Jangan Tunggu Sakit, CKG Dorong Masyarakat Kenali Kondisi Tubuh
- 09 Agt 2026 15:40 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) menjadi strategi pemerintah memperkuat upaya promotif dan preventif dalam sistem kesehatan nasional.
- Hingga akhir 2025, 70 juta dari 73 juta masyarakat yang mendaftar CKG telah menjalani pemeriksaan di 10.588 fasilitas kesehatan yang tersebar di 38 provinsi.
- Masyarakat didorong mengubah kebiasaan dengan memeriksakan kesehatan secara rutin, menerapkan pola hidup sehat, dan menjalani pengobatan sesuai anjuran tenaga kesehatan.
SEHAT sering kali membuat seseorang merasa tidak perlu memeriksakan diri. Tidak ada keluhan, tidak ada rasa sakit, dan aktivitas sehari-hari berjalan seperti biasa. Namun, di balik kondisi yang tampak baik-baik saja, sejumlah penyakit justru dapat berkembang tanpa menunjukkan gejala pada tahap awal.
Hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, penyakit jantung hingga gangguan ginjal merupakan contoh penyakit yang kerap baru diketahui setelah memasuki kondisi serius. Karena itu, pemeriksaan kesehatan secara berkala menjadi bagian penting dari upaya menjaga kualitas hidup.
Pemerintah kini mendorong perubahan kebiasaan tersebut melalui Program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Program yang diluncurkan Presiden Prabowo Subianto pada 10 Februari 2025 itu menjadi bagian dari upaya menggeser orientasi pelayanan kesehatan nasional, dari yang sebelumnya lebih banyak berfokus pada pengobatan menuju penguatan promotif dan preventif.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan, respons masyarakat terhadap pelaksanaan CKG tahap pertama cukup positif. Hingga akhir 2025, program tersebut telah menjangkau 38 provinsi melalui 10.588 fasilitas kesehatan.
Dari 73 juta masyarakat yang mendaftar, sekitar 70 juta di antaranya telah menjalani pemeriksaan kesehatan. Capaian itu dinilai menjadi modal penting pemerintah untuk mengejar target peningkatan usia harapan hidup masyarakat Indonesia dari sekitar 72 tahun menjadi 76 tahun.
"Pak Presiden Prabowo menugaskan saya untuk bisa meningkatkan usia harapan hidup masyarakat Indonesia dari sebelumnya 72 tahun menjadi 76 tahun. Untuk bisa menaikkan usia harapan hidup tersebut, kita harus melihat kenapa banyak orang Indonesia wafat lebih dini," kata Budi dalam dialog Forum Merdeka Barat 9 (FMB9) bertajuk "Mewujudkan Kesehatan Merata untuk Rakyat Indonesia", Selasa, 21 Juli 2026 lalu.
Ketika Tubuh Terlihat Sehat
Tantangan terbesar dalam pencegahan penyakit bukan semata-mata menyediakan fasilitas kesehatan. Lebih dari itu, masyarakat perlu mengubah cara pandang terhadap kesehatan.
Selama ini, sebagian orang baru mendatangi fasilitas kesehatan ketika tubuh mulai terasa sakit. Padahal, sejumlah penyakit tidak menular (PTM) justru dapat berkembang tanpa gejala yang jelas. Menurut Budi, penyakit tidak menular seperti strok, penyakit jantung, kanker, dan gagal ginjal masih menjadi penyebab utama kematian di Indonesia.
Data Kementerian Kesehatan yang dipublikasikan 20 Februari 2025 menunjukkan hampir 75 persen kematian di Indonesia disebabkan oleh penyakit tidak menular. Penyakit kardiovaskular, termasuk serangan jantung dan strok, bahkan menyebabkan hampir 800 ribu kematian setiap tahun.
Karena itu, pemeriksaan sederhana seperti mengukur tekanan darah, gula darah, dan kolesterol menjadi penting. "Tiga penyakit itu sebenarnya bisa dicegah. Salah satu caranya adalah rajin cek kesehatan supaya kita tahu kondisi tubuh kita. Indikator yang paling 8 dilihat adalah tekanan darah, gula darah, dan kolesterol," ujar Budi.
Tiga pemeriksaan tersebut dapat memberikan gambaran awal mengenai risiko hipertensi, diabetes, penyakit jantung, strok, gagal ginjal, dan berbagai penyakit kronis lainnya.
Dengan mengetahui kondisi tubuh lebih awal, seseorang memiliki kesempatan untuk melakukan perubahan sebelum penyakit berkembang. Mulai dari memperbaiki pola makan, meningkatkan aktivitas fisik, berhenti merokok, menjaga waktu istirahat, hingga mendapatkan pengobatan bila diperlukan.
CKG Bukan Sekadar Cek
Pemerintah memastikan Program CKG tidak berhenti pada kegiatan skrining. Masyarakat yang ditemukan memiliki faktor risiko atau terdiagnosis penyakit tertentu akan mendapatkan tindak lanjut sesuai kondisi kesehatan.
Bentuknya dapat berupa edukasi perubahan gaya hidup, pemberian obat gratis, pemeriksaan lanjutan, hingga rujukan ke fasilitas kesehatan yang memiliki layanan lebih lengkap. "Tahun ini kami mulai kasih obatnya. Cek kesehatan dan pengobatan gratis dan juga ada rujukan untuk penyakit tertentu," kata Budi.
Dengan demikian, hasil pemeriksaan diharapkan tidak berhenti sebagai angka atau catatan dalam rekam medis. Temuan dari pemeriksaan harus menjadi pintu masuk untuk menentukan langkah kesehatan berikutnya.
Direktur RS Harapan Kita sekaligus Pakar Pendamping Kementerian Kesehatan, Dr. dr. Ariani Dewi Widodo, Sp.A(K), FISQua, mengatakan perubahan pola pikir masyarakat menjadi salah satu tantangan dalam pelaksanaan CKG. Menurutnya, masih ada masyarakat yang takut melakukan pemeriksaan karena khawatir mengetahui penyakit yang dideritanya.
Padahal, mengetahui kondisi kesehatan lebih awal justru memberikan kesempatan untuk mencegah penyakit berkembang menjadi lebih berat.
"Persepsinya harus dibetulkan dulu. Orang sering takut cek kesehatan karena takut ketahuan sakit. Justru dengan mengetahui sejak dini, kita bisa mencegah agar kondisinya tidak berkembang dari kuning menjadi merah, bahkan bisa kembali menjadi hijau," ujar Ariani.
Ia menegaskan, pengendalian penyakit kronis seperti hipertensi dan diabetes tidak cukup hanya mengandalkan obat. Perubahan gaya hidup tetap menjadi bagian penting dari pengobatan.
TB, Penyakit Lama yang Belum Selesai
Upaya pemerintah menjaga kesehatan masyarakat tidak hanya diarahkan pada penyakit tidak menular. Tuberkulosis atau TB juga masih menjadi pekerjaan besar.
Mengacu pada Global TB Report 2025, Indonesia masih menjadi negara dengan beban TB tertinggi kedua di dunia setelah India. Diperkirakan terdapat sekitar 1,08 juta kasus baru dan 125 ribu kematian akibat TB setiap tahun.
Besarnya angka tersebut membuat penemuan kasus secara cepat dan memastikan pasien menjalani pengobatan sampai tuntas menjadi sangat penting. Budi mengatakan, TB sebenarnya dapat disembuhkan apabila ditemukan lebih awal dan mendapatkan pengobatan yang tepat.
"Kalau ditemukan lebih cepat lalu minum obat, dalam sekitar satu bulan pasien sudah tidak menularkan lagi. Karena itu, kita harus menemukan sebanyak mungkin kasus agar segera diobati," ujarnya.
Pemerintah pun memperluas skrining TB melalui pengadaan sekitar 10 ribu alat rontgen dan perangkat PCR portabel. Peralatan tersebut akan ditempatkan hingga tingkat puskesmas sehingga pemeriksaan diharapkan semakin mudah dijangkau.
Di sisi lain, masyarakat juga diingatkan untuk tidak memberikan stigma kepada penderita TB. Stigma dapat membuat pasien takut memeriksakan diri atau bahkan menghentikan pengobatan sebelum waktunya. Dukungan keluarga menjadi bagian penting untuk memastikan pasien tetap disiplin menjalani terapi hingga tuntas.
Tak Lagi Harus ke Kota Besar
Pencegahan dan deteksi dini membutuhkan dukungan fasilitas kesehatan yang memadai. Karena itu, pemerintah juga memperkuat pemerataan layanan kesehatan di berbagai daerah.
Setelah menyelesaikan pembangunan 22 rumah sakit pada 2025, pemerintah mulai membangun 12 rumah sakit baru pada 2026. Pembangunan tersebut selanjutnya akan dilanjutkan dengan 20 rumah sakit tambahan.
Rumah sakit baru diprioritaskan untuk wilayah yang masih kekurangan layanan spesialistik. Fasilitas tersebut akan dilengkapi peralatan medis modern, mulai dari CT scan, mamografi, laboratorium kateterisasi jantung atau cath lab, hingga fasilitas pemeriksaan dan penanganan kanker.
Langkah itu diharapkan mengurangi ketimpangan akses kesehatan. Masyarakat di daerah tidak lagi harus selalu menempuh perjalanan jauh atau pergi ke kota besar untuk mendapatkan layanan medis tertentu.
Pemerataan fasilitas juga menjadi penting dalam penanganan penyakit kritis seperti stroke, penyakit jantung, dan kanker yang membutuhkan respons cepat serta layanan spesialistik.
Sehat Dimulai Sebelum Sakit
Program CKG, perluasan pengobatan, percepatan penanganan TB, dan pembangunan fasilitas kesehatan menjadi bagian dari upaya pemerintah membangun sistem kesehatan yang lebih kuat. Namun, keberhasilan upaya tersebut pada akhirnya juga bergantung pada perubahan perilaku masyarakat.
Kesehatan tidak seharusnya baru diperhatikan ketika tubuh mulai memberikan tanda. Pemeriksaan berkala, pola makan sehat, aktivitas fisik, istirahat cukup, menghindari rokok, serta kepatuhan menjalani pengobatan merupakan bagian dari investasi kesehatan jangka panjang.
Cek kesehatan pun bukan sekadar mencari tahu apakah seseorang sedang sakit. Lebih jauh, pemeriksaan menjadi cara untuk mengenali kondisi tubuh ketika masih ada kesempatan untuk melakukan perubahan.
Sebab, mencegah penyakit berkembang menjadi lebih berat selalu memberi peluang yang lebih besar untuk hidup sehat, produktif, dan berkualitas. Dan terkadang, langkah untuk memperpanjang usia harapan hidup memang dimulai dari sesuatu yang sederhana: berani memeriksakan diri sebelum merasa sakit.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....