Suara Terlarang, Mengguncang Dunia di Malam Kemerdekaan Indonesia

  • 12 Agt 2026 20:52 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

Pada pagi 17 Agustus 1945, ketika suara Soekarno membacakan teks proklamasi di Pegangsaan Timur Nomor 56, Indonesia resmi lahir. Namun kelahiran itu masih terkurung dalam batas kota Jakarta. Dunia belum mendengar, dunia belum tahu, dan tanpa kabar yang menembus batas negara, kemerdekaan itu bisa lenyap ditelan ulang oleh kekuatan kolonial.

Di balik euforia pagi itu, sebuah pertanyaan menggantung seperti bayang-bayang, siapa yang berani mengabarkan kemerdekaan Indonesia ke seluruh dunia, ketika Jepang masih bersenjata dan siap membunuh siapa pun yang melawan?

Jawabannya datang dari seorang pemuda berusia 26 tahun, dengan keberanian yang jauh lebih besar daripada tubuhnya, ia adalah Muhammad Yusuf Ronodipuro.

Sejak 14 Agustus 1945, gedung Radio Hoso Kyoku di Medan Merdeka Barat berubah menjadi benteng sunyi. Prajurit Kempetai, polisi militer Jepang yang terkenal kejam, sedang menjaga setiap pintu dengan senjata terhunus, tidak ada yang boleh masuk, tidak ada yang boleh keluar dan tidak ada siaran ke luar negeri.

Di dalam gedung itu, Yusuf dan para penyiar lain terperangkap seperti burung dalam sangkar besi. Mereka tidak tahu Jepang telah menyerah, mereka tidak tahu proklamasi akan dibacakan. Yang mereka hanya tahu satu hal, udara radio Indonesia telah dibungkam.

Hingga petang 17 Agustus, ketika seorang lelaki kurus bernama Syahruddin dari kantor berita Domei memanjat tembok belakang gedung. Nafasnya terengah, bajunya penuh debu, tetapi tangannya menggenggam secarik kertas yang mengubah segalanya.

Kertas itu berisi pesan dari Adam Malik, Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaannya. Di ruangan yang gelap dan penuh ketakutan itu, secarik kertas itu menyala seperti bara. Siaran harus dilakukan, itu bukan pilihan, tetapi kewajiban sejarah.

Namun studio utama dijaga ketat Kempetai, setiap langkah diawasi, setiap suara dicurigai. Yusuf, Bachtiar Loebis, dan teknisi radio Joe Seragih berpikir keras. Lalu mereka teringat sebuah ruangan kecil yang sudah lama tidak dipergunakan, studio siaran mancanegara.

Studio itu tidak terhubung ke pemancar dan tidak dijaga, sehingga studio itu adalah satu-satunya harapan.

Dengan tangan gemetar namun cekatan, Joe Seragih mengutak-atik kabel, menyambungkan jalur yang terputus, dan menghidupkan kembali studio yang telah lama terkubur dalam sunyi.

Ketika lampu indikator menyala, Yusuf tahu, inilah saatnya mempertaruhkan nyawa.

Tepat pukul 19.00 WIB, ia berdiri di depan mikrofon. Suaranya tegas, tetapi jantungnya berdegup seperti genderang perang.

“Saudara-saudara sekalian, kami siarkan kepada saudara-saudara di seluruh dunia, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia…”

Gelombang itu melesat menembus batas negara, melintasi lautan, dan ditangkap BBC London, Voice of America, serta radio-radio di Singapura. Dalam hitungan menit, dunia tahu: Indonesia telah merdeka.

Namun keberanian itu tidak datang tanpa harga, siaran gelap tersebut tertangkap oleh stasiun radio di Jepang. Kempetai murka, mereka menyerbu gedung Hoso Kyoku seperti badai. Yusuf dan Bachtiar Loebis diseret, dipukuli, ditendang, dihantam tanpa ampun.

Dalam puncak amarah, seorang perwira Jepang menghunus pedang katana. Bilahnya berkilat di bawah lampu, Katana itu terangkat, leher Yusuf berada tepat di bawahnya. Detik itu adalah jurang antara hidup dan mati.

Tiba tiba seorang pegawai sipil Jepang menerobos masuk dan berteriak menghentikan eksekusi, sambil berteriak Jepang telah kalah perang. Membunuh penyiar yang mengumandangkan kemerdekaan negara lain akan menjadi skandal internasional. Katana itu berhenti hanya beberapa sentimeter dari leher Yusuf.

Dengan tubuh penuh luka dan pakaian bersimbah darah, Yusuf mengayuh sepeda menuju rumah sahabatnya, pelukis Basuki Abdullah. Keesokan harinya, ia dirawat intensif di rumah sakit Salemba, yang kini lebih dikenal RSCM.

Meski tubuhnya remuk, semangat Yusuf tidak pernah padam. Pada 11 September 1945, bersama para tokoh radio lainnya, ia mendirikan Radio Republik Indonesia (RRI), suara resmi negara yang berdiri hingga hari ini.

Yusuf menciptakan Slogan, “Sekali di Udara, Tetap di Udara,” bukan sekadar kalimat. Itu adalah sumpah yang pernah ia bayar dengan darahnya sendiri.

Muhammad Yusuf Ronodipuro yang lahir di Salatiga pada 30 September 1919, dan wafat pada 27 Januari 2008, meninggalkan warisan yang tidak selalu tercatat dalam buku pelajaran, tetapi sangat terasa dalam denyut sejarah bangsa.

Tanpa keberaniannya pada malam 17 Agustus 1945, dunia mungkin baru mengenal Indonesia jauh lebih lambat.

Ia bukan pahlawan yang mengangkat senjata. Ia adalah pahlawan yang mengangkat suara. Dan suara itu mengguncang dunia.

Sekali di udara, tetap di udara.

(Data dari berbagai sumber)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....