Kisah Pemburu 'Harta Karun' Perang Dunia II di Morotai

  • 21 Jul 2024 20:32 WIB
  •  Ternate

KBRN, Morotai: Hawa panas begitu menyengat begitu kami tiba di Pulau Morotai, Provinsi Maluku Utara. Pulau yang terletak pada garis khatulistiwa di Utara Halmahera ini begitu kental dengan sejarah Perang Dunia II (PD II).

Setiap pengunjung yang pertama kali ke "Bumi Moro" (sebutan untuk Pulau Morotai), akan merasakan hawa panas berbeda dengan daerah lain.

Ya begitulah, suasana Pulau Morotai yang berada di timur Indonesia ini. Selain panas, masyarakat setempat sangat erat dengan bau mesiu (bahan kimia yang mudah meledak; peluru senjata api).

Hal ini lantaran Morotai sebagai saksi sejarah, di mana daerah ini pernah menjadi pangkalan militer tentara sekutu saat PD II.

Sepanjang mata memandang, deretan rumah-rumah penduduk mulai padat seperti di pusat kota Daruba, Kecamatan Morotai Selatan.

Daerah ini, selain dihuni warga Galela dan Tobelo, ada juga warga Tidore dan Makian. Selain itu, banyak warga Bugis-Makassar, Sangir, hingga Jawa yang penduduknya berbaur satu sama lain.

Kedatangan kami ke Morotai menyusuri Muhlis (45 tahun) pemburu ‘Harta Karun’ Perang Dunia II di Morotai. Kini, harta karun itu tersimpan rapat di Museum Swadaya miliknya yang terletak di Desa Joubela, Kecamatan Morotai Selatan.

Waktu menunjukan Pukul 17.50 WIT dari Pusat Kota Daruba. Dengan menggunakan mobil milik Pemda setempat, kami pun tiba di lokasi rumahnya Pukul 18.00 WIT.

Setibanya, sosok pria mengenakan kaos berwarna biru dibalut jaket loreng itu telah berdiri sejak lama di depan rumah. Rupanya, sejak tadi Muhlis telah menanti menyambut kedatangan kami.

Pria berkulit sawo matang itu pun mengawali sebuah percakapan, “selamat datang di Museum Swadaya” sembari mengulurkan tangan. Kami pun membalas salam. Muhlis Eso dengan senang hati mempersilakan kami untuk masuk ke rumahnya.

Koleksi peninggalan Perang Dunia II di Museum Swadaya milik Muhlis Eso di Pulau Morotai. (Foto: Sofyan/RRI).

Sungguh menakjubkan, melihat ribuan koleksi Perang Dunia II yang berada di rumahnya. Ada botol minum berbahan kaca dan besi putih, rantang makanan, sendok, garpu sisa peninggalan.

Ada juga berbagai macam koleksi peluru, granat, topi baja, ransel, senjata, tabung oksigen, dan lain-lain. Tidak cukup sampai di situ, Muhlis lalu menunjukan koleksi lebih banyak lagi di museum yang bersebelahan dengan rumahnya.

Suara burung nuri nan syahdu dan alam yang masih asri menambah kesejukan suasana sore itu. Hari makin petang jelang malam, semakin menambah rasa penasaran kami melihat ‘harta karun' yang dimiliki Muhlis.

Pengelola Museum Swadaya Perang Dunia II Pulau Morotai, Muhlis Eso bercerita muasal mengoleksi benda-benda Perang Dunia ini.

Kisahnya, berawal dari pesan sang kakek pada tahun 80-an. Pesan leluhurnya itu, memacu dirinya yang kala itu berusia 10 tahun untuk mengumpulkan benda-benda PD II.

“Kakek saya bernama Tadu Eso, seorang pejuang veteran tahun 1945. Ia berpesan bahwa sisa-sisa Perang Dunia II bagian dari kekayaan dan bukti sejarah sehingga harus dirawat,” ucap Muhlis kepada RRI, Kamis, (18/7/2024).

“Pesan ini selalu saya ingat dan menjadi motivasi untuk berjuang mengumpulkan benda-benda peninggalan Perang Dunia II. Kala itu, bukan cuman saya, banyak orang juga lakukan hal yang sama dengan saya.”

Pria tamatan SMA itu pun melanjutkan perbincangan, dengan nada lirih mengingatnya pada masa-masa dirinya dicemoh. Kata-kata sebagai seseorang tidak waras dialamatkan kepadanya, sebab mengumpulkan benda-benda peninggalan tersebut.

“Dulu banyak yang mempertanyakan untuk apa saya mengumpulkan benda-benda itu bahkan menganggap saya seperti orang gila. Dan saya belum berani menyelamatkan senjata dan bom (granat,red) karena takut dengan bahan peledak,” ujar Muhlis.

Muhlis menambahkan, berjalannya waktu ia terus mempertahankan dan mengumpulkan benda-benda peninggalan, hingga akhirnya berhasil mendirikan sebuah museum.

Namun, jauh sebelum itu koleksinya masih disimpan di rumah pribadi. "Kalau rumah saya dibangun sejak tahun 2014 dan museum 4 tahun yang lalu,” ujarnya.

“Sekarang saya berani melakukannya karena ini adalah bukti sejarah. Sudah lebih dari 30 tahun lebih saya mengumpulkan benda peninggalan Perang Dunia II",

Muhlis (kanan) menunjukan koleksinya kepada Kepala RRI Ternate, Agus Rusmin Nuryadin (kiri). (Foto: Sofyan/RRI).

Kini, kata Muhlis, jumlah koleksi semakin bertambah setiap harinya hingga mencapai ribuan benda.

Mulai dari uang koin Portugis, cincin, atribut Amerika, Australia, Inggris, dan Belanda. Hingga mobil panser dan peralatan senjata dari Jepang.

“Rata-rata benda peninggalan yang saya temukan di area Joubela, Kecamatan Morotai Selatan, dan di Tanjung Dehegila,” kata Muhlis.

Perjuangannya bukan tanpa alasan. Ia hanya ingin generasi penerus bangsa melek sejarah, dan memperdalam pengetahuannya.

“Di Morotai, banyak orang berbicara tentang sejarah, namun sering kali hal itu hanya menjadi wacana di masyarakat tanpa bukti konkret", kata Muhlis sembari menjelaskan, hingga sekarang ia masih aktif melakukan pencarian ‘harta karun’ peninggalan PD II.

Perjuangannya itu pun akhirnya membuahkan hasil, karena masyarakat Morotai mulai menyadari adanya bukti sejarah. "Ketika mereka menemukan benda-benda bersejarah, mereka selalu menginformasikan kepada saya, bahkan ada yang mengantarkannya langsung ke rumah,” ucapnya.

Respons pemerintah daerah atas keberadaan museum sudah mulai terlihat, karena kesadaran akan pentingnya sejarah semakin meningkat. Bahkan Museum Swadaya miliknya dikunjungi ribuan orang baik domestik hingga mancanegara.

“Saya masih ingat tokoh-tokoh pernah mampir seperti Duta Besar Amerika Joseph R. Donovan Jr. Menteri Pendidikan Muhadjir Effendy, Menteri Pariwisata Arief Yahya, hingga Bupati Morotai,” katanya, berkisah.

Di akhir perbincangan, Muhlis mengingatkan pada generasi muda bahwa Morotai adalah bagian dari Indonesia. Sisa-sisa peninggalan Perang Dunia II ini merupakan salah satu warisan penting bagi generasi penerus bangsa.

“Peninggalan ini juga diharapkan bisa dicatat dan diajarkan pada pendidikan formal hal ini menjadi tujuan saya selama ini,” kata Muhlis, mengakhiri perbincangan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....