atsari menjelaskan sejumlah sunnah yang dianjurkan dilakukan sebelum salat Idul Adha agar ibadah hari raya semakin sempurna.
Menghidupkan Malam Takbiran dengan Ibadah
Salah satu amalan sunnah yang dianjurkan sebelum Idul Adha adalah menghidupkan malam takbiran dengan berbagai ibadah. Sejak matahari terbenam pada malam 10 Dzulhijjah, umat Islam dianjurkan memperbanyak bacaan takbir, tahmid, tahlil, shalawat, membaca Al-Qur’an, hingga melaksanakan salat malam.
Dalam kitab Raudlatut Thalibin dijelaskan:
“Disunahkan mengumandangkan takbir pada malam hari raya mulai terbenamnya matahari, dan sangat disunahkan juga menghidupkan malam hari raya tersebut dengan beribadah.”
Malam takbiran menjadi salah satu malam penuh keberkahan bagi umat Islam. Banyak ulama menyebut malam hari raya sebagai waktu mustajab untuk berdoa kepada Allah SWT. Oleh sebab itu, umat Muslim dianjurkan memperbanyak istighfar, doa, serta dzikir sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat Allah SWT.
Suasana malam takbiran juga menjadi simbol syiar Islam yang memperlihatkan kebesaran Allah SWT. Kumandang takbir yang terdengar di masjid, mushala, hingga rumah-rumah umat Muslim menghadirkan suasana religius sekaligus memperkuat kebersamaan di tengah masyarakat.
Memperbanyak Takbir Sejak Hari Arafah
Selain menghidupkan malam takbiran, umat Islam juga dianjurkan memperbanyak takbir sejak Subuh hari Arafah pada 9 Dzulhijjah hingga akhir hari tasyrik pada 13 Dzulhijjah.
Anjuran memperbanyak dzikir dan takbir tersebut merujuk pada firman Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah ayat 203 yang memerintahkan umat Islam untuk berdzikir pada hari-hari tertentu.
Takbir Idul Adha terbagi menjadi dua jenis, yakni takbir mutlak dan takbir muqayyad. Takbir mutlak dapat dilakukan kapan saja selama hari-hari tasyrik, sedangkan takbir muqayyad dianjurkan dibaca setelah salat fardu.
Mayoritas ulama sepakat bahwa memperbanyak takbir pada hari-hari Idul Adha merupakan sunnah yang sangat dianjurkan karena menjadi bagian dari syiar Islam dan bentuk pengagungan kepada Allah SWT.
Takbir juga mengingatkan umat Islam tentang kebesaran Allah serta pentingnya rasa syukur atas segala nikmat yang diberikan.
Puasa Tarwiyah dan Puasa Arafah
Amalan sunnah lain yang sangat dianjurkan menjelang Idul Adha ialah menjalankan puasa Tarwiyah pada 8 Dzulhijjah dan puasa Arafah pada 9 Dzulhijjah, khususnya bagi umat Islam yang tidak sedang melaksanakan ibadah haji.
Puasa Arafah memiliki keutamaan yang sangat besar sebagaimana dijelaskan Rasulullah SAW dalam hadits riwayat Muslim:
“Puasa Arafah dapat menghapuskan dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.”
Dalam kitab Al-Majmu’, Imam Nawawi menjelaskan bahwa puasa Arafah disunnahkan bagi Muslim yang tidak sedang wukuf di Padang Arafah.
Selain menjadi sarana menghapus dosa, puasa sunnah tersebut juga melatih kesabaran, meningkatkan ketakwaan, serta memperkuat kedekatan seorang hamba kepada Allah SWT menjelang hari raya kurban.
Sementara itu, puasa Tarwiyah meskipun terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama terkait kekuatan haditsnya, tetap banyak diamalkan umat Muslim sebagai bentuk persiapan spiritual menyambut Idul Adha.
Mandi Sunnah Sebelum Salat Idul Adha
Menjelang keberangkatan menuju tempat salat Id, umat Islam dianjurkan melaksanakan mandi sunnah terlebih dahulu. Mayoritas ulama dari mazhab Syafi’i, Maliki, dan Hanbali menyebut mandi sebelum salat Id sebagai sunnah muakkadah atau sunnah yang sangat dianjurkan.
Dari Ibnu Abbas RA disebutkan:
“Rasulullah SAW mandi pada hari Idul Fitri dan Idul Adha.”
Mandi sunnah bukan sekadar menjaga kebersihan tubuh, tetapi juga menjadi simbol penyucian diri sebelum melaksanakan ibadah di hari raya.
Adapun niat mandi sunnah Idul Adha ialah:
“Nawaitu sunnatal ghusli li ‘iidil adha.”
Artinya: “Saya niat mandi sunnah Idul Adha.”
Dalam Islam, kebersihan merupakan bagian dari iman. Oleh sebab itu, mandi sunnah sebelum salat Id menjadi bentuk penghormatan terhadap hari besar umat Islam sekaligus menjaga kenyamanan saat berkumpul bersama jamaah lainnya.
Mengenakan Pakaian Terbaik dan Memakai Wewangian
Rasulullah SAW juga menganjurkan umat Islam mengenakan pakaian terbaik serta memakai wewangian sewajarnya ketika hendak menuju tempat salat Id.
Al-Hasan bin Ali RA meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Rasulullah SAW memerintahkan kami pada dua hari raya untuk memakai pakaian terbaik yang ada dan memakai wewangian terbaik yang ada.” (HR. Al-Hakim)
Dalam berbagai kitab fikih dijelaskan bahwa berhias pada hari raya merupakan bagian dari syiar Islam dan bentuk rasa syukur atas nikmat Allah SWT.
Namun demikian, Islam tetap mengajarkan kesederhanaan. Mengenakan pakaian terbaik tidak harus mewah atau mahal, melainkan pakaian yang bersih, rapi, dan pantas digunakan saat beribadah.
Anjuran memakai wewangian juga bertujuan menjaga kenyamanan bersama ketika berkumpul dengan banyak jamaah di tempat salat.
Tidak Makan Sebelum Salat Idul Adha
Berbeda dengan Idul Fitri yang dianjurkan makan terlebih dahulu sebelum salat Id, pada Hari Raya Idul Adha umat Islam justru dianjurkan menunda makan hingga selesai salat.
Hal tersebut berdasarkan hadits riwayat Ahmad dari Buraidah RA:
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak keluar untuk salat Idul Fitri sebelum makan, sedangkan pada Hari Raya Qurban beliau tidak makan hingga kembali lalu beliau makan dari sembelihannya.”
Anjuran tersebut mengandung makna kesabaran serta rasa syukur dengan menikmati hidangan dari daging kurban setelah pelaksanaan ibadah.
Meski demikian, bagi umat Islam yang tidak berkurban, diperbolehkan makan sebelum salat Id dan tidak dianggap melanggar syariat.
Berjalan Kaki Menuju Tempat Salat
Sunnah lainnya yang dicontohkan Rasulullah SAW adalah berjalan kaki menuju tempat salat serta melewati jalan yang berbeda ketika berangkat dan pulang.
Dari Jabir bin Abdullah RA diriwayatkan:
“Nabi SAW ketika shalat ‘ied, beliau melewati jalan yang berbeda ketika berangkat dan pulang.” (HR. Bukhari)
Sementara Abdullah bin Umar RA mengatakan:
“Rasulullah SAW biasa berangkat sholat ‘ied dengan berjalan kaki, begitu pula ketika pulang juga dengan berjalan kaki.” (HR. Ibnu Majah)
Para ulama menjelaskan bahwa setiap langkah menuju tempat ibadah akan dicatat sebagai pahala dan menjadi bagian dari syiar Islam di tengah masyarakat.
Selain itu, melewati jalan yang berbeda saat pulang dan pergi juga memiliki hikmah memperluas silaturahmi serta memperlihatkan syiar Islam kepada lebih banyak orang.
Hikmah Besar di Balik Sunnah Idul Adha
Berbagai amalan sunnah sebelum salat Idul Adha bukan hanya bertujuan menambah pahala ibadah, tetapi juga mengandung banyak hikmah dalam kehidupan umat Muslim.
Momentum Idul Adha mengajarkan pentingnya ketaatan kepada Allah SWT, menjaga kebersihan diri, memperkuat hubungan sosial, serta meningkatkan rasa peduli kepada sesama melalui ibadah kurban.
Amalan-amalan sunnah tersebut juga menjadi pengingat akan keteladanan Rasulullah SAW dalam menjalani kehidupan dengan penuh adab, kebersihan, dan rasa syukur.
Selain memperkuat hubungan spiritual kepada Allah SWT, Idul Adha juga menjadi momen mempererat silaturahmi antarumat Muslim. Kebersamaan saat salat Id, pembagian daging kurban, hingga saling bermaafan menjadi bagian penting dalam membangun persaudaraan di tengah masyarakat.
Dengan menjalankan sunnah-sunnah sebelum salat Idul Adha, umat Islam tidak hanya mendapatkan pahala tambahan, tetapi juga merasakan makna mendalam dari hari raya kurban sebagai momentum meningkatkan iman, ketakwaan, dan kepedulian sosial.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....