Seniman Tanah Gayo Fikar W Eda, Menyulam Kisah Gayo lewat Syair

  • 23 Agt 2026 06:45 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Perjalanan Fikar W Eda dari Tanah Gayo, tumbuh sebagai anak petani kopi hingga menekuni seni, sastra, dan jurnalistik.
  • Syair sebagai suara masyarakat Aceh saat konflik 1999–2003, termasuk melalui buku puisi Rencong.
  • Fikar terus merawat identitas Gayo melalui karya seni, canang, kepedulian terhadap kopi, dan pendidikan seni.

RRI.CO.ID, Jakarta - Hamparan kebun kopi menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat di Dataran Tinggi Gayo, Aceh. Dari sana, tumbuh seorang seniman, penyair, penulis, sekaligus jurnalis yang dengan lantang menyuarakan kegelisahan masyarakat Gayo melalui karyanya.

Lahir di Takengon, 8 Mei 1966, Fikar W Eda tumbuh dan menghabiskan masa kecil bersama kedua orangtuanya. Ayah dan ibunya merupakan petani kopi yang menghadapi rendahnya harga jual hasil perkebunan.

Kondisi tersebut membuat Fikar sejak kecil memahami kehidupan petani dan berbagai persoalan yang mereka hadapi. Terlebih, orangtuanya memiliki tekad menyekolahkan Fikar dan dua saudaranya hingga perguruan tinggi.

Kecintaan Fikar terhadap seni tumbuh dari lingkungan tempatnya dibesarkan di tengah kuatnya tradisi masyarakat Gayo. Salah satu kesenian yang paling melekat dalam ingatannya adalah 'Didong', seni pertunjukan yang menyampaikan syair berbahasa Gayo.

"Salah satu tradisi yang paling lekat di sana adalah sastra lisan, puisi, ya itulah. Sastra lisan ini kan ada yang paling populer itu di sana namanya didong," ujarnya dengan bangga di balik telepon kepada RRI, Sabtu, 22 Agustus 2026.

Didong merupakan seni bersyair yang dimainkan secara berkelompok dengan lantunan syair berbahasa Gayo. Tradisi tersebut membuat sastra menjadi bagian yang dekat dengan kehidupan Fikar sejak masa kanak-kanak.

Seniman asal Takengon, Aceh, Fikar W Eda saat membacakan syair di Gedung RRI Jakarta, Kamis, 13 Agustus 2026. (Foto: RRI Net)

Memasuki kelas dua SMA, ketertarikan Fikar pada seni semakin berkembang setelah ia bergabung dengan sanggar dan aktif dalam berbagai kegiatan kesenian. Ia mulai belajar teater, menulis puisi, hingga membuat reportase seni yang kemudian dikirimkan ke surat kabar.

Dari kegiatan tersebut, Fikar mulai mengenal dunia jurnalistik dan semakin akrab dengan aktivitas menulis. Kecintaan terhadap seni itu terus ia bawa ketika melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, meski pilihan jurusannya justru berada di bidang yang berbeda.

Fikar memilih Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, sebuah pilihan yang cukup unik bagi seseorang pegiat seni dan sastra sejak remaja. Pilihan itu tidak lepas dari latar belakang keluarganya yang merupakan petani kopi serta kedekatannya dengan kehidupan pertanian sejak kecil.

"Kehidupan kami itu memang kehidupan petani, terutama petanian kopi. Alasan yang lain adalah karena masuk Fakultas Pertanian itu kan gelarnya insinyur dan menurut saya itu keren gelar insinyur," katanya sambil tertawa kecil.

Perpaduan antara pendidikan pertanian, pengalaman sebagai anak petani kopi, dan kecintaannya pada sastra kelak memberi warna tersendiri dalam karya-karyanya. Dari sana, kehidupan petani, kopi, budaya Gayo, dan berbagai persoalan masyarakat menjadi tema yang dekat dengan perjalanan kepenyairannya.

Setelah memasuki semester akhir, Fikar mulai terjun ke dunia jurnalistik pada tahun 1989. Saat itu, ia bergabung dengan Serambi Indonesia dan kemudian pensiun dari media tersebut pada 2023.

Pengalaman di lapangan kemudian memperkaya cara Fikar melihat kehidupan masyarakat Aceh dan menjadi bahan penting dalam karya-karya sastranya. Dari sinilah perjalanan sebagai jurnalis dan penyair semakin berjalan beriringan, membawa cerita tentang masyarakat, konflik, budaya, hingga kehidupan petani kopi Gayo.

Ketika konflik Aceh memanas pada rentang 1999 hingga 2003, Fikar berada di tengah situasi yang penuh ketegangan. Sebagai jurnalis sekaligus penyair, berbagai peristiwa yang terjadi saat itu menjadi keresahan yang kemudian ia tuangkan melalui sastra.

Dari suasana konflik tersebut, lahirlah buku kumpulan puisi (antologi) perdananya, Rencong, yang memuat suara perlawanan dan keresahan masyarakat Aceh. Puisi-puisi di dalamnya merekam kegelisahan terhadap situasi yang dihadapi masyarakat Aceh pada masa konflik.

Bagi Fikar, menyampaikan kritik melalui sastra bukan sesuatu yang harus ditakuti. Ia memilih seni sebagai ruang untuk menyampaikan aspirasi dan melihat persoalan yang terjadi di tengah masyarakat.

"Apa yang ditakutkan? Kita hanya menyampaikan aspirasi dalam bentuk seni," ujarnya tegas.

Seniman asal Takengon, Aceh, Fikar W Eda saat ditemui di Gedung RRI Jakarta, Kamis, 13 Agustus 2026. (Foto: RRI/Zahrotin Aljannah)

Keberanian menyuarakan berbagai persoalan melalui karya sastra kemudian menjadi bagian penting dalam perjalanan kepenyairannya. Puisi Rencong juga menjadi salah satu karya yang paling lekat dengan perjalanan Fikar dalam merekam situasi Aceh.

Perjalanan tersebut mendapat penghargaan dari Pemerintah Aceh beberapa tahun kemudian. Pada tahun 2009, Fikar menerima Anugerah Syah Alam, penghargaan kepada seniman yang berjasa melestarikan serta mengembangkan seni, adat, dan budaya Aceh.

"Saya melihatnya itu sebagai bentuk apresiasi terhadap keterlibatan saya di dunia sastra. Saya menilainya sebagai bentuk apresiasi dan saya mengucapkan terima kasih atas apresiasi terhadap karya buku saya, Rencong," ujarnya.

Setelah perdamaian Aceh tercapai pada tahun 2005, tema yang dibawa Fikar dalam karya-karyanya perlahan berubah. Jika sebelumnya puisinya banyak merekam konflik dan keresahan masyarakat, ia kemudian lebih banyak berbicara tentang budaya, lingkungan, dan kopi.

Perubahan itu juga terlihat dalam antologi keduanya yang terbit pada 2015, "Sepiring Mie Aceh, Secangkir Kopi Gayo, Bertalam Giyok Nagan". Lewat karya tersebut, Fikar membawa pembaca lebih dekat pada kekayaan budaya dan kehidupan masyarakat Aceh melalui sajian kata-kata yang dekat dengan keseharian.

Kopi Gayo kemudian menjadi salah satu tema yang semakin kuat dalam perjalanan keseniannya. Kedekatan itu tidak terlepas dari masa kecilnya di tengah keluarga petani kopi dan pengalaman panjang melihat kehidupan masyarakat di dataran tinggi Gayo.

Bagi Fikar, kopi bukan sekadar hasil perkebunan yang diperjualbelikan. Di balik secangkir kopi, ada kehidupan petani, budaya, lingkungan, dan harapan agar masyarakat Gayo dapat memperoleh kesejahteraan yang lebih baik.

Seniman asal Takengon, Aceh, Fikar W Eda saat membacakan syair di Gedung RRI Jakarta, Kamis, 13 Agustus 2026. (Foto: RRI Net)

Seiring perubahan tema dalam karya-karyanya, identitas Aceh dan Gayo tidak pernah benar-benar ditinggalkan Fikar. Ia tetap membawa tradisi, bahasa, simbol, dan ingatan tentang tanah kelahirannya dalam berbagai aktivitas kesenian.

Salah satunya terlihat dari kebiasaannya memainkan Canang ketika membawakan syair di atas panggung. Canang merupakan alat bunyi tradisional masyarakat Gayo yang dahulu digunakan untuk menyampaikan pengumuman atau pemberitahuan kepada warga kampung.

Canang yang dikalungkan di lehernya seolah menjadi pengingat bahwa tradisi dari tanah kelahiran tetap ia bawa ke mana pun berkesenian. Di atas panggung, Fikar membawakan syair dengan penuh semangat, sementara canang menjadi bagian dari identitas budaya yang melekat dalam penampilannya.

"Di sana itu orang yang memukul Canang namanya Hariye. Dia berkeliling kampung untuk menyampaikan pengumuman atau pemberitahuan-pemberitahuan yang tertentu yang perlu diketahui oleh masyarakat kampung." katanya.

Kecintaan Fikar terhadap seni juga ia terapkan dalam cara mendampingi pendidikan anak-anaknya. Ia memasukkan ketiga anaknya mengikuti kursus musik, namun tidak pernah memaksakan mereka untuk meneruskan jalan hidup sebagai seniman.

Bagi Fikar, anak tetap memiliki kebebasan menentukan minat dan pilihan hidupnya sendiri. Menurutnya, pendidikan seni tidak selalu bertujuan melahirkan seniman, tetapi penting untuk membantu anak mengembangkan kepekaan, kreativitas, dan kemampuan mengenali dirinya.

Karena itu, seni ditempatkan sebagai bagian dari proses pendidikan dan pengembangan diri. Ia ingin anak-anaknya memperoleh pengalaman berkesenian, tetapi tetap bebas memilih bidang yang paling sesuai dengan minat dan kemampuan mereka.

"Soal mereka nanti berkiprah di musik, di seni ya itu urusan mereka, atau sama sekali, ya tak masalah juga. Tapi menurut saya pendidikan seni itu penting untuk pengembangan diri seseorang," ucap Fikar.

Dari hamparan kebun kopi di Takengon, Fikar tumbuh bersama tradisi, sastra, dan kehidupan masyarakat Gayo. Semua pengalaman itu kemudian berpadu menjadi karya yang merekam perjalanan Aceh dan suara masyarakat Gayo.

Kini, setelah melewati lebih dari setengah abad usia, Fikar tetap memilih seni sebagai jalan hidupnya. Syair menjadi cara baginya untuk menjaga ingatan, menyampaikan aspirasi, sekaligus tetap terhubung dengan tanah kelahirannya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....